(Al Quran Berkata Tentang Geologi, bagian 1)
“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, dia Maha Teliti apa yang kamu kerjakan”. An Naml (27:88)
Gunung yang berjalan? Apa kata para sahabat Rasulullah SAW selain sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami taat) atau membenarkan ketika mendengar ayat ini? Tentunya pemahaman tentang ilmu gunung maupun geologi saat itu belum mampu menjelaskan fenomena sunnatullah ini. Selama 1300 tahun ayat ini masih tertutupi oleh ketidaktahuan manusia.
Meski ayat ini diletakkan setelah ayat yang berhubungan kejadian Hari Kiamat, namun (menurut hemat penulis) ayat ini tidak berkaitan dengan kejadian Hari Kiamat. Karena di akhir ayat dijelaskan bahwa ayat ini sedang bercerita bagaimana Allah menciptakan sesuatu (proses). Berbeda dengan ayat Ath-thur (52:10) “dan gunung berjalan” dan Al Kahfi (18:47) “dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia) dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka”. Kedua ayat ini jelas menjelaskan kejadian Hari Kiamat. Kata “nusayyiru” dan “tasiiru” memiliki akar kata yang sama yaitu
, yang berarti pergi (dzahaba), untuk jarak jauh, berkelanjutan dan banyak. Dan
artinya mengeluarkan atau menampakkan [Lisanul Arab:3/2169]. Sehingga dalam Al-Kahfi 47 dan Ath-Thur 10 bisa diartikan gunung bergerak/berjalan benar-benar diluar ekspektasi, acak, karena dikeluarkan dari tempatnya, atau tercabut.
Sedangkan pada ayat An Naml 88 di atas menggunakan kata “tamurru”. Kata
berarti lewat (ijtâza), bergerak, pergi (dzahaba) [Ibnu Manzhur [abu al-Fadhl Muhammad bin Makram W. 711 H], Lisan al-Arab, Cairo: Dar al-Hadits, 2003 M-1423 H, Jilid VI, hlm 4174]. Jadi, dalam An Naml 88 bisa diartikan “gunung itu bergerak, berjalan, bergeser melewati tempat biasanya atau teratur”.
Bisa dilihat kan perbedaannya? Yang di An Naml menunjukkan suatu proses (geologi) sedangkan yang di Ath Thut 10 dan Al Kahfi 47 menunjukkan kejadian seketika (Kiamat).
Proses Geologi Gunung/Benua
Kata “gunung” atau “jibaal” disini berlaku untuk gunung api (volcano) ataupun gunung non berapi yaitu suatu morfologi bumi yang sangat tinggi dan terjal. Ayat ini mampu menjelaskan keberjalanan gunung api seperti Gunung Eyjafjallajokull di Islandia (jadi teringat Inter vs Barcelona di semifinal UCL 2010/2011!
), Gunung Mauna Loa di Hawai sampai Gunung Merapi di Pulau Jawa ataupun menjelaskan keberjalanan Gunung (Puncak) Jayawijaya dan Himalaya yang sesungguhnya merupakan hasil dari tumbukan dua mega-lempeng membentuk anjakan-lipatan yang menjulang sangat tinggi.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (geologi, oceanografi, geodesi, biologi, dll) serta citra satelit menunjukkan bumi sebenarnya terbelah-belah menjadi beberapa lempeng (litosfer), dimana lempeng-lempeng (bersifat rigid) tersebut sesungguhnya beralaskan zat yang bersifat liquid atau “cair” (astenosfer atau mantel atas). Lebih jelasnya lihat gambar di bawah.
Gambar 2. Permukaan Bumi yang "Terbelah-belah" Read the rest of this entry »
Tags: Alquran, Benua, Geologi, Gunung, Muhammad SAW, Sains, Tektonik
Dari dulu saya suka persaingan atau kompetisi. Waktu SD, saya suka bersaing dengan teman-teman untuk merebut ranking nomer satu di kelas. Atau bahkan sekedar bersaing dalam hal adu cepat menjawab pertanyaan guru IPS (yang waktu itu sering sekali memberikan pertanyaan pengetahuan umum) atau bahkan bersaing ketika olah raga lari mengelilingi kompleks sekolah. Atau bahkan lagi, dalam hal bermain benteng-bentengan atau kelereng. Semuanya saya lakukan dengan serius seperti dalam suatu kompetisi sungguhan. Ada perasaan dan motivasi untuk selalu ingin menang atau untuk tidak kalah melawan lawan yang lebih jago.
Hal itu berlanjut terus. Sering saya ikut lomba, mulai dari yang saya merasa kompeten di dalamnya sampai yang sekedar ingin mengukur kemampuan diri sampai sejauh mana. Di SD saya seringnya ikut lomba cerdas cermat, pelajar teladan, sampai lomba baca Al-quran tingkat SD, yang saya pun tahu lawan-lawannya adalah anak-anak MadrasahIbtidaiyah, yang kemungkinan kecil saya menang. Waktu SMP, saya malah pernah ikut lomba baca puisi di sekolah, entah kerasukan apa saat itu. Hasilnya tentu saja saya kalah,bahkan untuk mengucapkan salam saja belepotan dan ditertawakan penonton, hehehe.Persaingan ranking 1 di SMP waktu itu sulit sekali, saya hanya mampu 1 kali meraihnya ketika kelas 3 cawu 2. Selainnya, tenggelam di bawah sahabat saya sendiri. Read the rest of this entry »
Menjadi penikmat (sekaligus pemain, yg skill-less sayangnya) sepakbola tentu mengalami pahit manisnya dalam menyaksikan sekaligus menjadi penggemar sebuah tim atau negara. Saya sudah “menyukai” permainan ini sejak kelas 5 SD atau tahun 1993, dimana waktu itu teman-teman seumuran sedang menggandrungi Doraemon, Ksatria Baja Hitam, sampai serial MacGyver dan Knightrider. “Menyukai” dalam artian menonton, mengikuti beritanya di media massa, dan hafal (bukan menyengaja menghafal) nama-nama pemain, warna kaos tim, dll. Kalau sekedar menonton, itu sudah satu tahun sebelumnya, yaitu ketika Euro 1992, ketika itu di TV (waktu itu cuma TVRI) cuma menampilkan Liga Jerman (itupun hilite-nya setiap sabtu sore). So, waktu itu tim jagoan saya Bayern Munchen sepaket dengan timnas Jerman. Ketika Jerman dikalahkan Denmark di final Euro 1992 Swedia, saya masih belum merasakan sedih karena hanya sebatas mengenal.
Namun, seiring dengan seringnya membaca media massa, tim jagoan saya pun berubah yaitu AC Milan dan Timnas Italia (lagi-lagi sepaket negara-klub!). Waktu itu ayah berlangganan koran Kompas, dan sering membeli tabloid Bola ketika mengantar ibu ke pasar di hari minggu, serta pernah ada liputan AC Milan di majalah kesayangan saya waktu SD, Bobo (siapa ga kenal majalah ini?). Waktu itu (seingat saya) belum ada yang menayangkan Liga Italia di TV. Tapi TVRI punya hilite-nya setiap sabtu sore dan minggu siang, plus tayangan Champions League. Jadi, saya “resmi” menjadi Milanisti sejak 1993.
Berikut lima pertandingan yang berakhir sad ending bagi saya, dengan alasan-alasan pribadi tentunya, dari sekian banyak pertandingan yang telah saya tonton.
1. AC Milan vs Marseille 0-1, Final Champions League 1993
Entah pertandingan AC Milan mana yang saya tonton pertama kali, namun yang paling berkesan di awal justru ketika kalah 0-1 melawan Marseille. Proses golnya pun masih membekas, yaitu dari cornerkick Basile Boli lalu disundul Abedi Pele, dan gol (apa terbalik ya pemainnya, pokoknya keduanya berkulit hitam). Saya lupa siapa saja pemain AC Milan di pertandingan itu, tapi yang saya ingat ada nama Marco van Basten (kalau tidak salah, ini salah satu pertandingan terakhirnya sebelum cedera panjang dan pensiun dini, CMIIW) dan Jan Pierre Papin. Berikut cuplikan pertandingan tersebut:
Pertandingan ini saya tonton bersama bapak di rumah, setelah sehari sebelumnya saya berulang tahun yang ke-10. Menjadi berkesan karena justru karena kekalahan ini, saya jadi malah suka AC Milan. Besoknya ketika di sekolah, teman-teman sibuk bercerita tentang film semalam, saya tidak punya teman untuk bercerita tentang pertandingan semalam
. Read the rest of this entry »
Tags: AC Milan, Champions League, Liga Indonesia
Pada 11-12 Juli 2011 yang lalu, site tempat saya bertugas mendapat kunjungan dari 55 orang terdiri dari 49 mahasiswa Teknik Geologi Universitas Soedirman (Unsoed) dan sisanya dosen serta tamu dari PT Indika. Yang menjadi spesial di kita (saya dan teman-teman di site) adalah ini adalah kali pertama kunjungan berjumlah besar. Sebelumnya kita sering menerima kunjungan tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, tapi tidak sebanyak 50 an orang.
Acara bertajuk Ekskursi dan Site Visit ini diprakarsai oleh ANTAM, MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia atau SEG-nya Indonesia), dan Teknik Geologi Unsoed, dengan salah satu sponsor dari PT Indika Energy. Oleh karena baru pertama kalinya itu, persiapan pun luar biasa sibuk. Mulai dari mempersiapkan ijin untuk masuk ke area pertambangan PT. Cibaliung Sumber Daya, persiapan lokasi dan materi ekskursi geologi yang ideal, persiapan logistik, dan tentunya persiapan akomodasi karena mess Antam-Cibaliung hanya berkapasitas 40 orang, termasuk tamu maksimal 10 orang. Tentu saya tidak akan curhat tentang jungkir baliknya persiapan itu di sini, karena bukan itu inti tulisan ini.
Saya pribadi merasakan perasaan gembira dan bersemangat menyambut adik-adik (ciyee, berasa tua!!
) mahasiswa ke sini. Ketika mereka datang dengan berwajah lelah dan kusut setelah menempuh lebih dari 20 jam perjalanan (Purwokerto-Cibaliung), saya justru melihat semangat yang terpancar dari mata dan gesture mereka dalam mengikuti rangkaian acara setelahnya.
Kegiatan ekskursi lapangan di Cibeber dan Open Pit Cikoneng, Cibaliung
Tulisan ini disusun untuk mensosialisasikan salah satu aset berharga milik bangsa ini melalui perusahaan BUMN-nya PT Aneka Tambang TBk. Karena banyak yang masih belum mengetahui bahwa tambang emas milik negara sekarang sudah bukan lagi Cikotok (detik ini fasa pascatambang) dan Pongkor (fasa produksi). Kalau pihak swasta, tentu sangat banyak dan tersebar dari hampir semua pulau besar di Indonesia, kecuali Bali.
Kompleks Pertambangan Emas Cibaliung difoto dari udara
Pertambangan emas ini dikelola oleh PT Aneka Tambang Tbk melalui anak perusahaannya PT Cibaliung Sumber Daya. Berbeda kasus dengan Tambang Emas Pongkor atau Tambang Nikel Buli yang merupakan Unit Bisnis PT Antam. Cibaliung terletak secara administratif di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Lokasinya persis berbatasan dengan Taman Nasional Ujung Kulon.
Tags: Antam, Cibaliung, Eksplorasi, Emas, Geologi, Pandeglang, Tambang
Masih teringat pertandingan Real Madrid vs AC Milan di Estadio Bernabeu ketika dua gol Oezil dan Ronaldo membenamkan Milan malam itu. Di lapangan kita melihat pasukan lini tengah Milan bermaterikan Seedorf, Pirlo, Gattuso. Mereka adalah nama-nama jadul yang membawa Milan menjuarai UCL 2006/2007 bahkan UCL 2003/2004. Tidak mengherankan saat itu Oezil, Ronaldo, Di Maria, dan sederet pasukan muda El Galacticos mendominasi “pasukan tua” Milan.
Sebenarnya, dari musim ke musim Milan selalu berupaya untuk menyegarkan lini tengahnya. Tercatat nama-nama Johann Vogel, Emerson, Yohann Gourcuff, Flamini, dan masih ada beberapa. Namun nama-nama itu selalu tenggelam di bawah kuartet Pirlo-Seedorf-Gattuso-Ambrosini. Di musim 2010/2011 ini, Milan mencatatkan nama Kevin Prince Boateng dari Genoa. Dua pertandingan awal di Serie A menunjukkan Allegri, pelatih Milan, masih mempercayai kuartet tersebut di tim inti.
Namun, badai cedera beruntun di akhir Oktober ini yang memaksa Milan untuk menggusur patron kuartet midfielder tadi. Ketika kuartet tersebut dilanda cedera, di sinilah titik balik kebangkitan Milan musim ini. Milan hanya sekali kalah (ketika melawan AS Roma) di Serie A dan Copa Italia sejak awal November hingga akhir Januari 2011. Terhitung ada sebelas nama mengawal posisi centrocampista Milan hingga Januari 2011.
Flamini dan Boateng menjadi awal penyegaran di lini sentral Milan, ketika Gattuso, Pirlo, dan Ambrosini bergantian cedera di awal Oktober hingga Januari 2011. Hasilnya? Lini tengah Milan lebih bervariasi dan bertenaga berkat suntikan dua “box to box midfielder” ini. Demi menunjang ketajaman tridente Ibra-Pato-Robinho/Ronaldinho, Allegri tak segan untuk memainkan tiga gelandang angkut air. Kadang tiga gelandang plus seorang trequartista untuk menopang duo striker.








