Definisi singkat geometalurgi adalah sebagai berikut:

Adalah disiplin ilmu dari integrasi pendekatan analisa data geologi, perencanaan tambang, dan metalurgi (ekstraktif – pemrosesan bijih), yang menghasilkan informasi dan knowledge untuk optimasi profitabilitas sumberdaya mineral. (David, 2013)

Secara bahasa sederhana, definisi geometalurgi sudah saya bahas di tulisan berikut dua tahun lalu: http://gayuh.putranto.net/2014/12/18/geometallurgy/

Sedangkan di tulisan ini, mari kita coba melangkah beyond geometallurgy. Melalui pendekatan geometalurgi, implikasi yang lebih luas bisa kita peroleh, di hampir setiap tahap penambangan (sebagian sudah ditulis di blog sebelumnya) dan beberapa aplikasi supporting-nya, semisal untuk manajemen by-products and waste materials dan bahkan manajemen energi. Disini, kita batasi saja geometalurgi di lingkup eksplorasi, namun sekali lagi beyond.

Recently, teknologi pertambangan, harus diakui, tidaklah berkembang semaju industri lain, semisal informasi teknologi. Malah umumnya industri tambang mengutilitas teknologi dari industri lain, semisal: drone dan online reporting. Belum ada lagi game changer yang mengubah dramatis wajah industri ini, semisal dikembangkannya teknologi CIL (Carbon in Leach – yang mengubah wajah produksi emas dunia saat itu) dan Heap Leach (teknologi murah untuk tipe bijih emas oksida kadar rendah – sehingga deposit berukuran marjinal bisa menjadi economically fisible).

Mari kita fokus sejenak ke kalimat bergaris bawah di atas itu. Benar bahwasanya discovery, apalagi di Indonesia, semakin menurun secara kuantiti dan kualiti. Lihat grafik di bawah ini.

Grafik jumlah discovery di Indonesia [Minex Consulting - Bandung, Oktober 2016]

Grafik tren discovery di Indonesia [Minex Consulting – Bandung, Oktober 2016]

Penyebabnya kompleks, benang ruwet antara “moratorium” perijinan pertambangan (lebih tepatnya kehutanan), resesi finansial global yang berkausa langsung dropnya harga komoditas, perijinan-legal yang ruwet (IUP, otonomi daerah, tumpang tindih, dsb), termasuk larangan ekspor konsentrat bijih dan masih banyak.

Di era modern ini, aktivitas eksplorasi bijih di Indonesia sudah dimulai sejak Orde Baru, yaitu awal 1970-an, utamanya oleh perusahaan asing. Hasilnya, banyak discovery tubuh-tubuh mineralisasi tersebar merata di penjuru nusantara. Sebagian sudah advanced dan masuk fasa eksploitasi, namun tidak sedikit yang berstatus kurang ekonomis, konsekuensinya masih belum ditambang.

Geometallurgy: Geology - Blockmodel - Mine Planning - Metallurgy

Perhitungan kelayakan ekonomis tentu melibatkan hitungan rumit dari analisa-analisa teknikal: mineralisasi – perencanaan tambang – pengolahan, menggunakan sejumlah asumsi teknikal. Disinilah pendekatan geometalurgi modern bisa berperan. Tiga faktor tersebut bisa didekati dengan sejumlah pemodelan-optimasi dari pemahaman tubuh bijih (orebody knowledge) yang baru. Lebih jauh, beberapa “optimasi” parameter-parameter geometalurgi bisa digunakan, semisal:

  1. Pemetaan struktur-struktur geologi yang lebih detil (dibantu geomodeling software terbaru) bisa menghasilkan pemodelan 3-dimensi bond work index yang lebih akurat (zona patahan – shear umumnya berkomposisi pecahan-hancuran batuan namun kadang kadar clay lebih tinggi). Termasuk zonasi pelapukan dalam yang dikontrol oleh struktur. Sehingga, bijih-bijih yang lebih lunak bisa dilokalisir. Ini bisa membantu menurunkan komponen biaya grinding yang memang tinggi atau malah biaya drilling-blasting.
  2. Scheduling penambangan didasarkan pada model-model 3-dimensi sifat geometalurgi batuan, sehingga dapat mengurangi biaya konsumsi energi total. Pun di dalamnya bisa mempengaruhi pemilihan teknologi/alat tambang, semisal: articulated dump truck vs haul truck, tracked vehicles vs trackless.
  3. Lanjutan dari nomor 2 di atas, scheduling tersebut bisa berimpak pada strategi blending dan stockpiling yang lebih selaras dengan sekuen tambang. Strategi ini, lebih jauh, bisa berdampak ke pemilihan teknologi pengolahan, penggunaan material pengolahan, dan strategi pengolahan. Tentu ini semua berujung ke perbaikan hitungan NPV.

Masih banyak optimasi parameter-parameter geometalurgi yang bisa digunakan dalam rangka memperbesar NPV, baik dalam mengurangi biaya-biaya operasional maupun permodalan awal.  Ujungnya, bisa digenerate “new orebody discoveries”, dari deposit-deposit dengan sumberdaya marjinal atau kadar yang rendah tersebut, yang semula dianggap tidak layak ekonomis.

 

Disclaimer: “re-discovery” menggunakan tanda seru, bukan arti literalnya. Namun lebih ke dibangkitkannya lagi sebuah deposit lama.

—————

Kembali sejenak ke isu “moratorium” perijinan eksplorasi yang sempat disinggung di atas, bahwa pemerintah tidak lagi merilis ijin baru untuk usaha eksplorasi pertambangan. Consequently, geolog-geolog eksplorasionis dalam dasawarsa ini (ya, hampir 10 tahun!) terkotak-kotak dalam IUP atau Kontrak Karya itu saja. Malah ratusan bahkan ribuan IUP ditarik kembali. Geolog era dasawarsa ini tidak menikmati jaman keemasan eksplorasi, seperti masa 70-80-an dimana geolog terlibat dari fasa awal eksplorasi, yakni dari desktop study (corat-coret peta regional – tektonik – stratigrafi – volkanostratigrafi – afinitas magma – struktur regional), masuk ke due diligent – reconnaissance sambil stream sediment samplingpan concentrate di sungai-sungai, sambil regional mapping. Dilanjut ke eksplorasi yang lebih detil. Perfect job, isn’t it! ;)

Oleh karena itu, pendekatan geometalurgi yang telah diurai-singkat di tulisan ini semoga menjadi setetes inspirasi jika kotak-kotak yang dikantongi geolog-geolog tersebut dirasa sudah dry alias tidak berprospek ekonomis lagi. Mari dibuka data-data lama. Mari eksploitasi lagi data-data tersebut dengan pendekatan geometalurgi yang lebih broad ini. Banyak parameter geometalurgi yang bisa diutilisasi, dengan rumus baru, software baru, tool baru, konsep baru, dan tentunya semangat baru, untuk RE-DISCOVERY. Semangat!

 

Referensi:
  • David, D., 2013. “Geometallurgical Guidelines for Miners, Geologists and Process Engineers – Discovery to Design”. The 2nd AUSIMM International Geometallurgy Conference.
  • Dunham, S. et. al., 2011. “Beyond Geometallurgy – Gaining Competitive Advantage by Exploiting the Broad View of Geometallurgy”. The 1st AUSIMM International Geometallurgy Conference.

 

Tags: , , , , , , , , ,

Gayuh Putranto on October 14th, 2015

Dalam dua hari terakhir, saya mendapat pertanyaan dari istri dan kakak perempuan saya. Simpel, “Memangnya sekarang sedang krisis ya? Krisis apa sih?” Mereka menengok fakta saudara dan teman di-PHK oleh perusahaannya, satunya bank swasta, satunya lagi perusahaan jasa arsitektur. Mungkin dua pertanyaan tersebut juga membalut akal beberapa dari kita.

Namun, beberapa pekan kemarin, ada meme tentang jumlah tiket Bon Jovi yang ludes sekejap padahal harganya jutaan rupiah serta panggung Indonesia Motor Show 2015 yang sukses beromset 1,5 trilyun hasil penjualan nyaris 5000 kendaraan selama event berlangsung. Jadi, krisis di sebelah mananya?

Cermati beberapa fakta sebagai berikut, sebagai bukti bahwa dunia memang sedang krisis.

Dalam bahasa sederhana nan renyah, alur krisis ekonomi ini dapat dinarasikan sbb.

Di sekitar ujung dasawarsa pertama milenium ketiga ini, banyak negara, termasuk negara-negara besar mengalami kegagalan finansial. Atau kalau mau menyebutnya sebagai kebangkrutan. Dua kejadian besar yaitu skandal subprime mortgage di AS, gagal bayar hutang oleh negara-negara maju Eropa seperti Yunani (yang paling parah) serta Spanyol dan Italia. Ditambah lagi aksi brutal Rusia ke Ukraina yang berkausa diembargonya ekonomi Beruang Merah tsb. Read the rest of this entry »

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Gayuh Putranto on October 13th, 2015

Kemacetan Jakarta perlu dibereskan tidak hanya dengan cara-cara textbook, tapi juga outbox. Lewat tulisan ini, saya mencoba sharing apa yang ada di kepala hasil kristalisasi kejutekan saat bermacet-macetan tiap pagi dan sore setahun terakhir. Barangkali Pak Ahok iseng-iseng browsing dan mampir, silakan dicoba alternatif solusi berikut, Pak! :)

 

1. Aplikasi kontrol sosial terhadap kendaraan umum yang melanggar lalin.

Kopaja dan angkot ngetem adalah masalah klasik sejak jaman Firaun. Kemarin-kemarin Ahok menerapkan denda maksimal untuk aksi ngetem. Tapi, nihil! Termasuk juga ide mengempesi ban kendaraan yang parkir sembarangan. Tapi semua itu terbentur sumberdaya manusia yang terbatas, akibatnya razia tidak bisa dilakukan setiap hari dan jangkauannya sempit.

Solusinya? Di era 2.0 ini, biarkan society yang bekerja (baca: menghukumnya). Buatkan media untuk mengakomodir. Siapkan perangkat hukumannya!

Konkritnya sbb: Pemda buatkan aplikasi media sosial untuk menampung dokumentasi (foto atau video) aktivitas ngetem yang memperlihatkan plat nomor atau nomor lambungnya. Lalu buat aturan semisal 1 angkot dengan 3 dokumentasi ngetem akan didenda dan 10 dokumentasi ngetem akan disita negara! On the other hand, pengirim teraktif bulanan berhak mendapat hadiah dari Pemda. Cool!

 

2. Target tilang polantas DKI Jakarta

Setiap akhir tahun, Polda (atau Polri mungkin) punya program intensif selama 7-14 hari razia kelengkapan kendaraan bermotor. Terbukti pada saat itu, lalin menjadi lebih lengang dibanding hari-hari biasa. Di sisi lain, di kanan kiri kita sangat mudah menjumpai kawan, saudara, atau kolega yang tidak melengkapi kendaraannya dengan STNK, SIM, atau sekedar spion.

So, saya usulkan bahwa tiap polisi jalan raya dibekali KPI (key performance index) menilang sejumlah pelanggaran per satuan waktu. Misal, 25 surat tilang per pekan. Sebenarnya hal ini sangat mudah, asalkan polisi tsb tidak ngendon di seputar Thamrin-Senayan saja. Coba blusukan 5 km saja ke Palmerah, Tanabang, atau Manggarai. Atau lebih jauh di pinggiran Jakarta. Dua orang polisi dalam sejam disana pagi hari bisa menjaring puluhan pelanggaran, utamanya helm dan lampu motor. Jangan lupa rewards bagi polisi yang menjadi top scorer tiap periodenya.

Saya yakin, pengguna motor (pihak yang paling banyak melanggar secara statistik) akan turun drastis, otherwise, Samsat akan penuh dengan aplikasi SIM dan STNK. Pemasukan negara tentunya, kan?!

 

3. Tol bertingkat

Jalan tol yang sudah lewat masa ekonomisnya (break even point) perlu dikembalikan ke pemerintah dan penggunanya bisa melaluinya dengan gratis. Tapi, di atas jalan tersebut lantas dibangun jalan tol dengan ukuran lebar yang sama sebagai jalan tol baru.

Contoh konkretnya, tol dalam kota. Tol yang dibangun pada periode 1987-1996 ini harusnya sudah dibuatkan bertingkat dari Cawang hingga Pluit dan berbayar tentunya. Tol yang existing sekarang dibebaskan untuk pengguna jalan. Ini akan sangat membantu kelancaran ruas-ruas jalan yang menyuplai volume kendaraan ke dalamnya, seperti Sudirman, Rasuna Said, Pejompongan, Supomo Tebet, dll. Pengguna jalan di Jakarta pasti mafhum bahwa ada setitik poin macet pada jam produktif, semisal kecelakaan lalin, efek macetnya berimbas bisa sampai dengan radius 10 km. Sebaliknya, jika sepanjang Cawang-Pluit tsb super lancar, efek lancar ini bisa berimbas lebih luas lagi.

 

Itu dulu yang ada di kepala. Nanti akan ditambah seiring jam terbang di jam macet pagi dan sore hari :(

Tags: , , ,

Gayuh Putranto on October 13th, 2015

Senin, 12 Oktober 2015, Kementrian Pertahanan merilis pernyataan resmi tentang implementasi sebuah program baru bernama BELA NEGARA. Program sejenis WAJIB MILITER ini bertujuan untuk membentuk kader bela negara dan menyiapkannya untuk menghadapi ancaman militer dan nonmiliter yang menyinggung kedaulatan bangsa.

Baca lebih lengkap di Hot Topic Republika dan Liputan Khusus Kompas.com

Program ini berupa pelatihan selama 30 hari diasramakan di dalam barak-barak militer setempat. Pemerintah menargetkan 100 juta kader bela negara, atau sekitar 1/3 dari populasi NKRI. Wow! Ini akan mengangkat marwah dan redefining positioning bangsa kita di hadapan internasional!

CTOU: http://sigitpanducahyono.blogspot.com

Pro dan kontra mengiringi program terobosan ini. Dalam konteks nasionalisme, program ini wajib didukung oleh segenap warga negara. Kita sudah mencermati degradasi kebangsaan melanda negeri ini di multilevelnya, dari yang anak-anak hingga yang tua, dari pengguna jalan raya hingga pimpinan DPR, dari suku dominan hingga suku minoritas, yang kaya pun yang miskin, dll.

Kali ini saya menyorot point of view yang berbeda, yaitu maskulinitas. Di satu sisi yang lain, banyak tayangan televisi pada prime time maupun tidak yang menyajikan tokoh yang kebanci-bancian, lelaki yang berpakaian dan berdandan layaknya wanita, termasuk di dalamnya boyband yang menari-nari dengan mengenakan V-neck berbedak tebal dsj membuat kita semua muak. Jika dahulu banci adalah aib, sekarang banci bisa jadi dianggap sebagai jalan menuju popularitas dan kekayaan. Saya concern generasi muda sekarang beranggapan seperti itu.

Saya paham bahwa dunia semakin menuju Venus. Era film Hollywood beraktor gagah dan muscular (era Arnold Schwarzenegger) sudah pudar menjadi aktor cute berambut licin (era di Caprio). Era pemain sepak bola yang tidak memedulikan penampilan berkumis tebal berambut berantakan (era Maradona dan Franco Baresi) bergeser menajdi era pesepak bola berambut trendy dan mengkilat (era Beckham dan CR7).

Note, sebelum semakin bingung, baca buku best seller Men are from Mars, Women are from Venus! Atau baca buku Marketing in Venus karya Hermawan Kertajaya!

Lelaki semakin meninggalkan (karakter) Planet Mars-nya. Lelaki kini lebih tertarik mengungsi ke (karakter) Planet Venus. Tapi di Indonesia, Venus mengalami overdosis. Mengarah ke Merkurius, jangan-jangan!

Era Godbless dan Jamrud (rock and metal music) boleh saja berganti Sheila on 7 dan D’Massiv (easy pop). Tapi keterlaluan bin kebablasan sampai ada boyband beradegan tarian cenat-cenut sambil menyingkap dadanya yang ditutupi baju model V-neck!

Era pembawa acara yang smart dan elegan seperti Helmi dan Tantowi Yahya bergeser menjadi banci-banci yang cerewet yang skill-nya hanya mengolok-olok dan mempermalukan dirinya sendiri.

Era remaja-remaja berbaju klub sepak bola mengantri untuk menonton sepak bola atau balapan berganti antrian remaja berbaju merah menenteng glowing stick (if you know what I mean :p ).

Jangan sampai lelaki-lelaki masa kini lebih mahir memilih pembersih wajah daripada memilih oli motornya. Jangan sampai lelaki-lelaki masa kini lebih jago berdandan daripada mendongkrak mobilnya. Jangan sampai lelaki-lelaki masa kini lebih suka berjoget-joget di atas panggung daripada berpeluh di lapangan olahraga atau hiking.

Maskulinitas sudah menjadi hal langka. Hal yang perlu menjadi ketakutan bersama. Bahwa bangsa ini ditegakkan dan dipertahankan dengan maskulinitas. Jutaan pejuang menunjukkan maskulinitasnya dengan melawan rasa takut dan menumpahkan darah dan keringat. Pattimura yang menunjukkan kejantanannya dengan maju ke hukuman gantung daripada menyerah mengakui eksistensi penjajah. Jendral Sudirman menunjukkan maskulinitasnya dengan memimpin perang gerilya mempertahankan kemerdekaan saat dirinya sakit TBC. Agus Salim dan Ir. Djuanda menunjukkan maskulinitasnya dengan berdiplomasi di arena internasional tentang kedaulatan NKRI. Kapten Tendean menunjukkan kejantanannya untuk menggantikan Jendral Nasution ketika disergap tentara G30S/PKI.

Back to business, dengan adanya program “maskulin” ini, saya berharap jutaan (agak berpikir panjang menulis kuantiti ini) lelaki Indonesia kembali menemukan jiwa maskulinitas atau kejantanannya. Bangsa ini harus dibangun dengan maskulinitas. Tempaan 30 hari di barak-barak militer dengan intensitas disiplin ketat berikut physical exercise-nya sangat diharapkan membentuk karakter maskulin para pesertanya.

Tags: , , , , , ,

Gayuh Putranto on August 22nd, 2015

Marriage and Social Media

Dalam seminggu ini, saya menjumpai dua kejadian yang mirip di social media, satu di Path, satunya di Whatsapp Group. Agak tidak tega saya mengunggah status dan quote-nya, namun intinya mereka menyindir suami sendiri. Satunya tentang masalah finansial, satunya tentang curhatan kelemahan suaminya.

Dua hal tadi memproduksi dua hal pula dalam logika saya.

Pertama, kepuasan macam apa yang diperoleh di batin seseorang (dalam hal ini istri tersebut) ketika sudah mempublikasikan kelemahan atau aib pasangannya di depan umum? Tidakkah dia mengkontemplasi andaikan hal tersebut dibalik bahwa aibnya dipajang di social media oleh pasangan tercintanya? Hubungan macam apa yang dilandasi oleh menang-menangan dalam menyakiti hati pasangan seperti itu? Kenapa tidak saja sekalian membicarakan aib pasangannya langsung ke orang-orang lain, toh efeknya sama saja?! Huh!

Pada akhirnya, dibutuhkan kedewasaan berfikir dan kebesaran jiwa yang lahir dari rasionalitas (dan rasa cinta, sebenarnya). Kasus seperti ini memang lebih sering dijumpai pada wanita atau istri. Wanita cenderung dikuasai oleh perasaan, otherwise laki-laki oleh rasionalitas. Rasionalitas tidak selalu menjadi trademark kaum Mars (baca: pria) namun sangat bisa dibangun pula pada diri kaum Venus (baca: wanita). Untuk itu, umumnya wanita senang hatinya bila mempunyai teman yang dapat berbagi kesulitannya, on the other hand, pria senang hatinya bila dapat memecahkan kesulitannya sendirian di guanya. Namun tetaplah salah jika social media digunakan sebagai papan publikasi curhatan masalah rumah tangga. Jika memang curhat sangat diperlukan untuk meringankan beban sang istri tersebut, curhatlah secara pribadi empat mata ke orang tepercaya dan sholih. Kalau tidak, silakan curhat berdua saja dengan Allah Sang Maha Pendengar. Itu yang terbaik.

Kepuasan macam apa yang diperoleh di batin seseorang ketika sudah mempublikasikan kelemahan atau aib pasangannya di depan umum?

Ada amalan para salafush-sholih di hari pertama pernikahan, yaitu sholat sunnah berjamaah berdua lalu sang suami membaca doa berikut:

??????????? ????? ?????????? ????????? ???????? ??? ??????????? ???????? ?????????? ???? ???? ???????? ??????? ??? ??????????? ????????

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau berikan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang engkau berikan kepadanya.” (HR. Abu Daud, hasan)

Saya tahunya amalan ini dari Novel Ayat-ayat Cinta-nya Kang Abik. Dan alhamdulillah mengamalkannya waktu itu. :)

Kedua, ada etika dalam menasehati (mungkin lebih tepatnya menyindir sambil menegur) seseorang, lebih-lebih itu adalah pasangan hidup sendiri. Orang yang memberikan nasehat kepada pribadi orang lain di depan umum, apalagi disertai hardikan atau kalimat yang kurang etis, adalah sama dengan menjatuhkan harga dirinya. Saya teringat ucapan Imam Asy-Syafii berikut yang sangat relevan dengan hal ini:

Sumber http://www.gaulfresh.com

“Pria sholih untuk wanita sholihah dan wanita sholihah untuk pria sholih”. Konsep sempurna dari Islam tentang suami istri (An Nur 26). Jika seumpama sesosok Ali bin Abi Thalib bernilai 90, maka Fathimah Azzahra pun bernilai 90. So, jika sang istri mengidamkan suaminya bernilai 80, dia pun harus bernilai 80 juga. Tidak ada suami yang ideal karena tidak ada pula istri yang ideal. Di saat dia mengkritisi suaminya yang menurutnya bernilai 45, misalnya, harusnya dia sadar juga bahwa dia pun bernilai 45 juga. Jadi, tidak ada alasan untuk mempublikasikan nilai 45 itu ke ranah publik. Itu analogi sederhananya, semoga make sense. Fair.

Indeed, pasangan hidup tersebut dia yang memilihnya dulu, sepaket antara kelebihan dan kekurangan. Manusia, bukan malaikat. Di sana indahnya saling menutupi dan memperbaiki kelemahan pasangan satu dengan yang lainnya.

Terakhir, sebuah studi ilmiah di Boston University menyebutkan bahwa dengan menggunakan social media secara sangat aktif adalah sebuah pertanda kuat bahwa seseorang sedang bermasalah dengan pasangan hidupnya. Yang boleh marah di internet hanyalah burung, yaitu Angry Bird, tidak ada Angry Wife. :D

Angry_Birds

Tags: , , , , , ,

Gayuh Putranto on June 10th, 2015

Gedung Bursa Efek Indonesia

Setahun terakhir ini benar-benar tahun finansial bagi saya pribadi. Beberapa financial milestone terukir (Halah, lebay bahasanya!). Kemarin Kamis, 4 Juni 2015, saya mengunjungi Gedung Bursa Efek Indonesia untuk mengikuti Sekolah Pasar Modal (level 1).

Kunjungan itu adalah undangan dari pihak BEI kepada Ikatan Ahli Geologi IndonesiaMasyarakat Geologi Ekonomi Indonesia dan PERHAPI, sebagai kelanjutan dari kerja sama IAGI-PERHAPI dengan BEI pada 11 Desember 2014. BEI menggandeng IAGI dan PERHAPI dalam rangka dua hal yaitu:

  1. pencatatan saham yang diterbitkan oleh perusahaan pertambangan mineral dan batubara. BEI secara resmi menunjuk IAGI dan PERHAPI sebagai pihak independen dalam menilai, mengevaluasi dan memonitoring emiten-emiten pertambangan dari sisi kompetensi teknis.
  2. pengembangan industri pertambangan mineral dan batubara di pasar modal Indonesia.

Di point nomor 2, BEI proaktif mengedukasi masyarakat, dalam hal ini mengundang stakeholder IAGI dan PERHAPI, tentang dunia pasar modal, melalui program rutinnya Sekolah Pasar Modal (SPM). Ketika SPM ini ditawarkan ke anggota IAGI-MGEI via milis economicgeology, hanya dalam waktu 2 jam kuota 30 orang terpenuhi. Untung saya masih sempat register japri ke sekretariat langsung. Rupanya para geologist sangat antusias terhadap pasar modal, tidak hanya pada singkapan batu! :)

BEI_01

Hall of Fame: Direksi Bursa Efek Indonesia

Pada hari H, saya datang sejam sebelum acara mulai. Selain karena habit ontime, saya merasa perlu untuk muter-muter BEI sebelum acara dimulai. Stay hungry stay foolish, kata Steve Jobs. Alhasil, saya bisa menjelajah galeri BEI. Satu yang menarik perhatian saya adalah papan hall of fame, memuat direksi PT BEI dari masa ke masa. Ternyata, ada seorang geologist yang penah menahkodai bursa efek ini, yaitu Dr. Cyril Noerhadi, periode 1996-1999. Saya jadi teringat waktu ospek himpunan GEA 2001, waktu itu senior memamerkan GEA-GEA “papan atas”, salah satunya Direktur Utama BEI tersebut. Beliau GEA angkatan 1979, malang melintang di dunia industri keuangan plus melanjutkan studi MBa di University of Houston. Pantes lah!

Masih menunggu jam 09.00, saya ngopi di kafe sebelah bersama rombongan anggota PERHAPI (karena belum ada anggota IAGI yang datang!). Anak-anak muda, angkatan 90-an mendominasi, mantap! Beberapa kabar update dunia pertambangan sempat dibahas, salah satunya pemecatan engineer dan geologist di beberapa konsultan dan perusahaan tambang.

Kelas dimulai pukul 09.05, dibuka oleh Ibu Ira Shintiya Rahayu, staf marketing PT BEI. Lalu disambung dengan sambutan perwakilan IAGI dan PERHAPI, dalam hal ini Pak Iwan Munadjat. Beliau me-refresh kembali hubungan baik IAGI (MGEI) PERHAPI dan BEI dengan beberapa milestone-nya dan memvitalisasinya agar terjalin hubungan timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak.

Materi pertama tentang dasar-dasar pasar modal. Istilah-istilah dasar finansial dan pasar modal serta payung-payung hukumnya diperkenalkan. Well, lumayan, menggenapi puzzle fondasi pengetahuan saya tentang itu, setelah sebelumnya hanya otodidak di depan laptop, di depan Bloomberg TV, dan pameran finansial.

Materi kedua tentang kepemilikan sekuritas dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Lucky me, di ujung materi saya mendapatkan doorprize pisau Macgyver karena sudah memiliki kartu AKSes, yang saya miliki sejak awal berinvestasi di portofolio reksadana sebelum berbasah-basah juga di saham (baca: Start Investasi Reksadana, Bismillah!). Sstt, ternyata hanya kurang dari 5 dari 40 orang yang hadir pernah berinvestasi di bursa efek!

Makan siang adalah networking time! Saatnya berkenalan dan mengobrol dengan banyak orang. Lumayan untuk menambah koleksi kartu nama serta memupuk network yang sudah ada.
BEI_02
Setelah lunch break, materinya adalah dari salah satu broker atau agen. Yang terpilih adalah Danareksa. Ssttt.. saya baru tahu kalau Danareksa itu BUMN. Petugas marketingnya memaparkan tentang investasi saham dan pengalamannya serta diselipi promosi produknya. Nothing special di materi ini. Apalagi dia di awal mengatakan bahwa Danareksa bukan broker terbaik, termasuk untuk urusan IT dan fee-nya, malah membocorkan bahwa yang terbaik nomor 2 adalah broker yang saya sudah pakai selama ini. Nah! Ada beberapa misleading dan misconcept dalam pemaparannya, seperti peran Manajer Investasi dalam membeli saham (OMG!?!) dan jenis reksadana yang katanya sangat banyak (lha wong cuma 4!). (Baca: Cara Memilih Reksadana)

Well, secara keseluruhan ajang ini berguna untuk saya pribadi dan rekan-rekan IAGI PERHAPI. Ke depan diharapkan sinergi yang lebih dalam lagi antara BEI dan IAGI PERHAPI sebagai organisasi profesional. Pun juga diharapkan bahwa semakin banyak perusahaan pertambangan, khususnya yang masih fasa studi kelayakan (eksplorasi lanjut), berani maju dan membuka diri dengan melantai atau ber-IPO (initial public offering) di bursa saham setelah mengikuti regulasi yang baru tersebut, yaitu kepemilikan status Ijin Usaha Pertambangan Operasi Produksi dari Kementrian ESDM (tentunya harus sudah lolos studi kelayakan dan AMDAL). Regulasi ini melunak, setelah sebelumnya BEI mewajibkan perusahaan pertambangan yang boleh listing adalah hanya yang sudah melakukan penjualan hasil produksi.

Beberapa pekan sebelum ini, dunia pertambangan ramai membicarakan PT Merdeka Copper Gold Tbk sebagai perusahaan pertambangan non-operasional pertama yang IPO. Sebelum ini, perusahaan pertambangan eksplorasi di Indonesia hanya bisa menangguk modal di bursa efek Australia, Kanada, dan lain-lain. Sekarang bisa bermain di kandang sendiri. Semoga banyak perusahaan yang menyusul IPO!

Salut untuk IAGI (MGEI) dan PERHAPI yang sudah berjuang untuk itu!

Tags: , , , , , , , , , ,