Restarting (deep) writing

Hits: 143

Untuk deep reading, konsekuensinya uninstall twitter. Sisa Linkedin, namun dari awal memang fungsinya lebih ke professional networking. Penting untuk karir dan personal development kalau ini. Let me take it for granted.

Pilihan untuk deep reading jatuh ke apps Medium versi premium. Medium adalah platform untuk membaca artikel  panjang (blog)versi premium, yang uniknya mempunyai semacam dewan editor. Artikel sortir editor akan muncul di timeline. Lalu dengan AI-nya, rekomendasi artikel akan muncul ke kita. Tampilannya putih bersih. Seperti google. Didesain untuk user fokus pada konten, bukan iklan. Free user dibatasi 3 artikel untuk dibaca per bulan. Jadi, bukan kaleng-kaleng siapa yang menulis dan membaca disini. Dua kali skip makan siang atau senilai $5 per bulan saya rasa worth ditukar dengan membership Medium ini. Deep reading. That’s it.

Satu lagi, deep reading tapi agak selow, saya jatuhkan pilihan ke apps The Athletic. Intinya, Medium versi sepak bola. Deep reading tapi santai.

Untuk deep writing, sempat kepikiran untuk menggunakan media umum. Pilihan ideal adalah Tumblr. Tidak perlu fokus menambah follower. Karena tujuan utama adalah menulis rutin. Titik Dari 1 tulisan per bulan sampai 1 tulisan per minggu. Apapun itu. Mulai dari pikiran kotor sampai strategic thinking sampai ke sains dan teknologi. Pas di Tumblr ada fitur untuk bersembunyi dari google.

Tapi setelah dipikir-pikir, kita butuh juga sekedar eksis di peradaban riil, terutama jika nanti sampai menulis tentang strategic dan iptek. Dan memang objectives dari deep writing ini ke arah sana. Menjadikan aktivitas menulis menjadi rutinitas biasa, bukan rutinitas luar biasa yang butuh effort luar biasa. Konten perlahan akan upgrading kualitasnya dengan sendirinya.

So, untuk eksis, pilihannya ada dengan develop blog mandiri dengan nama sendiri. Sempat struggle mencari inspirasi nama yang google-catching, untuk branding jangka panjang. Tapi ujung-ujungnya sebaik-baik branding adalah nama sendiri, yang kebetulan juga sudah lumayan google-catching (langka nama Gayuh, apalagi ditambah Nugroho Dwi Putranto 🙂 ). Blog ini sebenarnya sudah berusia 10 tahun, sejak 2009. Tapi sempat vacuum 2 tahun terakhir. Rasanya ini berhubungan dengan kesibukan kerja sebagai konsultan, yang sering tidak kenal jam kerja.

Tema deep writing ke depannya, insyaAllah, adalah tentang data (geo)science, advanced mineral resource, strategic thinking dunia industri pertambangan, dan seputarannya. Deep reading sudah diresultankan ke arah sana, termasuk subscription ke beberapa sumber informasi, seperti S&P Global, Ausimm, top-tier mining consultants, dll.

Selingan topik tentang keluarga-parenting islami insyaAllah akan tersaji juga, karena praktisi sehari-hari dengan 3 anak masih bocah-bocah kabeh. Hehe..

Terakhir, selain deep reading menjadi deep writing, ada juga deep learning. Dengan mempelajari map dan road map industri pertambangan di level global dan nasional, dari sudut pandang bisnis maupun sains, saya memutuskan untuk menekuni dua ranah baru:

  1. Data science — sudah dimulai dengan online course tentang Python dan statistik, analitik, dan pemrogaman.
  2. Valuation — slowly started. Belum urgent. Perlahan mempelajari project valuation, mergers and acquisition, dan VALMIN.

Mengapa 2 hal itu? Bisa jadi dua artikel sendiri untuk mejelaskan reasoning itu. Kunfayakun!

2 comments On Restarting (deep) writing

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer