Restarting (deep) writing

Yak! Itulah social media. Start pensiun dini dari social media sudah mulai dari 2014 waktu gaduh Capres Jilid 1. Noise dan hoax. Instagram hanya terinstall hanya ketika mau upload gambar. Selebihnya uninstalled. Ga terlalu penting, sama seperti Path, ajang riya’ alias pamer makanan, baju, liburan. Sumpah ga penting. Hidup adalah senda gurau, benar?

Ada social media yang paling sulit disingkirkan dari hidup, yaitu Twitter, karena sedari awal memfungsikan twitter sebagai news and information line, bukan social networking. Follow selebtwit utk kepoin bacotan atau isi kepala mereka, bukan merk sepatu atau vacation-nya. Awal install twitter back in 2009, saya follow Najwa Shihab, Anies Baswedan (waktu itu masih Rektor Paramadina) sampai dengan Ulil dan Tifatul Sembiring.  
Beberapa kawan sempat saling follow, tapi jarang yg ‘istiqomah’ di twitter. Tenggelam oleh Path lalu Instagram dll.

Dengan social media, informasi dan knowledge sepenggal-penggal diberondong masuk ke otak kita. Seperti riak air hujan. Pun antara knowledge dan garbage bercampur aduk. Yang penting dan tidak penting berbaur. Resultannya, manusia yang tahu sedikit tentang banyak hal. Dangkal! Shallow, not deep! Air beriak tanda tak dalam.                                 

Photo by Thought Catalog on Unsplash

Pas awal Ramadhan kemarin, timeline bising dengan Covid. PSBB dan WFH, bikin banyak orang rebahan di rumah sambil socmed-an. Ditambah selebritas istana (terkenal dan punya fans/buzzer) pada blunder. Riuh! Meme, perang tagar, twitwar, sampai berantem beneran. Nah, untuk mengerem nafsu bacot mengalir ke jempol via twitter, saya (dengan berat hati) putuskan untuk pensiun dari twitter. Temporarily. Mudah-mudahan permanen. Ya, itu sangat sulit, Kamrad.

Mestakung, dari dulu, buku-buku yang saya koleksi sudah mengarahkan ke pilihan life style yang fokus. Di antara yang sangat berpengaruh adalah:

  1. Deep Work, karya Cal Newport. Mencuci otak kita bahwa selama ini kita hanya shallow working, menghasilkan karya kualitas semenjana atau rata-rata yang umum bisa lakukan. Inti dari deep work adalah fokus yang extraordinary tanpa terdistraksi dalam hal cognitively demanding task (kebalikan dari logistical-style task). Ada bab tersendiri tentang pensiun dari social media di bagian belakang.
  2. The Shallows. Nicholas Carr menjadi pemenang Pullitzer 2010, kategori buku non-fiksi. Tentang bagaimana manusia ‘bermetamorfosis’ akibat dunia digitali yang mengubah cara membaca berita, bermulti-tasking bahkan secara radikal (misal sambil menulis laporan kerja, chatting di whatsapp, dan mendengarkan podcast). Itu semua menghasilkan daya tahan rendah dalam fokus dan deep learning.

Ramadhan kemarin itu menjadi momentum yang ideal untuk kembali ke track. Ya, deep reading dan deep writing, instead of scrolling timeline (micro reading) and micro writing (update status, ngetwit).

Untuk deep reading, konsekuensinya uninstall twitter. Sisa Linkedin, namun dari awal memang fungsinya lebih ke professional networking. Penting untuk karir dan personal development kalau ini. Let me take it for granted.

Pilihan untuk deep reading jatuh ke apps Medium versi premium. Medium adalah platform untuk membaca artikel  panjang (blog)versi premium, yang uniknya mempunyai semacam dewan editor. Artikel sortir editor akan muncul di timeline. Lalu dengan AI-nya, rekomendasi artikel akan muncul ke kita. Tampilannya putih bersih. Seperti google. Didesain untuk user fokus pada konten, bukan iklan. Free user dibatasi 3 artikel untuk dibaca per bulan. Jadi, bukan kaleng-kaleng siapa yang menulis dan membaca disini. Dua kali skip makan siang atau senilai $5 per bulan saya rasa worth ditukar dengan membership Medium ini. Deep reading. That’s it.

Satu lagi, deep reading tapi agak selow, saya jatuhkan pilihan ke apps The Athletic. Intinya, Medium versi sepak bola. Deep reading tapi santai.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer