Politik Kantor (1)

Pada dasarnya, setiap kantor atau organisasi mempunyai sepotong drama politis di dalamnya. Benturan karakter personal. Kompetisi agenda-agenda. Persaingan pengaruh. Perebutan teritori. Dan lain-lain, you name it.

Those all can drive us crazy, meski kita mencoba tutup mata atau fokus sendiri get our own things done. Dan masalah sebenarnya adalah kita tidak mungkin bisa tutup mata terhadap itu. Betul kan? Kenapa? Karena kita tetap harus bekerja secara produktif dengan rekan kerja di kantor, meski situasinya menantang, demi tuntutan pekerjaan dan demi karir kita sendiri.

Nah! 😉

Tantangannya adalah BAGAIMANA kita berperforma produktif di kantor dengan seminimal mungkin menyeberang ke sisi gelap tersebut. Surviving the wave. Or even surfing the wave. Diawali kesadaran dan pemahaman bahwa ada dinamika ‘kekuasaan’ dan aturan-aturan tidak tertulis yang berlaku. Lalu bernavigasi dengan itu secara KONSTRUKTIF. Ingat, secara konstruktif! Politik tidak berarti harus ada cara-cara kotor. Nope! Ada konstruksi akhlak yang memagari perilaku kita sehari-sehari, termasuk di kantor, kan!?

Tulisan ini sepertinya bakal panjang. Tapi baiknya dibuat berseri saja, setuju? Ada banyak pengalaman dari 14 tahun bekerja di tujuh perusahaan (tidak termasuk freelancing/part-timing dan consulting ya). Namun, beberapa pointer dari perjalanan panjang tersebut bisa menyarikan beberapa poin sbb:

  • bagaimana membangun komunikasi-relationship dengan orang yang basically tidak cocok dengan kita
  • bagimana membangun inner circle (sekutu) yang produktif
  • bagimana mempertahankan resource (defensif, bukan ofensif)
  • bagimana tetap bergerak maju atau naik ke atas dengan terhormat
  • bagimana dealing with boss’ pet (you know what I mean, dont you?)
  • bagimana mengkonstruksi power games
  • bagimana berkolaborasi dengan rekan yang hyper-competitive.

    Namun, sangat mudah mengkambinghitamkan politik kantor sebagai wan-prestasi atau outlet dari rasa frustasi soerang karyawan. Padahal sesungguhnya akan bisa lebih efektif untuk menunggangi politik ini untuk get things done di kantor. Be positive! Sesungguhnya, kita bisa mengontrol lebih banyak hal daripada asumsi kita sendiri. Yang kita perlukan:

    • Observasi. Ketika seseorang di kantor tampak sedang memainkan kartu politiknya, kita sering berpikir bahwa kita tahu motifnya, namun sering juga kita ketinggalan. So, step back dan evaluasi lagi: hal apa lagi yg bisa ada di balik permainan itu? “Don’t be so naive”, itu kata seorang teman ke saya pada suatu kesempatan. Tapi terkadang, momen tsb bukanlah sesuatu yang perlu diseriusi.
    • Keep positive. Berusaha menghapus diri dari peta politik. Setiap orang di kantor membawa misi dan beban sendiri-sendiri. Mungkin juga apa yang kita asumsikan itu sebuah serangan personal ke kita malah sebenarnya nothing to do with us.
    • Tantangan. Kita harus akui, tidak semua konflik itu buruk. Butuh tantangan kompetisi seberat Champions League yang diisi klub juara liga se-Eropa untuk para superstar bola seperti CR7, Messi, Henry, dan Kaka mengeluarkan performa terbaiknya. Dan juga, bagaimana satu tim harus ‘dipaksa’ berkolaborasi kompak (meski kurang akur seperti Neymar – Mbappe – Messi) untuk menggapai tangga final. Sebuah tim dapat dan sering ‘naik kelas’ ketika menghadapi tantangan bersama.
    • Every man for himself. (Saya dapat quote ini dari serial LOST di 2006 dulu, and I like it). Tidak ada kata cengeng. Dan lembek. Meski medan laga tampak seperti tidak adil sekalipun. Tanggung jawab atas performa diri sendiri.
    • Stay cool, guys! Pihak seberang akan merasa menang setiap saat melihat diri kita panik. Never give them those satisfaction, and they’ll lose their power.

      Okay, let’s map the conflict within the wall. Then jump into each. And win it!

      1. Tantangan politik bersama bos

      Semua orang mempunyai atasan. Dengan berbagai karakter. Dan drama. (1) Ada bos yang menahan anggotanya. (2) Ada atasan yang mengkompetisikan antara anggota timnya. (3) Ada tipikal micro-managing manager. (4) Ada bos yang memfavoritkan seseorang sampai batas logis. (5) Atasan yang kurang inisiatif.

      2. Tantangan politik bersama partner/rekan kerja

      (5) Bagaimana menghadapi rekan sekerja yang hypercompetitive? (6) Atau seorang bully dalam dinamika formal. (7) Bagaimana jika kita berada di luar circle utama? (8) Atau seorang credit stealer?

      Semoga kita bisa bahas itu semua satu persatu dari 8 situasi tersebut di blog ini. Mau dimulai dari yang mana? 😉

      At the end of the day, kita harus me-manage konflik-konflik tersebut secara konstruktif, demi tercapainya tujuan organisasi. Butuh skill tersendiri dalam berinteraksi dalam situasi sulit dan orang yang sulit. Bahkan perlunya kita membangun aliansi dengan orang-orang yang tepat.

      You are not as powerless as you are feeling

      Gayuh Putranto, 2022

      Hits: 8

      Leave a reply:

      Your email address will not be published.

      Site Footer