Keturunan Yang Sempurna

Pernah pastinya kita bertemu dengan seorang pemuda yang bisa dikatakan “sempurna”. Dia pecinta Allah melalui Alquran-Nya, dia aktivis masjid, di sisi lain prestasi akademik berkibar, fisik yang tangguh, serta karakter kepemimpinan yang kuat. Itu semua bukan karakter tokoh fiktif. Saya pribadi, mempunyai beberapa teman yang bisa dimasukkan ke dalam semua variabel di atas tsb.
Adorable Muslim girl in classroom with her friends

Salah satu pertanyaan mendasarnya adalah, orang tua macam apa yang mampu menumbuhkan-mendidik keturunan sedahsyat itu. Setidaknya ada tiga hal fundamental dalam mengembangkan anak sedemikian itu.

  1. Cinta yang tulus. Orang tua yang tulus mencintai anaknya pasti tidak akan rela anaknya tersesat di dalam riuhnya duniawi, selain membekalinya dengan pemahaman ilmu agama yang kokoh. Dialog ketuhanan antara nabi atau sholihin kepada putra tercintanya banyak kita temui di shirah bahkan Alquran. Itu adalah dialog yang didasari oleh kecintaan orang tua terhadap Allah yang ditransformasikan ke darah dagingnya. Tidaklah orang tua mencintai keturunannya jika dia membiarkan mereka tenggelam dalam pusaran kenikmatan duniawi yang mempedayakan panca indera sesaat.
  2. Ilmu yang bernas dan teladan. Hakikat dari mendidik keturunan adalah mendidik diri sendiri sepanjang waktu. Isi kepala dan isi jiwa harus sering diinput ilmu dan iman. Semakin bertambahnya umur anak, ilmu mendidik keturunan tsb malah semakin banyak dibutuhkan untuk diserap sang orang tua. Dan akhirnya, biarkan keteladanan dari orang tua yang menghunjam di sanubari, akal dan jiwa sang anak, tanpa harus ada kata terucap.
  3. Pengorbanan dan jiwa besar. Detik ketika memulai babak menjadi orang tua adalah detik awal kita selesai dengan urusan remeh pribadi kita. Dengan jiwa besar, kedewasaan, dan keikhlasan, kita relakan alokasi waktu kita, missal yang semula untuk hobi, misalnya memancing, nonton film, dan bermain game, atau bahkan waktu untuk istirahat, digantikan untuk urusan mengurus dan mendidik anak. Tidak hanya butuh energi yang besar untuk ini, tapi juga endurance, yang itu adalah sepanjang umur kita.

Last but not least, semua itu kembali kepada Allah SWT, Sang Maha Berkehendak lagi Maha Pendidik. Tiga poin di atas adalah daya dan upaya manusia. Ujungnya, Allah yang menggariskan takdir anak-anak tersebut.

Untuk itu, senjata terakhir adalah doa. Ada satu doa untuk keturunan, yang kebetulan saya rutin membacanya sejak kelas 3 SMP. Artinya sangat mendalam, terutama di bagian ujungnya, yaitu “Jadikan kami sebagai imam orang-orang yang bertakwa”. Dahsyat bukan? Untuk mendapat predikat orang yang bertakwa saja sudah luar biasa, apalagi kita (orang tua dan sang anak) menjadi pemimpin mereka.

rab33Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqon:74)
Wallahu a’lam.

 

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: