Amanah vs Waktu

“Amanah itu lebih banyak jumlahnya daripada yang bisa kita hitung.”

Hari demi hari bergulir, rasanya seperti tiba-tiba usia sudah di medio 3 dekade. Rasanya baru kemarin menikah, sekarang sudah rutin pagi hari mengantar anak ke playgroup di pagi hari ketika cuti. Rasanya baru kemarin hari-hari menikmati di pusaran idealisme di kampus, sekarang mengayuh hidup di arus realitas yang tidak akan pernah ideal.

Usia bertambah layaknya deret ukur, amanah bertambah secepat deret hitung.

Terakhir kita bisa anteng dan enteng mungkin ketika kita masih bersekolah. Makanya kita masih sempat bermain, nongkrong, dan sebagainya. Amanah di pundak kita “terbatas”pada amanah seorang anak terhadap orang tua dan amanah sebagai seorang murid untuk berprestasi akademik. Meski tak sedikit yang keluar dari zona nyamannya dengan mengambil amanah lain, seperti amanah ketua organisasi sekolah atau organisasi kepemudaan di lingkungan. Jempol!

Sedikit ke belakang, dulu saya adalah gibol alias gila bola. Mungkin ada ratusan scenes dari laga big matches yang sampai sekarang masih menempel di kepala, sebagai hasil dari ratusan bahkan ribuan pertandingan yang sudah ditonton di TV. 🙁 Setelah menikah, seingat saya tidak ada 1 laga pun yang saya tonton full match, melainkan hanya highlite dan potongan pertandingan. 🙂

Detik ini, amanah yang bisa dihitung di pundak sementara ini:

Amanah sebagai anak yang harus totalitas membalas budi baik orang tua. Kebahagiaan seorang anak bisa membahagiakan orang tuanya. Meski mustahil membalas jasa orang tua, karena memang tidak akan pernah setara, namun setidaknya melayani orang tua menempuh masa tuanya dengan bahagia.

Amanah sebagai suami yang harus memimpin, mendidik, menyayangi, dan mengembangkan istri. Termasuk amanah sebagai ayah dari putra-putrinya. Hakikat imam dan pemimpin keluarga, setelah disadari dan direnungkan, adalah mendidik pribadi menjadi berjiwa besar serta sebagai mata air ilmu sekaligus pundak yang nyaman untuk semua anggota keluarga. Tegakah kita bahwa sholat jamaah di rumah kita imamnya cuma bisa bacanya Qulhu? Atau sangatlah merugi seorang anak yang ayahnya cuma ‘mulek’ di Qulhu. So, hafalan Alquran seorang ayah harus terus bertambah. Atau tegakah kita membiarkan orang lain yang mengajarkan baca alquran dan doa ke anak-anak kita? So, ayah harus sudah terlebih dahulu paham tajwid dan alokasikan waktu untuk mendidikkan itu ke mereka. Yak, pengalokasian waktu untuk keluarga itu juga bagian dari amanah seorang ayah, yang seringnya lebih enjoy dengan dunia profesional atau bisnisnya. Kewajiban juga bagi seorang suami untuk mendidik istri, menyiraminya dengan ilmu agama, menjadikan diri sebagai panutan bersikap di keluarga, dan mendampinginya dalam kondisi sulit. Sungguh, amanah rumah tangga ini sudah sangat berat.

Amanah sebagai profesional, yang dituntut untuk selalu berakselerasi mengembangkan diri di dalam rutinitas problem solving dan pekerjaan kantor. Jika pekerjaannya adalah rutinitas harian, karir bisa diakselerasi dengan melakukan pekerjaan yang sifatnya deep work. Tentu itu perlu extra effort. Misal, sebagai geologist yang bisa dibilang separuh engineer separuh scientist, salah satu contoh deep work adalah melakukan riset dari apa yang dilakukan di lapangan lalu menuliskannya ke sebuah scientific paper/journal dan mempublikasikannya. Belum lagi amanah sebagai seorang pimpinan di kantor untuk berempati dan aktif mengembangkan bawahannya.

Kebayang dulu BJ Habibie diamanahi jabatan kepala badan/instansi sampai berjumlah 30, seperti BPPT, BPIS, PT PAL, PT INKA, dll. Tidak heran dia pernah bercerita bahwa rerata jam tidurnya adalah 2-4 jam tiap harinya.

Amanah sebagai seorang hamba Allah, yang kita sudah dianugerahi kenikmatan umur, rizki, kesehatan, dan kebahagiaan. Sebenarnya, dengan spirit syukur saja, sudah jauh lebih dari cukup untuk alasan kita menghambakan diri, bertekuk lutut dan bersujud di hadapan-Nya setiap detik seumur hidup. Bayangkan jika kita lahir dengan sedikit error di katup jantung atau kornea mata atau tulang kaki, yang itu semua benar-benar di luar kontrol kita manusia termasuk dokter kandungan kita dulu, maka hidup kita akan menjadi tidak nyaman. Alhamdulillah wa syukurillah, semua detil itu tumbuh sempurna mulai dari janin hingga sekarang. Kewajiban bagi kita bahwa kualitas ibadah kita harus selalu mendaki. Jika dulu waktu kecil, sholat harus diseret-paksa, sekarang sudah menjadi kesadaran diri untuk melangkah ke masjid untuk berjamaah. Jika puasa Romadhon sudah rutin, maka waktunya merutinkan puasa sunnah senin-kamis. Ketika zakat fitrah sudah rutin, waktunya naik level ke rutinitas zakat mal, termasuk zakat profesi, sebelum menginjak shodaqoh-infaq yang sifatnya sunnah. Yang baru hafal 1 juz harus terus struggle menambah hafalan meski semakin berumur kekuatan pikir semakin lemah. Dst.

Introspeksi

Tidak akan cukup hosting ini untuk menuliskan setiap amanah yang ada di pundak kita saat ini dan ke depannya. Amanah sebagai warga negara, amanah sebagai warga RT, amanah sebagai pemakmur atau pengurus masjid, amanah sebagai bawahan terhadap atasan di kantor, vice versa, amanah sebagai seorang muslim yang wajib untuk amar ma’ruf nahi munkar, dan masih banyak lagi.

Indeed, hakikatnya manusia adalah makhluk multi-tasking, multi-amanah. Bersungguh-sungguh adalah satu-satunya cara untuk melakoninya satu-persatu. Dan produktivitas hidup adalah kuncinya. Kedewasaan adalah titik tolaknya. Tidak ada menit bahkan detik yang sia-sia. Setiap putaran waktu adalah kerja keras. Istirahatnya seorang yang beriman adalah ketika menginjakkan kakinya di taman surga.

“Andai bisa dibeli, waktu adalah benda yang paling laris di pasar, dibeli manusia untuk menyelesaikan amanah-amanahnya”

Jika kita sibuk dan habiskan waktu dengan hal-hal remeh temeh belaka, di ujungnya terdapat keterbengkalaian amanah-amanah besar untuk dirampungkan. Mari kita instrospeksi diri bersama, apakah kebiasaan-hobi-rutinitas harian kita adalah hal-hal sepele atau sudah menjadi bagian dari solusi menyelesaikan segunung amanah di bahu kita? Bahkan mungkin, hobi-hobi sepele itu justru disengaja untuk melenakan kita atau melarikan diri dari rasa terhimpit dan terdesak dari amanah-amanah tersebut? Jika kita sibuk mengisi ember dengan kerikil bahkan pasir, bongkah batu besar justru tidak bisa masuk ke dalam ember. Itu adalah analognya.

Jika kita sering terpaku di depan video games, masjid akan terasa jauh untuk didekati. Atau jika kita menikmati akivitas nongkrong, maka kita tidak akan pernah tahu nikmatnya candu berduaan dengan Sang Maha Pencinta, Allah SWT di keheningan malam. Atau jika kita lebih sering habiskan waktu di luar rumah, kita bisa jadi lalai akan bejibun amanah di dalam rumah atau nikmatnya bermain petak umpet dengan balita kita atau nyamannya berdiskusi visi keluarga dengan pasangan kita. Atau jika kita kecanduan menonton tayangan bola atau film di TV, kita bisa jadi lalai untuk amanah tubuh yang sehat untuk selalu dijaga dengan berolahraga. Atau jika kita setiap saat hanyut akan facebook dan instagram, kita akan sulit membaca buku-buku bermutu, dimana untaian ilmu dibahas tuntas di dalamnya. Tidak seperti di social media yang hanya membariskan kulit-kulit ilmu dan itupun bercampur dengan sampah. Catat! Mari kita evaluasi hobi dan kebiasaan kita.

Tidak seperti di social media yang hanya membariskan kulit-kulit ilmu dan itupun bercampur dengan sampah. Catat!

Akhir kata, hidup ini adalah kumpulan dari kepingan pilihan yang kita putuskan dan lakoni per waktu. Tidak semua bisa dilakoni paralel atau berdampingan. Amanah-amanah besar menanti dilakoni dan dituntaskan satu persatu per putaran waktu yang terus menggilas menuju akhir nafas yang sebentar lagi. Dan semua amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT sebagai pemberi amanah sejati.

Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashir.

La haula wa la quwwata illah billah al-‘aliyyil azhim.

Dan semua amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT sebagai penitip amanah sejatinya.

 

Jakarta, 22 Juni 2017 (ditulis di Bengkel KIA Tebet)

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: