Kolaborasi Riset Economic Geology

Pemberlakuan UU Minerba no 4/2009, yang salah satu item “kontroversial”-nya adalah smelter menimbulkan kegaduhan. Industri smelter bersifat padat modal, ditambah dan pasang surut resiko politik pertambangan. Sementara nantinya, keberlanjutan pasokan (feed) konsentrat membutuhkan kesinambungan discovery atau penemuan deposit baru, yang sesuai dengan karakter smelter.

Misalnya, produksi tembaga di dua raksasa Freeport dan Newmont diprediksi menurun di medio 2020-an. Sementara  smelter tembaga butuh feed yang stabil jangka panjang sampai nilai ekonomisnya tercapai. Artinya, di momen tersebut, satu industri tambang tembaga sudah harus siap untuk mengisi gap tersebut. Sementara, eksplorasi membutuhkan rerata 10 tahun untuk discovery ditambah 4 tahun konstruksi.

Sementara itu, tren kuantitas discovery di Indonesia justru malah melesu di millenium ketiga ini. Pun kualitasnya. Era discovery deposit raksasa berkesinambungan seperti Grasberg, Batuhijau, Kelian, dan Soroako justru malah stagnan dewasa ini. Pihak-pihak yang bertanggung jawab atas discovery tersebut justru malah top-tier international mining companies, yang satu persatu hengkang dari RI.

Sebuah discovery adalah satu kesuksesan dari sejumlah pekerjaan eksplorasi dan riset (plus support perusahaan). Riset dan pemahaman tentang model geologi, skup deposit maupun tektonik terus berkembang. Exploration tools terus berkembang. Exploration practices era discovery Batu Hijau, Pongkor, dan Grasberg mungkin sudah obsolete untuk banyak area, karena sudah pernah dilakukan. Jika dulu deposit-deposit berhasil di-discover secara “tradisional” karena memang sudah tersingkap di permukaan, sekarang geolog harus mulai memikirkan zona target baru, termasuk yang terkubur sangat dalam dan tertutup lapisan cover resen.

Penantang eksplorasi adalah pembiayaan. Pembiayaan eksplorasi di grassroot, apalagi di era harga komoditas anjlok dewasa ini, menuntut eksplorasi harus dilakukan secara jauh lebih efektif. Apalagi kecenderungannya adalah menggeser budget eksplorasi ke arah brownfield (area sekitar tambang), yang lebih berpeluang mendeteksi tambahan resource baru, ketimbang greenfield.

 

Balada geologi deposit bijih

Republik ini sudah mempunyai industri baja yang established sejak 1970 dan sangat bergantung padanya untuk pembangunan nasional (fisik). Namun sayangnya pasokan bahan bakunya diimpor. Memang, model-model geologi deposit besi yang berkadar tinggi, yang cocok untuk input pengolahan baja, sulit ditemukan di Indonesia. Model-model banded iron formation dengan kadar Fe >50% dan dengan tonase milyaran ton “untuk sementara” dianggap mustahil berada di Indonesia.

So, mari kita mengimpor besi!

Seharusnya ini menjadi challenge untuk para geolog dan akademisi berpikir outbox – meriset – menemukan model geologi baru deposit bijih besi yang cocok dengan setting tektonik di Nusantara dan terbukti.

Mustahil? Belum tentu. Beberapa publikasi tentang keberadaan deposit bijih besi sudah wira-wiri di jurnal-jurnal domestik. Cukup untuk menjadi pijakan untuk mengeksplor dan meriset jauh lebih advanced.

Seharusnya ini menjadi challenge untuk para geolog dan akademisi berpikir outbox – meriset – menemukan model geologi baru deposit bijih besi yang cocok dengan setting tektonik di Nusantara dan terbukti.

Hal lain, tentang tembaga. Geolog atau eksplorasionis deposit porphyry Cu-Au pasti sudah hafal di luar kepala model tipikal porphyry Lowell & Gilbert 1970. Sebuah kapsul terpotong yang “berselaput-selaput” dari dalam keluar menunjukkan zonasi alterasi dan mineralisasi. Masing-masing zonasi tersebut dicirikan mineral yang tipikal berikut warna khasnya. Namun, ketika di lapangan di dalam koridor nusantara, geologist kerap dibuat bingung karena apa yang dihadapi berbeda dengan textbook. Zona potassic yang ternyata tidak kemerahan, zonasi phyllic yang tidak radial sederhana dilingkupi prophylitic, dan zona argillicadvanced argillic yang ternyata melampar luas, dll.

Tidak mengherankan sebenarnya. Suatu model geologi, khususnya model deposit mineral, pasti dikontrol oleh setting tektonik regional dan setting geologi lokal. Model porphyry Batuhijau tidak menggunakan istilah zonasi tersebut, melainkan diganti dengan strong-biotite zone, feldspar-destructive zone, sericitic, dst. Zona potassic tidak berkembang seperti textbook yang digambarkan berwarna pinkish sebagai hasil pengayaan k-feldspar yang menggantikan plagioklas. Belum ada model geologi porphyry Cu “resmi” yang disepakati bersama akademisi kita untuk tipikal Indonesia dengan tectonic setting khas busur kepulauan.

Riset
On the other hand, riset-riset geologi mineral dan bijih di Indonesia masih belum berkontribusi banyak pada tataran science secara umum, inovasi, dan pengembangan teknologi. Lebih khusus lagi, riset tentang pentargetan dan pemvektoran dalam rangka discovery bijih masih jauh dari mumpuni, secara kualitas dan kuantitas. Dari sisi industri, volume riset dan inovasi pastinya volatile mengikuti harga komoditas. Ketika harga komoditas tinggi, industri leluasa membudgetkan untuk R&D yang melahirkan inovasi-inovasi. Inovasi tersebut yang akan membawa kesuksesan, dalam hal ini discovery. Ketika hampir separuh dekade terakhir kita mengalami penurunan harga komoditas, industri mineral pun mandul berinovasi dalam discovery.
Di sisi pemerintah dan akademik, riset-riset yang eksis belum teresultankan sesuai arah kebijakan nasional, dalam hal ini adalah kasus eksplorasi mineral. Padahal dana disana tidaklah sedikit. Sedangkan kebutuhan mineral mendesak. Belum ada riset tentang sistem mineralisasi tipikal Indonesia dalam kaitannya dengan footprints-nya dalam skala besar. Belum ada riset tentang pengembangan teknologi-teknologi yang mampu mendeteksi keberadaan maupun footprints deposit bijih secara lebih efektif (geokimia, geofisika, geometalurgi, dll).

Jelas ini merupakan suatu masalah di bidang economic geology, yang harus dipikul dan disolusikan bersama sebelum terlambat.

Kolaborasi
Jadi, saatnya sekarang riset dan inovasi eksplorasi tersebut dipikul bersama, antara industri mineral, akademisi, dan institusi pemerintah terkait (dalam hal ini bisa BPPT, Badan Geologi, LIPI, atau juga yang lain). Menjamurnya jurusan atau program studi geologi atau teknik geologi perlu diselaraskan kemanfaatannya. Sejumlah universitas dan institut bisa bekerja sama dengan industri mineral, baik itu industri pertambangan yang mapan maupun yang masih junior, konsultan, serta ventura. Kolaborasi antara universitas dan industri pertambangan terjalin sinergis terwujud dalam sebuah firma riset yang dilakoni oleh akademisi, dibiayai oleh industri, dan didukung penuh oleh pemerintah, termasuk institusi geologi nasional. Operasional firma kolaborator tersebut adalah adalah riset-riset ilmiah berkelanjutan untuk memecahkan permasalahan praktikal pada eksplorasi dan ekstraksi mineral yang sedang dan akan dihadapi negara dan dunia industri.

Operasional firma kolaborator tersebut adalah adalah riset-riset ilmiah berkelanjutan untuk memecahkan permasalahan praktikal pada eksplorasi dan ekstraksi mineral yang sedang dan akan dihadapi negara dan dunia industri.

Dalam operasionalnya, dilakukan juga training berkelanjutan, dalam berbagai format, pada generasi baru geosaintis dan industrialis. Di ujung bisnis ini, hasil-hasil riset inovatif tersebut dipublikasikan di level akademik yang tinggi serta dihantarkan ke mitra-mitra industri sebagai suatu added value yang aplikatif dan solutif.

Pada skema bisnis ini, terjalin simbiosis mutualisme pada ketiga pihak yang memberikan nilai tambah kepada proses eksplorasi, tanpa bergantung pada peningkatan substansial dalam budget eksplorasi.

 

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: