“Re-Discovery” dengan Eksploitasi Parameter Geometalurgi ke Deposit Lama

Definisi singkat geometalurgi adalah sebagai berikut:

Adalah disiplin ilmu dari integrasi pendekatan analisa data geologi, perencanaan tambang, dan metalurgi (ekstraktif – pemrosesan bijih), yang menghasilkan informasi dan knowledge untuk optimasi profitabilitas sumberdaya mineral. (David, 2013)

Secara bahasa sederhana, definisi geometalurgi sudah saya bahas di tulisan berikut dua tahun lalu: http://gayuh.putranto.net/2014/12/18/geometallurgy/

Sedangkan di tulisan ini, mari kita coba melangkah beyond geometallurgy. Melalui pendekatan geometalurgi, implikasi yang lebih luas bisa kita peroleh, di hampir setiap tahap penambangan (sebagian sudah ditulis di blog sebelumnya) dan beberapa aplikasi supporting-nya, semisal untuk manajemen by-products and waste materials dan bahkan manajemen energi. Disini, kita batasi saja geometalurgi di lingkup eksplorasi, namun sekali lagi beyond.

Recently, teknologi pertambangan, harus diakui, tidaklah berkembang semaju industri lain, semisal informasi teknologi. Malah umumnya industri tambang mengutilitas teknologi dari industri lain, semisal: drone dan online reporting. Belum ada lagi game changer yang mengubah dramatis wajah industri ini, semisal dikembangkannya teknologi CIL (Carbon in Leach – yang mengubah wajah produksi emas dunia saat itu) dan Heap Leach (teknologi murah untuk tipe bijih emas oksida kadar rendah – sehingga deposit berukuran marjinal bisa menjadi economically fisible).

Mari kita fokus sejenak ke kalimat bergaris bawah di atas itu. Benar bahwasanya discovery, apalagi di Indonesia, semakin menurun secara kuantiti dan kualiti. Lihat grafik di bawah ini.

Grafik jumlah discovery di Indonesia [Minex Consulting - Bandung, Oktober 2016]
Grafik tren discovery di Indonesia [Minex Consulting – Bandung, Oktober 2016]

Penyebabnya kompleks, benang ruwet antara “moratorium” perijinan pertambangan (lebih tepatnya kehutanan), resesi finansial global yang berkausa langsung dropnya harga komoditas, perijinan-legal yang ruwet (IUP, otonomi daerah, tumpang tindih, dsb), termasuk larangan ekspor konsentrat bijih dan masih banyak.

Di era modern ini, aktivitas eksplorasi bijih di Indonesia sudah dimulai sejak Orde Baru, yaitu awal 1970-an, utamanya oleh perusahaan asing. Hasilnya, banyak discovery tubuh-tubuh mineralisasi tersebar merata di penjuru nusantara. Sebagian sudah advanced dan masuk fasa eksploitasi, namun tidak sedikit yang berstatus kurang ekonomis, konsekuensinya masih belum ditambang.

Geometallurgy: Geology - Blockmodel - Mine Planning - Metallurgy

Perhitungan kelayakan ekonomis tentu melibatkan hitungan rumit dari analisa-analisa teknikal: mineralisasi – perencanaan tambang – pengolahan, menggunakan sejumlah asumsi teknikal. Disinilah pendekatan geometalurgi modern bisa berperan. Tiga faktor tersebut bisa didekati dengan sejumlah pemodelan-optimasi dari pemahaman tubuh bijih (orebody knowledge) yang baru. Lebih jauh, beberapa “optimasi” parameter-parameter geometalurgi bisa digunakan, semisal:

  1. Pemetaan struktur-struktur geologi yang lebih detil (dibantu geomodeling software terbaru) bisa menghasilkan pemodelan 3-dimensi bond work index yang lebih akurat (zona patahan – shear umumnya berkomposisi pecahan-hancuran batuan namun kadang kadar clay lebih tinggi). Termasuk zonasi pelapukan dalam yang dikontrol oleh struktur. Sehingga, bijih-bijih yang lebih lunak bisa dilokalisir. Ini bisa membantu menurunkan komponen biaya grinding yang memang tinggi atau malah biaya drilling-blasting.
  2. Scheduling penambangan didasarkan pada model-model 3-dimensi sifat geometalurgi batuan, sehingga dapat mengurangi biaya konsumsi energi total. Pun di dalamnya bisa mempengaruhi pemilihan teknologi/alat tambang, semisal: articulated dump truck vs haul truck, tracked vehicles vs trackless.
  3. Lanjutan dari nomor 2 di atas, scheduling tersebut bisa berimpak pada strategi blending dan stockpiling yang lebih selaras dengan sekuen tambang. Strategi ini, lebih jauh, bisa berdampak ke pemilihan teknologi pengolahan, penggunaan material pengolahan, dan strategi pengolahan. Tentu ini semua berujung ke perbaikan hitungan NPV.

Masih banyak optimasi parameter-parameter geometalurgi yang bisa digunakan dalam rangka memperbesar NPV, baik dalam mengurangi biaya-biaya operasional maupun permodalan awal.  Ujungnya, bisa digenerate “new orebody discoveries”, dari deposit-deposit dengan sumberdaya marjinal atau kadar yang rendah tersebut, yang semula dianggap tidak layak ekonomis.

 

Disclaimer: “re-discovery” menggunakan tanda seru, bukan arti literalnya. Namun lebih ke dibangkitkannya lagi sebuah deposit lama.

—————

Kembali sejenak ke isu “moratorium” perijinan eksplorasi yang sempat disinggung di atas, bahwa pemerintah tidak lagi merilis ijin baru untuk usaha eksplorasi pertambangan. Consequently, geolog-geolog eksplorasionis dalam dasawarsa ini (ya, hampir 10 tahun!) terkotak-kotak dalam IUP atau Kontrak Karya itu saja. Malah ratusan bahkan ribuan IUP ditarik kembali. Geolog era dasawarsa ini tidak menikmati jaman keemasan eksplorasi, seperti masa 70-80-an dimana geolog terlibat dari fasa awal eksplorasi, yakni dari desktop study (corat-coret peta regional – tektonik – stratigrafi – volkanostratigrafi – afinitas magma – struktur regional), masuk ke due diligent – reconnaissance sambil stream sediment samplingpan concentrate di sungai-sungai, sambil regional mapping. Dilanjut ke eksplorasi yang lebih detil. Perfect job, isn’t it! 😉

Oleh karena itu, pendekatan geometalurgi yang telah diurai-singkat di tulisan ini semoga menjadi setetes inspirasi jika kotak-kotak yang dikantongi geolog-geolog tersebut dirasa sudah dry alias tidak berprospek ekonomis lagi. Mari dibuka data-data lama. Mari eksploitasi lagi data-data tersebut dengan pendekatan geometalurgi yang lebih broad ini. Banyak parameter geometalurgi yang bisa diutilisasi, dengan rumus baru, software baru, tool baru, konsep baru, dan tentunya semangat baru, untuk RE-DISCOVERY. Semangat!

 

Referensi:
  • David, D., 2013. “Geometallurgical Guidelines for Miners, Geologists and Process Engineers – Discovery to Design”. The 2nd AUSIMM International Geometallurgy Conference.
  • Dunham, S. et. al., 2011. “Beyond Geometallurgy – Gaining Competitive Advantage by Exploiting the Broad View of Geometallurgy”. The 1st AUSIMM International Geometallurgy Conference.

 

One comment: On “Re-Discovery” dengan Eksploitasi Parameter Geometalurgi ke Deposit Lama

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: