Apakah Kita Sedang Krisis?

Dalam dua hari terakhir, saya mendapat pertanyaan dari istri dan kakak perempuan saya. Simpel, “Memangnya sekarang sedang krisis ya? Krisis apa sih?” Mereka menengok fakta saudara dan teman di-PHK oleh perusahaannya, satunya bank swasta, satunya lagi perusahaan jasa arsitektur. Mungkin dua pertanyaan tersebut juga membalut akal beberapa dari kita.

Namun, beberapa pekan kemarin, ada meme tentang jumlah tiket Bon Jovi yang ludes sekejap padahal harganya jutaan rupiah serta panggung Indonesia Motor Show 2015 yang sukses beromset 1,5 trilyun hasil penjualan nyaris 5000 kendaraan selama event berlangsung. Jadi, krisis di sebelah mananya?

Cermati beberapa fakta sebagai berikut, sebagai bukti bahwa dunia memang sedang krisis.

Dalam bahasa sederhana nan renyah, alur krisis ekonomi ini dapat dinarasikan sbb.

Di sekitar ujung dasawarsa pertama milenium ketiga ini, banyak negara, termasuk negara-negara besar mengalami kegagalan finansial. Atau kalau mau menyebutnya sebagai kebangkrutan. Dua kejadian besar yaitu skandal subprime mortgage di AS, gagal bayar hutang oleh negara-negara maju Eropa seperti Yunani (yang paling parah) serta Spanyol dan Italia. Ditambah lagi aksi brutal Rusia ke Ukraina yang berkausa diembargonya ekonomi Beruang Merah tsb.

“Yang krisis kan jauh di belahan bumi sono, jauh dari Indonesia!?”

Dalam dunia yang semakin flat (baca: globalisasi), jarak fisik dan sekat geografis menjadi sangat tidak signifikan. Apalagi ini menyangkut negara superpower AS. Pada 2008, terjadi kulminasi jutaan rakyat AS gagal bayar KPR (mortgage-nya), utamanya masyarakat kelas keduanya (subprime). Padahal, sistem kelembagaan KPR disana sangat rumit, karena menyangkut perbankan, lembaga finansial, dan asuransi yang kusut dan panjang. Jadi, ketika terjadi gagal bayar yang mengambrukkan satu institusi, terjadi efek domino skala luas.Akhirnya pemerintah turun tangan untuk menyuntikkan dana pemulihannya alias menalangi hutang KPR rakyat tersebut. Jumlahnya ribuan trilyun dollar.

Itu AS. Di negara lain, lain penyebab krisisnya. Intinya negara sedang berdiri di posisi harus menalangi atau membayar hutang yang sangat besar. Dalam teori ekonomi klasikal, di posisi seperti ini negara akan memberlakukan kebijakan fiskal (dan moneter) yang ketat. Gampangnya, kas negara harus tetap terjaga disamping harus membayar hutang. Caranya?

Menaikkan pajak, mengurangi belanja pemerintah seperti proyek-proyek pembangunan, termasuk mengurangi gaji pegawai negeri, memotong anggaran jaminan sosial, memangkas subsidi (misal subsidi harga bensin) adalah pilihan yang tidak terelakkan harus ditempuh pemerintah. Anyway, sampai sini sudah dong kan?

Selesai sampai sini? Tentu tidak!

Kausa dari pengetatan fiskal tsb, uang yang berputar akan menurun. Industri-industri akan melemah (akibat pajak, menurunnya jumlah proyek). Jutaan pegawai (rakyat) akan menurun pendapatannya sehingga menurun daya konsumsinya. Vice versa. Menurutnya daya konsumsi masyarakat (akibat tingginya pajak dan berkurangnya subsidi), menyebabkan produk industri lebih sedikit diserap daripada sebelumnya.

Jadi, tidak mengherankan kalau terjadi PHK di dunia industri. Sektor yang satu berpegangan dengan sektor lainnya, alias tidak ada yang luput dari krisis.

AS adalah pelabuhan bagi uang-uang dari seluruh dunia untuk diinvestasikan. Daya beli masyarakat AS sangat besar. Bermacam jenis simulasi kredit alias hutang berhasil di-engineered untuk itu. AS adalah penghutang terbesar di dunia. Kreditor raksasanya adalah China, India, dan Jepang. Singkatnya, Ketiga negara tersebut “meminjamkan uang” ke rakyat AS untuk memuaskan kebutuhannya, termasuk menjual produk domestiknya ke AS. Ketika ekonomi AS terperosok, dunia ikut terseret secara otomatis. Pun jangan lupa kejadian di Yunani dan Rusia yang kurang lebihnya sama, yaitu pemerintahnya harus membayar hutang besar atau kehilangan pendapatan berskala besar.

Di sisi lain, China sebagai ekportir terbesar untuk AS tentu terdampak juga. Aliran deras produk China ke AS menjadi terhambat. Efek keluarnya, impor komoditas masuk ke China dari negara-negara sekitar menjadi lemah, termasuk batubara, besi, nikel, dll.

Secara global, daya beli dunia menurun. Pabrik-pabrik menurunkan produksinya. Pemerintah-pemerintah menurunkan belanja pembangunannya. Konsumsi bahan bakar pun menurun. Hukum ekonomi klasik, “permintaan menurun, harga menurun”.

Harga (index) komoditas (biru gelap) belum pernah serendah ini sejak 1990.

Harga minyak dan batubara drop separuhnya dalam setahun terakhir. Pun demikian harga komoditas, seperti emas, nikel, tembaga, besi, dll. Di Indonesia, ratusan perusahaan pertambangan dan migas gulung tikar, utamanya tambang batubara, nikel, dan bauksit. Industri ini melingkarkan pengikut industri jasa yang sangat banyak, misalnya: katering, konsultan, sewa rig, rental mobil, rental alat berat, dll. Satu raksasa runtuh, jejaring simbiosisnya tersebut juga runtuh. Efek dominonya mengerikan. PHK tak bisa dihindarkan. Daya konsumsi drop drastis.

Di sektor lain, seperti manufaktur (mulai dari baju hingga mobil) yang padat karya mengalami nasib serupa. Banyak perusahaan bermodal asing (khususnya dari AS) sudah terlebih dahulu pulang kampung, menutup pabrik-pabriknya di Indonesia.

Jadi, mari kita eratkan ikat pinggang. Krisis bukan lagi di depan mata, akan tetapi sudah duduk manis di atas pundak kita. Kelola cash flow kita. Ingat, dalam keadaan krisis, cash is the king! Tak lupa kita asah empati kita di kiri kanan sekitar.

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: