Bela Negara dan Maskulinitas Bangsa

Senin, 12 Oktober 2015, Kementrian Pertahanan merilis pernyataan resmi tentang implementasi sebuah program baru bernama BELA NEGARA. Program sejenis WAJIB MILITER ini bertujuan untuk membentuk kader bela negara dan menyiapkannya untuk menghadapi ancaman militer dan nonmiliter yang menyinggung kedaulatan bangsa.

Baca lebih lengkap di Hot Topic Republika dan Liputan Khusus Kompas.com

Program ini berupa pelatihan selama 30 hari diasramakan di dalam barak-barak militer setempat. Pemerintah menargetkan 100 juta kader bela negara, atau sekitar 1/3 dari populasi NKRI. Wow! Ini akan mengangkat marwah dan redefining positioning bangsa kita di hadapan internasional!

CTOU: http://sigitpanducahyono.blogspot.com

Pro dan kontra mengiringi program terobosan ini. Dalam konteks nasionalisme, program ini wajib didukung oleh segenap warga negara. Kita sudah mencermati degradasi kebangsaan melanda negeri ini di multilevelnya, dari yang anak-anak hingga yang tua, dari pengguna jalan raya hingga pimpinan DPR, dari suku dominan hingga suku minoritas, yang kaya pun yang miskin, dll.

Kali ini saya menyorot point of view yang berbeda, yaitu maskulinitas. Di satu sisi yang lain, banyak tayangan televisi pada prime time maupun tidak yang menyajikan tokoh yang kebanci-bancian, lelaki yang berpakaian dan berdandan layaknya wanita, termasuk di dalamnya boyband yang menari-nari dengan mengenakan V-neck berbedak tebal dsj membuat kita semua muak. Jika dahulu banci adalah aib, sekarang banci bisa jadi dianggap sebagai jalan menuju popularitas dan kekayaan. Saya concern generasi muda sekarang beranggapan seperti itu.

Saya paham bahwa dunia semakin menuju Venus. Era film Hollywood beraktor gagah dan muscular (era Arnold Schwarzenegger) sudah pudar menjadi aktor cute berambut licin (era di Caprio). Era pemain sepak bola yang tidak memedulikan penampilan berkumis tebal berambut berantakan (era Maradona dan Franco Baresi) bergeser menajdi era pesepak bola berambut trendy dan mengkilat (era Beckham dan CR7).

Note, sebelum semakin bingung, baca buku best seller Men are from Mars, Women are from Venus! Atau baca buku Marketing in Venus karya Hermawan Kertajaya!

Lelaki semakin meninggalkan (karakter) Planet Mars-nya. Lelaki kini lebih tertarik mengungsi ke (karakter) Planet Venus. Tapi di Indonesia, Venus mengalami overdosis. Mengarah ke Merkurius, jangan-jangan!

Era Godbless dan Jamrud (rock and metal music) boleh saja berganti Sheila on 7 dan D’Massiv (easy pop). Tapi keterlaluan bin kebablasan sampai ada boyband beradegan tarian cenat-cenut sambil menyingkap dadanya yang ditutupi baju model V-neck!

Era pembawa acara yang smart dan elegan seperti Helmi dan Tantowi Yahya bergeser menjadi banci-banci yang cerewet yang skill-nya hanya mengolok-olok dan mempermalukan dirinya sendiri.

Era remaja-remaja berbaju klub sepak bola mengantri untuk menonton sepak bola atau balapan berganti antrian remaja berbaju merah menenteng glowing stick (if you know what I mean :p ).

Jangan sampai lelaki-lelaki masa kini lebih mahir memilih pembersih wajah daripada memilih oli motornya. Jangan sampai lelaki-lelaki masa kini lebih jago berdandan daripada mendongkrak mobilnya. Jangan sampai lelaki-lelaki masa kini lebih suka berjoget-joget di atas panggung daripada berpeluh di lapangan olahraga atau hiking.

Maskulinitas sudah menjadi hal langka. Hal yang perlu menjadi ketakutan bersama. Bahwa bangsa ini ditegakkan dan dipertahankan dengan maskulinitas. Jutaan pejuang menunjukkan maskulinitasnya dengan melawan rasa takut dan menumpahkan darah dan keringat. Pattimura yang menunjukkan kejantanannya dengan maju ke hukuman gantung daripada menyerah mengakui eksistensi penjajah. Jendral Sudirman menunjukkan maskulinitasnya dengan memimpin perang gerilya mempertahankan kemerdekaan saat dirinya sakit TBC. Agus Salim dan Ir. Djuanda menunjukkan maskulinitasnya dengan berdiplomasi di arena internasional tentang kedaulatan NKRI. Kapten Tendean menunjukkan kejantanannya untuk menggantikan Jendral Nasution ketika disergap tentara G30S/PKI.

Back to business, dengan adanya program “maskulin” ini, saya berharap jutaan (agak berpikir panjang menulis kuantiti ini) lelaki Indonesia kembali menemukan jiwa maskulinitas atau kejantanannya. Bangsa ini harus dibangun dengan maskulinitas. Tempaan 30 hari di barak-barak militer dengan intensitas disiplin ketat berikut physical exercise-nya sangat diharapkan membentuk karakter maskulin para pesertanya.

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: