Suami Istri, Social Media, dan Angry Bird

Marriage and Social Media

Dalam seminggu ini, saya menjumpai dua kejadian yang mirip di social media, satu di Path, satunya di Whatsapp Group. Agak tidak tega saya mengunggah status dan quote-nya, namun intinya mereka menyindir suami sendiri. Satunya tentang masalah finansial, satunya tentang curhatan kelemahan suaminya.

Dua hal tadi memproduksi dua hal pula dalam logika saya.

Pertama, kepuasan macam apa yang diperoleh di batin seseorang (dalam hal ini istri tersebut) ketika sudah mempublikasikan kelemahan atau aib pasangannya di depan umum? Tidakkah dia mengkontemplasi andaikan hal tersebut dibalik bahwa aibnya dipajang di social media oleh pasangan tercintanya? Hubungan macam apa yang dilandasi oleh menang-menangan dalam menyakiti hati pasangan seperti itu? Kenapa tidak saja sekalian membicarakan aib pasangannya langsung ke orang-orang lain, toh efeknya sama saja?! Huh!

Pada akhirnya, dibutuhkan kedewasaan berfikir dan kebesaran jiwa yang lahir dari rasionalitas (dan rasa cinta, sebenarnya). Kasus seperti ini memang lebih sering dijumpai pada wanita atau istri. Wanita cenderung dikuasai oleh perasaan, otherwise laki-laki oleh rasionalitas. Rasionalitas tidak selalu menjadi trademark kaum Mars (baca: pria) namun sangat bisa dibangun pula pada diri kaum Venus (baca: wanita). Untuk itu, umumnya wanita senang hatinya bila mempunyai teman yang dapat berbagi kesulitannya, on the other hand, pria senang hatinya bila dapat memecahkan kesulitannya sendirian di guanya. Namun tetaplah salah jika social media digunakan sebagai papan publikasi curhatan masalah rumah tangga. Jika memang curhat sangat diperlukan untuk meringankan beban sang istri tersebut, curhatlah secara pribadi empat mata ke orang tepercaya dan sholih. Kalau tidak, silakan curhat berdua saja dengan Allah Sang Maha Pendengar. Itu yang terbaik.

Kepuasan macam apa yang diperoleh di batin seseorang ketika sudah mempublikasikan kelemahan atau aib pasangannya di depan umum?

Ada amalan para salafush-sholih di hari pertama pernikahan, yaitu sholat sunnah berjamaah berdua lalu sang suami membaca doa berikut:

??????????? ????? ?????????? ????????? ???????? ??? ??????????? ???????? ?????????? ???? ???? ???????? ??????? ??? ??????????? ????????

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau berikan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang engkau berikan kepadanya.” (HR. Abu Daud, hasan)

Saya tahunya amalan ini dari Novel Ayat-ayat Cinta-nya Kang Abik. Dan alhamdulillah mengamalkannya waktu itu. 🙂

Kedua, ada etika dalam menasehati (mungkin lebih tepatnya menyindir sambil menegur) seseorang, lebih-lebih itu adalah pasangan hidup sendiri. Orang yang memberikan nasehat kepada pribadi orang lain di depan umum, apalagi disertai hardikan atau kalimat yang kurang etis, adalah sama dengan menjatuhkan harga dirinya. Saya teringat ucapan Imam Asy-Syafii berikut yang sangat relevan dengan hal ini:

Sumber http://www.gaulfresh.com

“Pria sholih untuk wanita sholihah dan wanita sholihah untuk pria sholih”. Konsep sempurna dari Islam tentang suami istri (An Nur 26). Jika seumpama sesosok Ali bin Abi Thalib bernilai 90, maka Fathimah Azzahra pun bernilai 90. So, jika sang istri mengidamkan suaminya bernilai 80, dia pun harus bernilai 80 juga. Tidak ada suami yang ideal karena tidak ada pula istri yang ideal. Di saat dia mengkritisi suaminya yang menurutnya bernilai 45, misalnya, harusnya dia sadar juga bahwa dia pun bernilai 45 juga. Jadi, tidak ada alasan untuk mempublikasikan nilai 45 itu ke ranah publik. Itu analogi sederhananya, semoga make sense. Fair.

Indeed, pasangan hidup tersebut dia yang memilihnya dulu, sepaket antara kelebihan dan kekurangan. Manusia, bukan malaikat. Di sana indahnya saling menutupi dan memperbaiki kelemahan pasangan satu dengan yang lainnya.

Terakhir, sebuah studi ilmiah di Boston University menyebutkan bahwa dengan menggunakan social media secara sangat aktif adalah sebuah pertanda kuat bahwa seseorang sedang bermasalah dengan pasangan hidupnya. Yang boleh marah di internet hanyalah burung, yaitu Angry Bird, tidak ada Angry Wife. 😀

Angry_Birds

One comment: On Suami Istri, Social Media, dan Angry Bird

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: