Bagaimana Memilih Reksadana Secara Praktis

2015-05-23 reksadana31
Di posting saya sebelumnya, saya sudah menceritakan kenapa harus berinvestasi ke dalam bentuk REKSADANA (selanjutnya disingkat RD). Namun kemudian, pertanyaan muncul dari beberapa teman yang membacanya, yaitu bagaimana memilih RD yang bagus. Saya lengkapi pertanyaannya, “bagaimana memilih RD yg bagus dan cocok”. Bagus belum berarti cocok. Case by case-nya pasti berbeda.

Misalnya, Joko ingin berinvestasi untuk rentang 2 tahun membeli motor seharga 15 juta. Artinya, RD yang bagus dan cocok adalah RD Pendapatan Tetap (FI) dan atau RD Seimbang (BF), yang relatif beresiko rendah untuk jangka waktu pendek. Jika dia menaruhnya di RD Saham (EF), meski bisa memperoleh kenaikan nilai yang signifikan tinggi, di sisi lain itu juga bisa berbalik turun, misalnya saat akhir pekan April 2015 kemarin. Hiks!

Sebelum memilah-milih-komparasi, mari kita sediakan datanya terlebih dahulu. Saya, pribadi, menemukan ada tiga website yang menyajikan data produk-produk RD dalam bentuk tabel, sehingga mudah dikomparasi dan di-sorting. Pertama, http://www.ipotfund.com, http://www.bareksa.com, dan http://www.infovesta.com. Di sana kita juga bisa memfilter untuk komparasi RD sejenis, misal RD Syariah saja, RD Saham (EF) saja, dll. serta tak lupa http://www.bloomberg.com untuk mengkomparasi RD dengan IHSG sebagai acuan kinerja RD.

Sebelum lebih lanjut, kita harus ingat bahwa urutan besaran imbal balik pada umumnya adalah sebagai berikut: RD Pasar Uang (MM) < FI < BF < EF. Itu juga berlaku untuk urutan resiko. Lebih jelasnya, sila pahami tabel berikut:
Jenis Reksadana
Setelah “senjatanya” siap, mari kita bertempur .. eh .. studi! 🙂

1. GOAL

So, penting di awal kita mengidentifikasi GOAL (1) dan TOLERANSI RESIKO-nya (2). Apakah bertujuan untuk perolehan modal jangka panjang atau lebih untuk tambahan pendapatan di saat ini? Apakah uangnya untuk membayar biaya sekolah/kuliah atau untuk simpanan dana pensiun nanti? Identifikasi goal ini sangat penting sebagai filter pertama dalam memilah ratusan produk RD berikutnya.

2. TOLERANSI RESIKO

Tolerasi resiko harus menjadi konsideran penting kita. Apakah kita sanggup menanggung dan siap mental jika terjadi penurunan dramatis nilai portofolionya – misal krisis moneter 1998 dan periode pekan terakhir April 2015 dimana investor asing ramai-ramai menarik investasinya di Bursa Efek Jakarta akibat publikasi data Q1 2015 – ? Jangan sampai kita berinvestasi namun malah menjadi susah tidur nyenyak di malam hari. 🙂 Identifikasi toleransi resiko ini menjadi sama pentingnya dengan identifikasi goal, maka ini menjadi filter kedua.

Asyiknya, resiko ini bisa “dikuantifikasi” atau dibaca dalam bentuk angka-angka parameter. Parameter sharpe dan drawdownSharpe ratio merupakan indikator yg memberikan perbandingan antara rata-rata return dengan resiko. Rata-rata return merupakan return rata-rata harian dalam suatu periode tertentu, sementara resiko diukur dari seberapa penyimpangan (standard deviation) atas return rata-rata tersebut.

Drawdown menggambarkan pergerakan pada saat NAV turun ke bawah yang terparah dalam periode yang ditentukan. Apabila nilainya 0,15 berarti tingkat penurunannya pada periode tertentu tersebut 15% dari nilai investasi awal.

Jadi jika kita ingin meminimalisir resiko, kita bisa memilih nilai sharpe yang terbesar positif dan nilai drawdown yang paling kecil nilainya. So pasti, urutan resiko adalah MM < FI < BF < EF.

Ada lagi parameter yang disebut alpha dan beta. Keduanya mengukur resiko RD terhadap pergerakan pasar. IMHO yak, kedua parameter ini lebih ribet dalam menerjemahkannya ke dalam bahasa kualitatif. Jadi, parameter sharpe dan drawdown sudah cukup untuk di nomor 2 ini.

 

3. PERFORMA

Nah, ini yang menarik sebenarnya! Tentunya dalam berinvestasi, kita ingin return yang semaksimal mungkin kan? 😉

Disini saya menggunakan parameter performa jangka pendek yaitu year to date dan jangka panjang yaitu 3-5 years. Kedua parameter ini berbentuk persentase kenaikan nilai NAV. Di sisi lain, untuk membandingkan kinerja antar RD, saya rekomendasikan menggunakan ipotfund.com, karena sangat simpel dalam mensortasi/mengurutkan banyak parameter.

8286364
Screenshot ipotfund yang menunjukkan daftar RD (syariah) dengan berbagai parameternya yang dengan mudah bisa disortasi sesuai kebutuhan.

Contoh gambar di bawah ini saya mensortasi year to date dan kenaikan 3 & 5 tahun dari urutan terbesar ke terkecil.  Kotak merah adalah highlight angka-angka terbesar. Untuk year to date, saya batasi di atas year to date IHSG (saat blog ini disusun adalah 2.14%). Lalu di sebelahnya adalah angka kenaikan 3 dan 5 tahun yang di-highlight 6 besar. Gampang kan jadinya untuk memilih mana RD yang harus dibeli? 😉

Dari screenshot di atas juga tampak bahwa ada beberapa RD baru yang punya performa bagus dalam short-term. Namun itu bukan jaminan dalam jangka panjangnya nanti. Kecuali jika anda adalah pialang jangka pendek. Tapi saya tidak merekomendasikannya. Hal seperti itu penuh spekulasi dan mendekati judi. Lagipula, lonjakan jangka pendek yang menarik investor untuk masuk berduyun-duyun bisa jadi membuat fund manager melakukan profit taking sejenak dan lalu re-investasi. Tentu ini menurunkan performa RD tersebut.

OOT: Ada yang unik disini, yaitu beberapa FI mengungguli EF dan BF. Kok bisa? Iya bisa, karena periode akhir April 2015 kemarin meluluhkan IHSG termasuk di dalamnya saham-saham unggulan yang menjadi alokasi EF dan BF. Sedangkan deposito tentunya lebih aman tidak terkena badai tersebut.

Lalu, kita bisa bandingkan dengan standar IHSG, sebagai cermin dari kinerja perekonomian nasional. Untuk ini saya menggunakan bloomberg.com untuk komparison. Di gambar di atas, saya membandingkan RD Cipta Syariah Equity (biru) vs IHSG (ungu) vs Unilever Indonesia (hijau muda). Di situ menunjukkan bahwa kinerja RD tersebut lebih baik dari kinerja IHSG. Artinya RD itu layak dikoleksi! 😉

Bloomberg Comparison
Di bloomberg.com kita bisa membandingkan performa RD vs IHSG vs Saham sekaligus

Sstt.. masih di tabel ipotfund tersebut, kita bisa mensortasi berdasarkan parameter drawdown dan sharpe, untuk kepentingan point 1 (Goal) dan 2 (Resiko) di atas. Praktis kan? 😉

Infovesta rd bareksa rdDi website bareksa dan infovesta (gambar di samping), mereka langsung memberikan kolom scoring atau star yang langsung menilai performa produk RD. Pilih saja yang banyak bintangnya, atau tinggi skornya. Gampang kan! Tapi ingat lagi, bagus belum tentu cocok dan sebaliknya. 😉
4. BIAYA TRANSAKSI

Di tabel ipotfund di atas, kita bisa lihat bahwa selisih performa antar RD adalah persentase yang kecil. So, disini biaya transaksi menjadi penting. Apa itu biaya transaksi?

Dalam membeli dan menjual RD, ada yang disebut subscription fee (biaya pembelian) dan redemption fee (biaya penjualan). Besarannya berkisar 0.50%-1.50%. Ada juga yang menerapkan per satuan waktu, artinya jika menjualnya kurang dari durasi sekian bulan atau tahun, si fund manager membebaskan biaya penjualan. Namun don’t worry be happy, banyak juga produk RD yang benar-benar free! Dan juga kadang tiap agen penjual RD (APRD) menerapkan fee yang berbeda-beda. So, kudu bisa pilih-pilih APRD yang pas!

 

5. FUND MANAGER dan ASSET UNDER MANAGEMENT

Last but not least, yaitu pemilihan fund manager. Jangan takut FM yang abal-abal (terkait legalitas), karena semua FM pasti sudah teregister dan diawasi oleh OJK. Untuk menguji performa FM, kita bisa melihatnya melalui parameter long-term ranking, yaitu 3 dan 5 tahunan, serta besaran dana yang dikelolanya (AUM – Asset Under Management). Semakin besar angka parameter itu, semakin berkualitas FM tersebut.

Dalam kasus keluarnya seorang investor besar dari suatu RD, performa RD akan berdampak signifikan besar dan itu pastinya mempengaruhi sisa investor di RD tersebut. So, semakin besar nilai AUM, resiko seperti ini dapat diminimalisir.

Memilih FM sekaligus RD yang baik dapat dengan mudah melihat awards yang diperolehnya. Gampang caranya untuk itu, tinggal googling dengan keywords “reksadana + awards/penghargaan”.

 

Akhir kata, observasi atas parameter-parameter yang telah dijelaskan di atas tentunya akan overlapping satu dengan yang lainnya. Suatu produk RD bernilai positif di parameter A dan B, namun kadang kurang memuaskan di parameter C dan D.

Sebuah popular quote mengatakan bahwa “there is no scientific way to choose tomorrow’s best funds today, so one should review the current selection every quarter or half yearly”.

2 comments: On Bagaimana Memilih Reksadana Secara Praktis

  • saya kurang mengerti mengenai tabel kuning paling atas. Di kolom jangka investasi bagian Reksadana saham (EF) : “jangka panjang (>5 thn).
    apakah maksudnya uang yg kita setorkan di saham sekarang, baru bisa dicairkan dlm 5 thn lagi?

    • Yang dimaksud dengan “jangka panjang (>5thn) itu adalah angka pertumbuhan investasi setelah 5 tahun.
      Kalau mencairkan reksadana bisa kapan saja, namun butuh waktu setidaknya 5 hati kerja.
      Semoga membantu! 😉

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: