Belajar dari Buku-buku Tentang Pendidikan Anak (Bagian 2)

Sambungan dari Bagian 1

  1. Segenggam Iman Anak Kita & Saat Berharga Untuk Anak Kita (M. Fauzil Adhim)

Fauzil Adhim booksDuet buku ini sangat bagus, berisi tentang bagaimana kita mengisi anak kita dengan gairah keimanan dan jiwa yang kokoh.  Buku ini memberi penekanan bagaimana kita sebagai orang tua mendapatkan ‘kekuatan’ awal untuk menjadikan masa kecil anak-anak sebagai masa yang paling berharga dengan membina kedekatan emosi, mencipta pola komunikasi dua arah untuk mengisi jiwa mereka. Kita harus komit tidak akan berpuas hati dengan hanya meningkatkan kemampuan kognitif anak-anak. “Cerdas dan terampil belumlah mencukupi. Mengagung-agungkan kreativitas bisa menjadi bumerang. Berlebih-lebih menjagokan bakat anak justeru berpeluang mendapatkan kekecewaan.”

Dimulai dari menjadi orang tua untuk anak kita; membekali jiwa anak kita; menghidupkan Al-Quran pada diri anak kita; sekedar cerdas belum mencukupi; dan menempa jiwa anak, menyempurnakan bekal masa depan.

  1. The Shallows (- Nicholas Carr)

2015-04-09 513be8XWyoLBuku ini penting dibaca di era Google dan Twitter dewasa ini. Poinnya adalah aksesibilitas manusia terhadap internet menyebabkan kedangkalan (shallowing) daya pikir manusia. Dalam sebuah interview, pencipta Iphone dan Ipad, Steve Jobs, bahkan berkata bahwa dirinya tidak akan mengenalkan anaknya terhadap produk-produk Apple temuannya. Pun dengan para petinggi Google, yang di dalam sebuah artikel tampak lebih memprioritaskan anak-anak mereka untuk bermain dengan pasir dan air ketimbang sibuk bermain dengan gadget canggih. Mereka berkata bahwa hanya perlu waktu 2 minggu untuk anak-anak jago mengoperasikan gadget dan teknologi informasi.

Namun, pertumbuhan otak harus diawali dan didasari oleh aktivitas motorik anak. Untuk itu, saya berkomitmen bahwa Syifa tidak akan diberikan gadget dan internet sampai dia berumur minimal 3 tahun, melainkan hanya dikenalkan secukupnya saja. Prioritas perkembangan Syifa adalah pertumbuhan syaraf-syaraf motoriknya dengan bergerak dan bergerak.

Buku ini finalis Pullitzer Prize 2011 kategori buku non-fiksi. Buku dengan topik mirip adalah Focus, oleh Daniel Goleman (familiar namanya kan? Ya iya lah, dia yang menggegerkan dunia dengan teori Emotional Quotient di medio 90-an). Namun menurut hemat saya, buku pertama lebih fokus, meski judulnya bukan “fokus”.

  1. Biografi Fathimah Azzahra bin Muhammad

Nama belakang Syifa adalah Azzahra, yang bukan tanpa tujuan melainkan supaya kelak dia meneladani keutamaan akhlak Fathimah Azzahra binti Muhammad SAW ini. Ini penting agar anak-anak sudah memiliki idola yang “sempurna” sedari dini sebelum nantinya dikenalkan dengan dunia luar beserta tokoh-tokohnya, baik tokoh nyata ataupun fiksi. Kisah-kisah Azzahra akan senantiasa akan hangat dihidangkan kepada anak melalui orang tuanya dalam kegiatan bercerita.

 

Selain buku, ada aplikasi software yang bagus untuk memonitor perkembangan anak sesuai standar per level umurnya dan day by day, yaitu WebMD Baby dan BabyCenter– Aplikasi Android. Jadinya, saya bisa mengarahkan perkembangan dan pertumbuhann Syifa untuk belajar sesuai porsi umurnya dan runut. Kerunutan ini yang penting. Orang tua harus aware tentang ini. Saya menjumpai dua kasus anak susah berbicara yang disebabkan karena perkembangan anak dari merayap hingga berjalan ternyata melewatkan fasa merangkak! Aplikasi gratis di Google Playstore ini memuat catatan harian untuk bayi, beserta tips dan informasi kesehatan dan psikologi bayi. Beberapa video juga termuat disana tentang tips-tipsnya.

Untuk sementara waktu, itulah ketujuh buku pokok panduan saya (dan istri tentunya) dalam mendidik dan mengasuh anak. Jika anda membaca tulisan ini dan mempunyai opini, saran buku bagus lainnya, atau pandangan berbeda, yuk diskusi di kolom comment di bawah ini. I will appreciate that very much. 😉

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: