Belajar dari Buku-buku Tentang Pendidikan Anak (Bagian 1)

Keluarga MuslimSeorang anak adalah bukan milik ayah dan ibunya. Anak adalah titipan Allah yang diamanahkan ke sesosok laki-laki dan perempuan berjuluk ayah dan ibu. Sangat tidak ringan amanah tersebut. Ruahnya kebahagiaan diri ketika menggendong dan mengajaknya bermain beririsan dengan bersitan kekhawatiran diri akan amanah berat bertajuk “mendidik anak”.

Terbayang di benak saya akan kisah Nabi Nuh (Alaihissalam) yang tidak mampu membimbing anak dan istrinya untuk beriman. Padahal level keimanan Beliau sangatlah tinggi, yang tidak akan mampu disamakan atau malah didekati oleh manusia sekarang. Tentu hal tersebut bukanlah kesalahan Beliau, namun kehendak Allah SWT agar dijadikan hikmah untuk generasi setelahnya. Wallahu a’lam.

Mendidik anak tidak sekedar membesarkannya dan menyekolahkannya. Orang tua memerlukan siraman ilmu yang mengalir untuk itu. Siapa sih orang tua yang tidak ingin mengajari sendiri anak-anaknya membaca dan mengaji, bukannya membayar orang lain untuk itu?

Ilmu mendidik anak bisa ditimba dari segala sumber, namun dalam blog ini, saya hendak berbagi pengalaman tentang buku dan literasi serta aplikasi software yang saya baca, renungi, pahami, dan mencoba mengaplikasikannya dalam mengasuh dan mendidik anak (pertama), Syifa Carissa Azzahra.

  1. Al-quran

Ini adalah gudangnya ilmu. Segala sesuatu harus merujuk ke Al-quran termasuk di dalamnya pendidikan anak. Al-quran memaktub kisah Luqman (al-Hakim) yang mendidik anaknya dengan tauhid, kesucian Maryam di masa kehamilan Nabi Isa, pendidikan anak oleh ayah (kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dll yang kaya akan ilmu dan hikmah. Mempelajari Al-quran apalagi mempelajari hikmahnya secara seorang diri adalah hal yang tidak mudah. Namun, beberapa hikmah kisah-kisah tersebut sering saya dapatkan dari pengajian-pengajian, linimasa twitter para guru/ustadz, dan buku-buku di bawah ini.

Selain itu, Al-quran harus dilantunkan intensif ke ruang dengar Syifa agar dia bisa familiar dan menyukainya sebelum dia nanti bersentuhan dengan musik-musik konvensional, yang sering melenakan hati dari mengingat Allah Sang Maha Pendengar.

  1. Bahagianya Merayakan Cinta (- Salim A. Fillah)

Anak sholih adalah buah cinta kedua orang tuanya dalam bingkai pernikahan yang berkah dan senantiasa diliputi kebaikan. Buku ini memuat tahap pra-nikah hingga menikah dan memiliki anak. Sangat tepat membaca buku ini sebelum memiliki keturunan, sehingga bisa membangun atap visi dan misi anak secara awal.

  1. Prophetic Parenting (- Dr. Muhammad Nuh Abdul Hafizh Suwaid)

2015-04-09 BukuProphertParentingBuku ini adalah kebalikan dari sebagian besar buku parenting “islami”, yaitu mendasarkannya pada segala perbuatan dan ucapan Nabi Muhammad SAW baru kemudian mengkaji dan menghikmahnya dengan kajian detil beserta kekiniannya. Bukan sebaliknya, yaitu mencungkil dari buku-buku psikologi modern lalu mencari dan guthak gathuk mathuk dengan hadits Nabi SAW.

Penulis buku ini adalah mantan Ketua Dewan untuk Pusat Kajian Islam Universitas Oxford, Inggris. Dia banyak berkutat dengan Shirah Nabawiyah dan Assunnah dalam buku ini, dan contoh praktis para shahabat dan shalafush-sholish serta dilengkapi dengan kajian dan riset para pakar pendidikan Islam. Buku ini bukan tentang How To untuk permasalahan pendidikan anak, namun ibarat gizi sempurna untuk mencegah berbagai penyakit masalah tersebut. Pendidik hanya perlu untuk mencari gizi yang kurang tersebut dalam buku ini lalu “menghidangkannya” kepada anak-anak dalam bentuk yang baik.

 

  1. Petunjuk Jalan/Ma’alim Fi ath-Thariq (– Sayyid Quthb)

Buku ini mulai saya baca ketika kuliah. Salah satu buku pemikiran terbaik yang pernah saya baca. Isinya tentang akidah Islam, tauhid (meng-esa-kan Allah dengan segala atribut dan turunannya), dakwah Islam, kaderisasi, sampai kenegaraan.

Yang saya paling berkesan adalah tentang konsekuensi pengucapan kalimat syahadat, yaitu tidak mengakui dan menjalankan apapun bahkan meniadakan yang tidak termaktub dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Buku ini menjadi “internal best-seller” di antara kader dakwah dan pejuang Islam.

Kehadiran Syifa menuntut saya harus membongkar gudang untuk menemukan buku ini lagi. Saya bersyukur masih diberi kenikmatan me-recharge akidah dengan merenungi kalimat-kalimat berbobot Sayyid Quthb. Dasar-dasar akidah dan tauhid inilah yang akan saya tanamkan ke Syifa sejak bayi, bukannya malah membebani anak dengan hafalan dan ritual tanpa terlebih dahulu mengalasinya dengan fondasi akidah yang bertenaga untuk menjawab “mengapa saya harus beribadah?”.

 

Bersambung ke bagian ke-2

2 comments: On Belajar dari Buku-buku Tentang Pendidikan Anak (Bagian 1)

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: