Geometallurgy: Satu Lagi Ilmu Wajib Geologist Mineral

Istilah “GEOMETALLURGY” belumlah menjadi popular di Indonesia, setidaknya yang saya amati dari pergaulan di IAGI, MGEI, dan PERHAPI. Kalau digoogling dengan keyword geometallurgy Indonesia atau “geometalurgi” hasilnya tidak akan menunjukkan ada aktivitas bertajuk geometallurgy di Indonesia ataupun belum dinamakan sebagai geometallurgy. Kursus/workshop/training tentang ini masih belum pernah ada di Indonesia (CMIIW), dan barulah di 2014 ini, MGEI – IAGI mengadakan Gold Workshop dengan menyertakan sub-tema Geometallurgy.

Sebelum mendefinisikan geometallurgy, kita sudah mahfum bahwa kata tersebut gabungan dari GEOLOGY dan METALLURGY. Ya, geometallurgy memang sebuah jembatan di antara geologi dan engineering, khususnya metallurgical engineering, lebih khususnya lagi extractive metallurgy.

Geology+Metallurgy
Geology+Metallurgy

Geometallurgy dijelaskan sebagai ilmu praktis analitis (best practices) dalam memahami proses metalurgi yang dibutuhkan untuk memaksimalkan tubuh bijih secara ekonomis (net present value) sekaligus meminimalkan resiko operasional dan teknikal serta yang terkait dengan masalah lingkungan. Contoh sederhananya, jika kita punya sample batuan dengan kadar Cu 1.00% dan Au 1ppm, kita harus tahu dengan proses metalurgi apa sehingga recovery factor (faktor perolehan) bisa mendekati 100%.

Geologist eksplorasionis harus juga aware tentang ini, meskipun masih di tahap awal eksplorasi. Ataupun, ketika target generation di awal (desktop study), geologist harus mampu menentukan target bijih berikut karakteristiknya yang akan dieksplorasi. Misal, di 2014 ini, isu utama adalah harga komoditas emas yang drastically dropped serta implementasi UU 4/2009 tentang hilirisasi produk pertambangan. Maka, geologist harus bisa memilah target tipe apa yang sesuai dengan skenario tersebut. Untuk emas, tipe porphyry copper memang menjanjikan sebagai target “huge tonnage, long yielding, long term, huge capital. Namun, harga pembangunan smelter untuk tembaga di saat ini belum ternilai ekonomis, kecuali deposit yang didiscovery berukuran giant dan itu tidak mudah. So, pilihan realistik adalah proses pengolahan emas heap-leaching yang relatif murah. Bijih emas yang cocok untuk diheapleach adalah tipe emas oksida (oxide Au). Ujungnya, geologist harus tahu emas oksida berhubungan dengan tipe deposit seperti apa, dalam hal ini adalah high sulfidation epithermal (HSE). HSE sendiri punya beberapa tipe/dominan, structural-controlled atau lithological-controlled, posisi root atau upper, dll. Geologist harus mempunyai konsep pemikiran seperti itu.

Itu skala besarnya dan dideterminasi di awal. Nanti, skala lebih detilnya ada setelah momentum delineasi tubuh bijih (scooping study-resource evaluation) dan studi kelayakan proyek (feasibility study-reserve calculation). Keduanya akan berbeda pada tataran pemetaan geometallurgy.

Di  ranah scooping study, geologist harus tahu emas ada di bagian mana bijih, apakah free gold, apakah nugget, apakah di dalam mineral sulfida pyrite atau chalcopyrite yang masing-masing berbeda recovery factor-nya. Geologist bisa mengestimasi parameter metalurgi tubuh bijih targetnya tersebut dengan menyampel batuan bijih tersebut dan mengirimkannya ke laboratorium komersial yang menyediakan layanan geometalurgi. Di Indonesia, kita bisa menyebut nama-nama seperti Geoservices, SBS, Intertek, dll, yang rata-rata sudah mendukung teknik QEMSCAN, Mineral Liberation Analyser, AG/SAG mill ore breakage tests, (misal: SPI, SMC), and flotation test.

Di tahap lebih detil, yaitu fasa feasibility study, pengeboran full coring (diamond-drill) perlu dilakukan untuk mengambil sampel yang lebih merepresentasikan ukuran tubuh bijih. Analisanya pun bisa lebih lengkap dari sebelumnya, ditambah beberapa teknik seperti Bond Work Index (kekerasan bijih) dan Davis Tube Assays (untuk bijih magnetite). Dan ini biayanya jauh lebih mahal tentunya. Pengalaman pribadi penulis ketika terlibat FS proyek porphyry Cu-Au di Gorontalo, perusahaan mengirimkannya ke Laboratorium Simulus di Australia. Pun proses drilling (coring), sampling, dan packaging, transporting-nya berbeda dengan sample batuan biasa, agar kondisi batuan berikut sifat fisik-kimianya masih natural seperti di alam ketika diuji di laboratorium.

Deposit - Bijih - Partikel
Deposit – Bijih – Partikel

A: Loh, jadi geometallurgy ini domainnya geologist atau engineer/metallurgist sih?

G: Domainnya geologist dong! Di negara-negara dengan pertambangan maju, praktisi dan akademisi geometallurgy dominan berbackground geologist.

Laboratorium Geometallurgy

Finally, geologist perlu “menyebrang” ke mindset seorang engineer. Mindset geologist sebagai seorang scientist tentu berbeda dengan engineer. Geologist cenderung berpikir induktif, mengobservasi, bertanya “why”, tech-user. Sedangkan engineer berpikir deduktif, memodelkan, bertanya “how”, tech-developer. Sebagai seorang geometalurgist, geologist harus mengumpulkan data kuantitatif sebagai input pemodelan untuk proses-proses penambangan (blasting, dumping, dll) dan pengolahan (grinding, leaching, floatation, dll). Tantangannya adalah mengintegrasikan data-data metalurgi (misal: kekerasan bijih, leaching/flotation recovery, dll) ke dalam skala blockmodel geologi. Skill blockmodel juga dibutuhkan disini, termasuk di dalamnya geostatistika.

Menantang kan? 😉

 

One comment: On Geometallurgy: Satu Lagi Ilmu Wajib Geologist Mineral

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: