Bismillah, Reksadana!

“Reksadana diciptakan untuk membuat investasi lebih mudah dan terjangkau, sehingga konsumen tidak perlu dibebani dengan memilah-milih ribuan saham dan instrumen lain seorang diri”.

 

Sebenarnya, saya mulai melek investasi ketika mulai ancang-ancang untuk menikah di medio 2011 (kesampaiannya baru di 2013, hehe..). Waktu itu, saya bela-belain datang ke Financial Expo & Forum langsung dari site Antam Cibaliung, Pandeglang. Disana, saya memuaskan diri belajar banyak tentang perencanaan keuangan dari banyak pakar dan institusi, moda investasi, dll. Saya sempat kenalan, ngobrol dan bertukar pin BB dengan Endy Kurniawan (penulis buku Think Dinnar) tentang emas-emas-emas. Dari beberapa moda investasi tsb, saya tertarik di investasi emas, karena sevektor dengan pekerjaan saya yaitu geologist tukang cari emas di ANTAM. Pas pula kantor saya bersebelahan dengan Antam Unit Logam Mulia, tinggal lewat pintu samping masjid tembus ke sana. Beberapa keping emas sempat terkoleksi, setelah kudu sebelumnya berjibaku dengan fluktuasi harga emas harian via twitter, website KITCO, dan diskusi-kolaborasi dengan kakak ipar. In addition, untuk bisa beli keping yang lebih besar, saya ikut program cicilan emas di BRI Syariah Rawamangun. Seingat saya, mereka adalah inisiator program cicilan (bukan gadai yak!) emas pertama yang lalu diikuti banyak bank, trus disuspend oleh BI, dan kemudian boleh jalan lagi!

Menjelang nikah plus untuk modal DP apartemen, keping-keping ini terjual.

Beberapa saat setelah menikah, saya dikejutkan dengan berita meninggalnya teman seasrama waktu kuliah dulu. Dia meninggal di umur 30 tahun, meninggalkan istri dan anaknya yang masih balita. Sontak saya teringat jabang bayi yang waktu itu berusia 8 bulan di rahim istri saya. Saya langsung mengambil ancang-ancang untuk mengambil asuransi. Saya pelajari beberapa asuransi, tentunya yang syariah ya, mendatangi beberapa kantornya, dan ujung-ujungnya saya bertemu dengan skema unit link. Saya juga mempelajari skema tabungan pendidikan di beberapa bank syariah. Ujung-ujungnya juga kurang memuaskan!

Tentang unit link, sedari awal saya mengkritisi skema di dalamnya, terutama di dua hal, yaitu: investasi yang terlihat datar-datar saja dan durasi asuransi vs inflasi. Detil tentang hal ini, tidak perlu dibahas disini yak, bisa belasan paragraf dan tidak cocok dengan judulnya. Intinya, saya ingin memisahkan buku investasi dan buku asuransi saya.

Lanjut fokus ke buku investasi, saya melihat beberapa skema investasi yang tentunya cocok dengan kantong dan rutinitas saat ini. “Investasi” (pakai tanda kutip ya) dengan terjun ke real business sepertinya tidak memungkinkan saat ini, baik untuk side-job maupun full-job. So, saya harus investasi di paper-based investment. Pilihan akhirnya saya jatuhkan ke reksadana (selanjutnya disingkat RD saja ya) , yang memungkinkan saya untuk “menabung” (karena masih dapat dikatakan likuid) dan “melipatgandakan” uang saya secara relatively safer. Kenapa saya katakan “menabung” dan “melipatgandakan”, karena intinya investasi di RD adalah menyimpan uang kita di lembaga keuangan dan kemudian oleh mereka diputar ke pasar yang ujung-ujungnya bisa untung juga bisa rugi. Nah! RD ini tidak dijamin LPS (Pemerintah) lho! Namun tentu pertumbuhan nilainya di atas deposito apalagi tabungan, baik jangka pendek, apalagi jangka panjang! On the other hand, saya masih bisa mengatakan RD ini setengah likuid karena untuk pencairannya sewaktu-waktu butuh waktu 2-5 hari, banyak tergantung dari bank kustodiannya. Bagaimana caranya mengatasi jika ke depannya kita butuh uang sewaktu-waktu? Salah satu solusi pribadi, saya sediakan kartu kredit (syariah tentunya)! Hehe…solutif ga sih? 🙂

Pas saya ingin mempelajari reksadana, pas juga saya mendengarkan di radio bahwa ada event “Pekan Reksadana” di Mall Kota Kasablanka. Saya datangi event itu dan muter kayak gasingan ke booth-booth agen, manajer investasi, dan talkshow-nya. Saya pelajari dan bandingkan produk-produk reksadana syariah. Untungnya saya fokus ke syariah, jadi tidak perlu terlalu pusing komparasi puluhan produk RD. Oleh karena saya mau berinvestasi skala ritel atau kecil-kecilan terlebih dahulu, saya agak bermasalah dengan potongan 1-2% ketika pembelian (subscription) dan penjualan (redemption). Dari hasil googling tentang RD syariah terbaik, saya tertarik dengan RD BNP Paribas Pesona Syariah (BPS). Booth yang saya tuju pertama adalah Commonwealth Bank yang merupakan agen RD tersebut. Saya berpikir waktu itu bahwa saya tidak mau membuat rekening baru berikut ATM-nya untuk sekedar membeli RD, apalagi banknya bukan yang syariah (teuteup!). Atas dasar dua hal tadi, skala ritel dan rekening baru, saya putuskan untuk membeli produk RD Mandiri Investa Ekuitas Syariah, dengan sistem autoinvest (autodebet) di tabungan Mandiri saya dimana gaji kantor masuk ke situ. Saya menandatangai sistem autoinvest sekian rupiah per bulan selama sekian tahun. Ini nanti bagian dari tabungan jangka panjang keluarga, bisa untuk biaya sekolah anak, umrah sekeluarga, dll.

A: Lho Mas, katanya ndak mau pake bank konvensional?

G: Eitss..jangan salah, rekening Mandiri itu hanya sebagai selang saja sebelum gaji tersebut langsung dicacah ke rekening bank syariah yang dipegang istri, saya sendiri, orang tua, dan KPR cicilan apartemen. 🙁 Pokoknya minimalisir bunga (baca: riba) bank masuk ke badan anggota keluarga! (ini prinsip hidup).

Sebelum baca lebih lanjut, bagi para pemula, baca dan pahami sistem reksadana di wikipedia dulu ya, agar tidak bingung nanti ketika saya menuliskan istilah NAV/NAB, Manajer Investasi (MI), Bank Kustodian, RD Saham-Campuran-Pendapatan Tetap-Pasar Uang, AUM, dll.

Sebenarnya saya masih ingin 1-3 produk RD yang lain, terutama yang berjenis RD berimbang (balanced fund) dan nambah RD saham (equity fund). Tapi karena dua hal di atas, saya merasa belum ada yang cocok. Ketika hendak pulang, saya tertarik ke satu booth bagian luar yang menawari saya produk Ipotfund (duh, jadi promosi deh.. harusnya dibayar nih nulis begini 🙂 ). Konsepnya yaitu mereka adalah agen produk-produk RD dan menjualnya secara fully online. Pendaftarannya gratis, termasuk membuat rekening (rekening dana investasi atau RDI) di BCA (yang ini tanpa bunga, tanpa biaya bulanan, tanpa saldo minimal) yang menjadi basis untuk pembelian produk RD. Yang membuat saya tertarik yaitu produk-produk RD yang menjadi sasaran tembak saya disini menjadi 0% biaya subscription dan redemptionnya. Waoow! Tunggu dulu, saya curiga di awal kenapa bisa seperti ini. Saya klarifikasi model ini ke booth produk RD-nya langsung dan booth OJK. Ternyata model tersebut, termasuk brandnya, sudah lama ada dan legal-sah. Hehe..saya katrok ya!

Ok, saya langsung balik ke booth Ipotfund dan mendaftarnya. Setelah kurang lebih 10 hari, akun saya siap untuk digunakan. Saya harus “nabung” dulu di rekening BCA untuk kemudian bisa membeli produk-produk RD disana (jadi RDI BCA saya ini saldonya hampir selalu NOL). Dalam memilih produk, disana disediakan kolom-kolom angka yang kumplit. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama saya adalah: NAV (tentunya, jangan terlalu tinggi agar dapat unit lebih banyak dengan uang yang sama, jangan terlalu murah karena curiganya tidak perform), perjalanan NAV (baik year to date, atau long-term 5 tahun, untuk menguji kestabilan kenaikan investasi), grafik AUM/Asset Under Management (untuk mengetahui perjalanan total aset yang berhasil dikumpulkan oleh MI selama ini), alokasi pembelian saham di sektor apa saja (yang ini dilihat di prospektusnya yang bisa diunduh di website masing-masing), rasio saham dibanding alokasi di produk keuangan lain (deposito, sukuk, dll).

Sebagai catatan, saya sudah mempercayakan tingkat kesyariahannnya ke setiap produk RD syariah, bahwa mereka sudah lulus uji dari Dewan Pengawas Syariah. Sedikit yang saya tahu tentang hal ini, saham-saham yang dibeli oleh MI untuk RD mereka adalah saham-saham yang sudah listing di Jakarta Islamic Index atau bursa efek-nya produk yang dikategorikan syariah. Beberapa syarat syariah tersebut yaitu: bukan produk yang haram dan makruh (rokok is no way!), bukan bank konvensional (clearly and obviously riba! No more reason!), rasio hutang berbasis bunga dibanding aset di bawah 45% dalam artian hutang perusahaan tidak signifikan dibanding asetnya.

Membandingkan Reksadana Syariah
Membandingkan Reksadana Syariah

Akhirnya, RD kedua yang saya beli justru bukan yang saya incar dari awal (BPS), tapi malah Cipta Syariah Equity (saham). RD ini memiliki kenaikan NAV tertinggi selama 3-5 tahun untuk produk sejenis di list Ipotfund, dengan harga lebih murah dibanding incaran (BPS). Tidak ada biaya untuk subscription dan redemption produk ini. Saya merencanakan produk ini untuk likuiditas di keluarga -jangka menengah, jadi sewaktu-waktu bisa diambil. meski saya tahu sifat dari saham adalah fluktuatif, namun saya lebih melihat parameter “ddown” di tabel tsb yang sangat rendah, artinya penurunan historikalnya rendah.

Seminggu kemudian, saya memutuskan untuk mencari penyangga produk RD yang bersifat berimbang (balanced fund) dimana alokasi investasi si MI disalurkan tidak hanya ke saham, tapi juga proporsi signifikan ke pendapatan tetap dan pasar uang. Jadi ini sifatnya lebih “stabil” (pakai tanda kutip ya). Sebenarnya saya naksir produk RD Sam Syariah Berimbang (SSB), yang lebih menarik angka-angkanya dan memenangkan banyak award di kelasnya, namun sayangnya tidak ada di Ipotfund. Saya malas investasi di luar Ipotfund karena dua alasan di atas itu. Jadinya saya membeli TRIM Syariah Berimbang, yang performanya sebenarnya tidak kalah dengan SSB. Karena RD ini saya fokuskan untuk long-term juga, saya kurang peduli ketika produk ini berbiaya 1% untuk redemption atau penjualannya nanti (untuk di bawah 1 tahun).

Untuk saat ini, saya belum tertarik dengan RD Pendapatan Tetap Syariah dan Pasar Uang Syariah, meskipun mereka lebih rendah tingkat resikonya dan tentunya rendah tingkat pertumbuhan nilainya. Low risk low return, man! 🙂

Terakhir, halal atau tidaknya sesuatu produk bersumber dari dua hal, intrinsik produk dan niat-cara melakukannya. Berbincang mengenai cara transaksi reksadana yang online ini dan mirip trading saham (meski diupdate secara daily) di tempat saya bertransaksi yaitu Ipotfund (yang berbeda dengan agen di bank), saya jadi takut akan terjebak ke dalam transaksi jual-beli konvensional yang mengandalkan spekulasi-insting pada harga produk yang fluktuatif oleh isu, berita, dan gosip, bukan karena intrinsik produk itu sendiri,  yang ujung-ujungnya adalah dilarang dalam Islam. Solusinya, saya melakukan transaksi secara kalem dan wajar-wajar saja. Kalau ada rejeki non rutin, 30-75%-nya untuk RD, sedangkan untuk rejeki rutin (yaitu gaji), cukup 10-20% -nya masuk ke sini.

Produk-produk keuangan syariah

Demikian tulisan ini. Tidak sedikitpun maksud saya untuk mempromosikan produk tertentu, melainkan yang saya selalu promosikan (baik di tulisan maupun secara langsung ke teman dan keluarga) adalah produk keuangan syariah apapun itu bentuknya: tabungan, RD, KPR, kartu kredit, dll apapun itu brand-nya. Karena apa? Satu, sebagai orang tua sekaligus anak, saya tidak ingin ada makanan hasil dari riba masuk ke tubuh keluarga kita yang akan membawa kita ke perbuatan negatif. Kedua, sebagai bagian dari umat Islam, kita melihat sedikit demi sedikit ekonomi syariah ini tumbuh dan ketika nanti di akhirat kita akan ditanyai apa kontribusi kita terhadap (ekonomi) umat dan untuk itu kita bisa menjawab bahwa kita adalah paku kecil dari bangunan kokoh ekonomi umat.

Wallahu a’lam.

32 comments: On Bismillah, Reksadana!

  • Luar biasa inspiratif om…

  • Saya baru mulai pembelian di ipotfund. Udh coba beli 2 RD disana..maklum masih baru banget.. abis itu gimana ya kita pantau RD kita. Lewat menu nya apa biar kita bisa tau RD kita untung atau rugi gitu. Maap kalau bahasa saya masih awam banget..hhheehhe..
    salam kenal

  • Bagus dan inspiratif pak, menambah wawasan saya tentang reksa dana syariah dan semakin menguatkan keinginan saya untuk selalu menggunakan produk keuangan syariah

  • Pingback: Ketika Geologist dan Mine Engineer Ekskursi ke Bursa Efek | Gayuh Nugroho Dwi Putranto ()

  • Terima kasih buat sharingnya pak.

    Saya juga sedang cari info investasi reksadana syariah yang online-based. Maklum tinggal di kota kecil, jadi pinginnya yang mudah di akses dan di pantau.

    Btw, sudah pernah coba redeem di ipotfund? prosesnya mudah nggak pak?

  • pak…sy mau tanya2 lebih lanjut tntang reksadana syariah,,bsa di bantu,,,??
    sy sngat tertarik dgn artikel yg bpak tulis…
    bsa tlng diemail ya pak..makasii

  • assalamualaikum..
    terima kasih pak atas sharingnya.. ini saya nyasar ke sini setelah nyari2 tentang reksadana online yg syariah tentunya… lalu saya mulai tertarik dengan ipotfund.. tp saya jadi ragu lg karena untuk beli reksadana di ipotfund harus buka RDI di bank BCA.. (lho ini kan banknya bukan bank syariah.. makanya saya jadi ragu apa nanti ada bunganya lg ?)

    kemudian saya baca tulisan pak gayuh ini … RDI di bank BCA itu tidak kena bunga dan biaya administrasi… mohon maaf pak.. ini pak gayuh dapat informasi darimana ? dan apa memang benar2 terbukti seperti itu (tidak ada bunga dan biaya adiministrasi) ?

    • Pak Ali Akbar,
      saya ingat ketika berbincang dengan marketing Ipotfund bahwa RDI (sekarang namanya RDN, cmiiw) tidak berbiaya administrasi dan tidak berbunga. Agak istimewa sepertinya, dibanding tabungan biasa. Mengisinya (setor tunai) pun harus dari BCA BEJ, kecuali via transfer ya. Dan saya tiap bulan mendapat email account statement dari BCA dan isinya nol saja karena saya jarang menyisakan uang disana (so pasti mending uangnya langsung disetor ke reksadana, ya nggak? 😉 )

      Di link berikut (bit.ly/213CO0s — kepanjangan dipaste disini) menegaskan hal tsb.

      Semoga membantu.

      • baik pak gayuh,,, terima kasih banyak atas info dan bantuannya…
        skrg jadi lebih mantap memilih reksadana syariah untuk investasi…

        • Pak Ali Akbar, ada update dan revisi.
          RDI BCA mengenakan bunga ketika saldonya di atas 1 juta rupiah, dst.
          Jika di bawah angka tsb, bunganya (Baca: ribanya) adalah 0%.
          Saran saya, RDI hanya sebagai “selang” utk menyalurkan dana ke atau dari reksadana. Jadi sebisa mungkin dana di RDI nol rupiah.
          Toh, lebih baik dana diinvestasikan daripada dibiarkan mengendap di tabungan.

          • baik pak Gayuh terima kasih update dan revisinya… saya sekarang sudah paham pak…

  • sekarang ada RDI BCA Syariah loh, saya aja pake yang itu waktu daftar di ipot. jadi bebas bunga dan riba-ribaan.

  • Alhamdulillah ketemu blog ini. Terima kasih Pak. Saya baru belajar reksadana. Maunya yg syariah. Awalnya saya beranikan belajar lgsg ke CS Mandiri, lalu buka web MI nya, lalu disarankan ke ipotfund. Pertanyaan saya, apakah ada kekurangan beli via ipotfund dibanding beli lgsg dg MI nya? Terima kasih

    • Mbak Revita,
      Tentang perbandingan beli via Ipot vs beli langsung, saya sudah sedikit singgung di atas dan memberikan contohnya. Yaitu, BNP Paribas Pesona Syariah, dimana kita dikenakan subscription & redemption fees utk pembelian dan penjualan jika membeli di Agen (dlm hal ini Bank Commonwealth), seingat saya 1-2.5%. Sedangkan di Ipot, untuk produk itu, fee tidak ada alias nol rupiah.

      Untuk Reksadana yg dinaungi Bank Mandiri, di Ipot belum ada. Beli reksadana Mandiri Investasi di https://moinves.co.id/ . Ada beberapa pilihan RD disana. Syariah dan konvensional. Tapi memang jauh lebih sedikit dibanding di Ipot.

      Happy investing~!

      *duuh, promosi deh -___-“

  • Wah, sepikiran juga ni mas.
    Sy baru mau invest.ke reksadana syariah n tertarik sm cipta n trim juga.
    Mohon infonya mas utk pembelian reksadana dan trim itu gmn prosedurnya soalnya msh buta bgt soal RD.
    Makasih mas infonya

  • sharing pengalaman membeli reksadana ipotfund yang berharga buat kami & keluarga.

  • Mau nanya pak, apakah sudah pernah melakukan redemption di ipotfund? Bagaimana mekanisme secara keseluruhan, gampang atau susah? Dan kalo redempt, dananya dicairkan ke rek RDN atau rek pribadi?

    • Gampang sekali. Tinggal klik “Sell”, lalu pilih berapa bagian atau persen atau keseluruhan RD yang akan kita jual. Dalam 5-7 hari kerja, uang masuk ke rekening pribadi yang sudah didaftarkan.

  • Bagus banget blog nya.,. Terimakasih sudah menginspirasi

  • titi hasyim iffary

    Assalamu’alaikum, pa.
    Lg nyari info tentang inves syariah, alhamdulillah ketemu tulisan bapak. Sebelum membuka RDN BCA berarti buka rek BCA dulu y pak.
    Untuk inves yg berkala minimal berapa, pa? Mohon bantuannya.
    Terima kasih.

    • RDN itu sudah berupa rekening, Mbak. Singkatannya saja Rekening Dana Nasabah. Membuka RDN berarti membuka rekening baru, di BCA dalam hal ini, khusus utk bertransaksi di Bursa Efek, termasuk reksadana.
      Nilai minimum utk inves berkala sesuai dengan nilai minimum pembelian unit RD, yang masing2 bisa berbeda, meski rata2 Rp.100.000,-.
      Semoga membantu.

  • Terima kasih saya masih belajar belajar mau investasi apa nantinya tuk kedepannya.

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: