Jangan-jangan kita memang tidak sholat!?

“Padahal dia sholatnya rajin lho, tapi kok pergaulannya dengan lawan jenis kayak gitu?”

“Kemarin-kemarin dia sholeh, rajin sholat, begitu jadi birokrat kok malah ikut korupsi?”

Kita pasti sering mendengar ungkapan yang kurang lebih sama dengan di atas. Intinya, kenapa bisa seseorang (termasuk kita) yang (terlihat) sholat dengan rajin dan benar namun (masih) berkelakuan negatif dan buruk. Padahal Allah SWT menjamin bahwa orang yang mendirikan sholat akan (pasti) terhindar dari perilaku fakhsya’ dan munkar (Al Ankabut 45, kita tentunya sudah menghafal ayat ini sejak jaman sekolah dulu 🙂 ). Dua kata tersebut sering diterjemahkan sebagai “keji” dan “munkar”.

 

dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan – perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah – ibadah yang lain). (Al-‘Ankabut:45)

 

Kata al-fahsya`a terulang di dalam al-Quran sebanyak 7 kali. Sedang kata munkar terulang sebanyak 15 kali. Menurut kamus bahasa al-Qur’an, al-fahsya`a terambil dari akar yang pada mulanya berarti sesuatu yang melampaui batas dalam keburukan dan kekejian, baik ucapan maupun perbuatan.

Kata al-munkar pada mulanya berarti sesuatu yang tidak dikenal sehingga diingkari dalam arti tidak disetujui. Itulah sebabnya al-Quran memperhadapkan kata ‘mungkar’ dengan kata ‘ma’ruf’ yang berarti dikenal. Sementara ulama mendefinisikan kata-kata munkar, dari segi pandangan syariat adalah segala sesuatu yang melanggar norma-norma agama dan adat istiadat satu masyarakat. Dari definisi ini kata munkar lebih luas pengertiannya dari kata ma’shiyat/maksiat.

Dari ayat yang menggandengkan kata al-fahsya’ dan al-munkar dapat disimpulkan bahwa Allah melarang manusia melakukan segala macam kekejian dan pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat, dan shalat mempunyai peranan yang sangat besar dalam mencegah kedua bentuk keburukan itu bila dilaksanakan secara sempurna dan bersinambung.

Kembali ke hubungan sholat dan perilaku, jelas tidak mungkin Allah SWT berbohong dengan menjanjikan hubungan yang selaras antara keduanya. Keduanya adalah hubungan sebab dan akibat. Jika akibat yang dimunculkan adalah perilaku negatif, maka penyebabnya pasti adalah dia tidak sholat. Ini kepastian lho!

A: “Padahal dia sholatnya rajin lho, Mas!”

G: “Nah, jangan-jangan seseorang secara lahiriah (terlihat) sholat padahal tidak sama sekali!”

A:  “Waduh, kok bisyaa?”

Mendirikan sholat tidak sebatas pada gerakan takbiratul ihram sampai salam. Coba perhatikan beberapa hal di bawah ini lalu coba kontemplasi dan refleksi:

Wudhu

Berwudhu sebelum sholat adalah wajib. Jika wudhu tidak benar dan tidak sah, maka otomatis sholat kita tidak sah. Begitu ilmu fiqihnya. Beberapa hal berikut sering luput dari perhatian kita:

  1. Batas-batas anggota tubuh yang wajib dikenai/dibasuh air wudhu. Misal: pastikan wajah kita dari kuping ke kuping dan dari dahi atas ke dagu basah semua! Atau dari ujung kuku 10 jari tangan ke pergelangan siku sudah dibasuh.
  2. Posisi wudhu dianjurkan menghadap kiblat, bukan membelakangi. Atau setidaknya menghadap selatan, agar ketika membuang air kumur, tidak ke arah kiblat (barat). Ini bukan rukun sih, namun perlu kita tahu.
  3. Banyak doa per masing-masing langkah (rukun) wudhu,  kalau berkeberatan menghapal satu persatu, cukup berdoa dalam hati (dalam Bahasa kita) membaca arti doa-doa tsb. Misal: ketika membasuh kepala, berdoa “Ya Allah, semoga air ini menjadi penerang di alam kuburku nanti”, atau ketika membasuh telinga, sambil berdoa “Ya Allah, semoga telinga ini hanya mendengarkan berita-berita kebaikan dan  ayat-ayat kebesaranMu”. Dan sebagainya.
  4. Niat wudhu! Hari gini, seumur gini, masak iya niat wudhu sependek itu saja tidak hafal meski dalam Bahasa Arab? Kebangetan kalau gitu mah! :p

Sarana (Pakaian dan Tempat)

Sajadah atau sarung atau mukena kita atau malah pakaian, pastinya sudah dicuci bersih dan SUCI karena sudah DICUCI DENGAN CARA yang benar dalam islam! Terkadang, kita masih sering menyepelekan aspek suci dibanding sekedar bersih. Mencampur cucian pakaian dalam (bahkan milik bayi – yang sering mengompol) dengan alat sholat beresiko tidak suci! Bahkan pakaian kita sehari-hari pun beresiko untuk tidak suci, misal: celana panjang yang beresiko terkena cipratan air kencing ketika berada di toilet. Oleh karena itu, pastikan ilmu thoharoh alias bersuci ini sudah kita kuasai. Ini ilmu dasar dalam Islam, bab awal dalam kajian fiqih di buku/kitab yang super tebal. Masak iya kita tahu banyak ilmu dunia tapi ilmu agama yang sedemikian dasar saja malah tidak kita pelajari. Hellooo!!

Satu lagi, hal sepele bagi pria namun fatal dan kerap penulis temui, yaitu sholat dengan mengenakan kaos yang pendek. Akibatnya, ketika sujud, ujung bawah kaos bagian belakang akan tertarik dan terlihatlah punggung bawahnya. Tahu kan bahwa sholat tidak sah jika aurat terbuka? 😉

Sholat

Setelah dua hal pra-sholat di atas, sekarang adalah aspek sholatnya sendiri. Beberapa hal yang kerap dijumpai:

Gerakan yang tidak/kurang benar secara fiqih sholat, misal:

  1. Takbiratul ihram tidak sempurna, yaitu kedua tangan yang terlalu pendek (hanya di depan dada) atau malah di atas kepala.
  2. Punggung yang tidak rata ketika ruku’
  3. Gerakan yang terlalu cepat
  4. Posisi makmum yang tidak rapat dan lurus pada sholat berjamaah (sayangnya saya lebih sering menjumpai ini pada masjid-masjid kultural di pedesaan. Sang imam lalai memerika barisannya. Saya pun baru menyadari hal ini ketika sholat di Masjid Salman ITB. Shaf disana sangat rapi, dimana sang imam mengecek betul dan para makmum pun sudah paham urgensinya).
  5. Atau malah tidak mengerti kenapa harus melakukan gerakan itu. Saya heran dengan orang yang mengacungkan tangan dan menggerakkannya ketika duduk tashajud namun tidak mengerti dalilnya.

Bacaan yang tidak/kurang fasih.

Suka atau tidak suka, Bahasa sholat kita adalah Bahasa Arab, Bahasa kitab Al Quran juga Bahasa Arab, yang koleksi hurufnya melebihi abjad kita dan pengucapannya lebih detil. Bacaan yang kurang bahkan tidak benar (khususnya pada surat Al Fatihah), bisa menimbulkan arti berbeda, bisa mengakibatkan sholat kita tidak sah, karena ini adalah rukun sholat! Adapun surat yang dibaca setelah Al Fatihah adalah sunnah hukumnya.

Menurut hemat saya, ada tiga syarat minimal untuk membaca Bahasa Al Quran ini, yaitu:

  1. Pengucapan/lafal yang benar dan jelas.  Misal: perbedaan da dan dza, dho dan dlo, sa dan tsa, ki dan qi.
  2. Panjang pendeknya huruf dan PROPORSIONALITASNYA. Harus bisa membedakan mana yang harus dibaca sepanjang 1 ketukan, 2 ketukan (mad thabi’i) atau 6 ketukan (mad wajib/jaiz).
  3. Hukum nun mati atau tanwin. Ini yang kita kenal dengan idzhar, iqlab, ikhfa, dll.

Surat yang menjadi rukun dalam sholat adalah surat Al Fatihah. Maka, itu adalah syarat minimal kita mampu membacakannya dengan BENAR! Beberapa kesalahan yang kerap ditemui:

  1. Pemenggalan kata yang salah, misal: di ayat pertama: hirroh dan maanir, di ayat kedua: hirrob, dst. Kita harus tahu mana kata per kata untuk bisa proporsional dalam memisahkan pengucapannya.
  2. Proporsi panjang pendek yang tidak pas. Pada Al Fatihah, yang boleh dibaca sangat panjang (2-6 ketukan) adalah di ujung-ujung ayat (mad aridlissukun) dan harus dibaca panjang (mad wajib) pada dhooooolliin. Bacaan panjang selain itu, cukup 2 ketukan atau 2 kali bacaan huruf yang pendek (mad thobi’i). Supaya proporsional, coba mengayunkan suara pada tiap-tiap mad thobi’i.
  3. Pelafalan huruf yang tidak benar. Misal: mustaqiim bukan mustakiim dan huruf HA alHAmdu dibaca tipis (cha) bukan tebal (ha) dan an’amta bukan an-ngamta (biasanya orang Jawa yang begini J )
  4. Untungnya di Al Fatihah tidak ada hokum-hukum nun mati dan tanwin. Aman deh J.
  5. Pengertian terhadap arti bacaan Al Fatihah beserta kajian tafsirnya. Misal: apa arti “jalan yang lurus” pada shiroothol mustaqiim.

Kekhusyu’an Sholat

Syarat minimal khusyu’ adalah mengerti apa yang diucapkan oleh mulut ketika sholat. Itu saja dulu. Lalu, merasakan kesadaran batin bahwa dia sedang berhadapan dan melakukan ritual penyembahan terhadap Sang Penciptanya dan Pemeliharanya. Tidak cukup dengan itu, sholat adalah rutinitas favorit, yang ditunggu-tunggu, yang menjadi hasrat (passion), yang diidam-idamkan, oleh para mukminin, orang-orang yang mencintai Tuhannya. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda ke Bilal, “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan adzanmu (masuk waktu sholat)”.

Sama halnya dengan keahlian terhadap sesuatu, khusyu’ hanya bisa diraih dengan rutinitas berfrekuensi tinggi. Jika sholat fardhu saja masih bolong-bolong, dapat dipastikan sholatnya tidak bisa khusyu’. Untuk itulah, memperbanyak sholat sunnah akan membantu dalam hal ini, menurut hemat penulis.

—-

Semua hal tersebut di atas tentu berlandaskan dari ilmu. Bahkan, sekedar menduplikasi dari orang tua, guru agama, atau guru ngaji pun boleh dianggap tidak cukup. Kita boleh bahkan harus tahu landasan hukum dari sholat berikut segala rukunnya. Seperti halnya, kenapa jari telunjuk teracung ketika duduk tashajud lalu kemudian digerakkan namun ada juga yang diam. Atau kenapa harus membaca “bismillahirrohmanirrohim” pada Al Fatihah, atau sebenarnya tidak perlu. Atau perlukah makmum membaca Al Fatihah lagi sesaat setelah imam selesai membacakannya. Dll.

Sifat Sholat Nabi
Rekomendasi buku: Sifat Sholat Nabi, Nashiruddin Al Bani

Penulis belajar banyak tentang hal ini dari dua buku utama, yaitu Buku SIFAT SHOLAT NABI dan ringkasan IHYA ULUMUDDIN. Buku pertama dikarang oleh Nashiruddin Al Bani, yang merupakan ulama salaf yang terkenal dengan konsistensinya berpegang saklek pada dalil Al Quran dan Hadits secara tekstual. Menurut hemat penulis, untuk urusan ibadah mahdhoh seperti ini, baiknya kita manut secara tekstual, mengurangi improvisasi penafsiran. Lalu buku yang kedua adalah sebuah karya agung dari Al Ghozali, yang dalam hal ini gabungan antara tekstual Al Quran dan Sunnah dengan pemikiran dan ijtihad yang murni. Ada beberapa  perbedaan pada keduanya namun sifatnya tidak signifikan dan malah saling membenarkan.

Terakhir, mari kita perbaiki perilaku, kebiasaan, akhlak, dan pemikiran kita dengan mendirikan SHOLAT YANG BENAR.

Ada yang mau menambahkan poin-poin di atas? Atau mau diskusi lebih lanjut? Monggo!

One comment: On Jangan-jangan kita memang tidak sholat!?

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: