Defining “Dream Theater” Literally

Dream Theater (album)
Dream Theater (album)

“What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.”  Begitu ujar Juliet di dalam karya Shakespeare.

Dream Theater pun akan tetap bermain agresif, rumit sistematis (systematic chaos), berbalut solo performance dari masing-masing personel, dan elegan meski tidak bernama Dream Theater lagi. Dalam album terbarunya yang dijuduli nama band mereka sendiri, menurut hemat penulis, mereka mencoba mendefinisikan makna Teater Impian secara literal.

Nuansa sinematik berbalut agresivitas tinggi, itu yang penulis tangkap setelah belasan kali memutar album ini. Ya, tidak mudah memang mencerna aliran (metal) progresif. Saya pernah mendefinisikan progresif di blog saya sebelumnya.  Overall, perubahan drastic ada di komposisi keyboard yang menjadi lebih dominan. Yeah, Portnoy’s departure creates some space to fill in.

Mari kita cerna beberapa lagu di album ini:

The Enemy Inside, ini lagu pertama yang dipublis sebagai “official leak” oleh Road Runner. Kesan agresif sangat terasa di awal lagu, dimana solo cepat Petrucci disambut gebukan drum Mangini di setengah menit awal. Mengingatkan saya gaya Lamb of God. Masih hadir ketukan-ketukan ganjil, namun tidak menonjol dibanding unjuk kecepatan  variasi roll Mangini. Ada sisipan reff Prophet of War di 4:04, tentu saya menyanyikannya: “is it time to make a change? Are we closer than before?”

Overall, melodi vocal lagu ini crunchy, struktur lagu yang tradisional, dan memiliki level progresif yang medium. Cocok untuk pemula atau orang baru yang ingin memahami metal progresif.

Illumination Theory, ini lagu yang paling saya tunggu setelah membaca list lagu akhir agustus kemarin. Yeah, durasi 22 menitnya sekarang menjadi teman saya jogging 3.0 km di gym. Saya sangat suka bangunan struktur lagu yang bernuansa sinematik ini. Intro 4 menit yang didominasi JR dan MM  deng an variasi riff-riff heavy metal dan sedikit gothic serasa menaikkan tempo sebelum mendengar suara James La Brie. Di 3:33-3.36, saya membayangkan Mangini bertangan tiga untuk melakukan roll tsb. Warna vokal JL, yang berkarakter sedikit opera, cocok sekali dengan nuansa sinematik seperti lagu ini. Tidak dipaksakan seperti album SDOIT s/d SC. All hails Jordan Rudess by this song! Break diisi melodi bernuansa panoramik lalu orkestra sinematik dengan gaya Kitaro atau Keith Emerson. Sebenarnya saya lebih suka gaya break  seperti A Change of Season (23:09) yang smooth (6:56-8:46 dan 13:29-14:21) ketimbang disini yang seperti gaya Count of Tuscany (11:00-14.18) yang mengesankan lagu tersebut terpisah menjadi dua bagian. Dan memang, untuk memainkan lagu berdurasi sampai 20 menit, drummer (apalagi prog-met) perlu break secara manusiawi. Setelah “rehat”, suara berat JL muncul. 12:20-15:53, seperti biasa, tidak lengkap mendengar DT tanpa ada pameran skill antar personal yang membawakan melodi heavy metal super rumit/kompleks, cepat, dan tetap dilandasi hitungan ganjil.  Mulai 15:53, seakan-akan kita sedang berada di ending dari sebuah sinema, di-lead oleh JR. DT pernah membuat nuansa ending film sebelumnya di lagu Finally Free (SFAM).

Overall, in my opinion, lagu DT terpanjang nomor 4 ini belum menggeser ACOS sebagai best epic song, tapi di atas Octavarium. Tapi warna baru di lagu ini pantas diacungi jempol untuk inovasi fresh DT.

 

-bersambung, masih 7 lagu lagi untuk dipelajari dan diresensi 😀 –

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: