Habibie & Ainun: Antara Romantisme, Idealisme, dan Nasionalisme

Nekat bertemu idola

Senin, 17 Desember 2012 saya berkesempatan hadir di Gala Premier Film Habibie-Ainun di Epicentrum XXI. Sebenarnya saya tidak sengaja hadir. Jam 3 sore, teman saya masuk ke ruang kantor saya dan menengok ke luar-bawah kaca jendela dan melihat banyak mobil sedan pejabat. Kontan saya meng-googling dan saya dapati berita dari twitter bahwa ada acara tersebut. Tanpa pikir panjang, saya tutup laptop dan bergegas turun dan berjalan ke Epicentrum XXI yang hanya berjarak 150 meter dari kantor. Tanpa kesulitan dan penuh percaya diri saya menembus penjagaan di luar bioskop yang mengkhususkan tamu undangan dan pers saja. Bermodal name tag kantor (terlihat seperti name tag pers) dan kamera blackberry, saya bertindak seolah-olah wartawan. Ketika sudah di dalam gedung, saya ikut berbaris dengan para wartawan yang sudah standby untuk mengambil foto “red carpet” serta para Paspampres yang siap mengawal dan mengamankan Presiden.

 GYH_Habibie-Ainun-premier-2012GYH_Habibie-Ainun-premier-2012
 GYH_Habibie-Ainun-premier-2012GYH_Habibie-Ainun-premier-2012
 Foto-foto Gala Premier Film Habibie & Ainun di Epicentrum XXI, 19 Desember 2012

Tak lama kemudian, Presiden SBY hadir didampingi BJ Habibie dan para undangan pejabat pemerintah, termasuk Wapres Boediono, Hatta Rajasa, Joko Widodo, Sudi Silalahi, Try Sutrisno, dll. Karena keterbatasan spec kamera, tidak banyak gambar yang bisa saya jepret dari momen red carpet ini.

Lalu, para pejabat ini beserta puluhan undangan dari rumah produksi MD Entertainment masuk ke studio 1. Ketika saya hendak masuk, petugas tidak melihat undangan atau name tag wartawan di diri saya dan tidak memperbolehkan saya masuk. Melihat sedikit asa dibumbui kenekatan (saya tidak bisa cerita disini, karena menyangkut rahasia negara B-)  ) akhirnya saya bisa masuk ke Studio 1 dan menonton film tersebut bersama para undangan. Di samping kanan kiri saya adalah pejabat, wartawan, dan penulis resensi film.

GYH_Habibie-Ainun-premier-2012 GYH_Habibie-Ainun-premier-2012 GYH_Habibie-Ainun-premier-2012 GYH_Habibie-Ainun-premier-2012

Tetamu: Aburizal Bakrie, Anwar Ibrahim dan istri, Nurul Izzah Anwar, Zaskia Mecca

 

Resensi film (dan buku)

Film dibuka dengan cerita SMA Habibie dan Ainun yang sudah dijodohkan dengan gurunya. Terkadang memang, orang yang arif dan sholeh (seperti gurunya) diberi kelebihan Allah untuk bisa “melihat” sedikit ke masa depan. Peak pertama film adalah ketika kehidupan awal di Jerman, yaitu fasa ketika Ainun hamil dan Habibie sedang sibuk menyusun disertasi sambil mencari nafkah. Ada adegan ketika Habibie tidak punya cukup uang untuk pulang naik kereta dan harus berjalan kaki (di buku disebutkan jaraknya 15-20 km). Akibatnya sepatunya bolong. Ainun menyambutnya di rumah dengan menangis. Narasi yang saya ingat:

Ainun: “Aku ingin pulang, supaya bisa meringankan bebanmu disini. Hidupku di Indonesia, hidupmu di sini (Jerman).”

Habibie: “Kamu kuat, Ainun. Kita ibarat gerbong masuk terowongan panjang  yang entah berarah kemana. Namun tiap terowongan pasti ada ujung dan cahayanya. Dan saya berjanji akan membawa kamu ke ujung cahaya itu.”

Ainun: “Jangan lupa truk terbangmu.”

Itulah dialog yang paling saya suka. Dialog antara suami-istri yang sudah punya visi hidup bersama. Visi hidup yang sangat besar dan tinggi. Di awal cerita, diceritakan Habibie yang sedang terkapar sakit TBC terbaring di kasur dan di sebelahnya terdapat kiriman surat dari teman Jermannya berbunyi: “Semoga cepat sembuh, Jerman membutuhkanmu”. Di saat itu Habibie, masih dalam keadaan sakit, menuliskan sumpahnya:

Terlentang ! Jatuh ! Perih ! Kesal !
Ibu pertiwi Engkau pegangan
Dalam perjalanan
janji Pusaka dan Sakti
Tanah Tumpa daraku makmur dan suci…
…….
Hancur badan !
Tetap berjalan !
Jiwa Besar dan Suci
Membawa aku PADAMU

Luar biasa sosok pemuda Habibie. Kecerdasan luar biasa berbalut nasionalisme membentuk karakter dan visi besar Habibie seperti itu. Dengan visi besar itu, tentu Habibie sadar dia membutuhkan pendamping hidup yang berkarakter dan berjiwa besar untuk bersama-sama berjuang mencapainya. Untuk itu dia meminang Ainun Besari dan berkata: “Saya tidak menjanjikanmu banyak (dunia), juga tidak menjamin kamu bisa berpraktek dokter, tapi saya bisa menjanjikan untuk menjadi suami terbaik untukmu.”

Kepingan episode perjuangan hidup bersama di Jerman (3,5 tahun pertama) itulah yang menurut saya bagian menarik. Mungkin karena selaras dengan usia dan babak hidup saya saat ini. Tantangan hidup yang didobrak dengan kerja keras dan passion dengan kompas visi hidup seperti itulah kisah-kisah yang saya suka. Sayang sekali, episode seperti itu yang banyak diulas di buku (Bab 4-7).

Nobar HIPMI Habibie-Ainun
 Buku Habibie & Ainun ketiga saya yang bertanda tangan Habibie

Kepulangan Habibie ke Indonesia merupakan lanjutan episode yang menarik, berisi cerita-cerita sosok negarawan (tidak semua pejabat negara adalah negarawan!) dengan karakter kepemimpinan yang istimewa. Kisah-kisah kepemimpinan Habibie digambarkan sekilas dalam potongan-potongan adegan. Saya masih menyukai membaca buku Habibie & Ainun serta Detik-detik Yang Menentukan untuk memahami karakter kepemimpinan beliau yang menceritakan detail romantika perjalanan tangga karir dan latar belakang keputusan-keputusan besar yang diambil beliau. Di buku ini juga akhirnya saya menemukan koreksi saya atas prasangka buruk saya terhadap ICMI di waktu lampau yang saya anggap sebagai alternatif dukungan suara untuk mesin politik Golkar (dan Presiden Soeharto tentunya) dari umat Islam pasca merenggangnya hubungan dengan ABRI (tapi ada sedikit benarnya juga ternyata).

Hubungan Habibie dan Soeharto pun sedikit diceritakan di film ini, meski saya berharap ada sedikit pengulasan mengapa Habibie yang dipilih Soeharto, dari sekian ratus ilmuwan muda yang disekolahkan ke luar negeri oleh Presiden Soekarno di medio 1950-an, untuk menahkodai kapal “pembangunan terbang landas” yang digagas Soeharto. Fyi, Perwira Soeharto-lah yang mengurus pemakaman Ayahanda Habibie di tahun 1950-an (mengutip Habibie di acara Kick Andy MetroTV).

Perhatian seorang Ainun sebagai istri seorang mahasiswa S3 yang sedang menyelesaikan disertasi, istri seorang CEO perusahaan penerbangan ternama di dunia (MBB dan menolak tawaran dari Boeing karena idealisme yang dituntun visi hidupnya), istri seorang menteri, dan istri seorang presiden pun dilakoni dengan selaras dan seimbang. Ainun, sebagai dokter, tetap mengingatkan selalu suaminya untuk meminum obat bahkan masih mengkhawatirkan suaminya ketika dirinya terjuntai di kasur rumah sakit dikelilingi mesin-mesin.

Saya terkesan dengan bagaimana perasaan pribadi seorang Habibie yang merasa dirinya telah berhutang kepada keluarganya termasuk sang istri karena telah menghabiskan energi dan umur di proyek pesawat terbang dan karir kepemimpinan politik. Segala keputusan besar dalam hidupnya, selalu Habibie mendiskusikannya terlebih dahulu dengan istri dan keluarganya karena merekalah orang pertama yang berhak atas diri Habibie. Di penghujung acara, sahabat Ainun menjelaskan bahwa Ainun tidak pernah sekalipun merasa menyesal menjadi istri seorang Habibie, bahkan sudah menetapkan hati untuk Habibie di awal pertemuan di rumah Keluarga Besari sepulang Habibie dari Jerman.

Penayangan momen penerbangan perdana N-250 tahun 1996 yang mencuplik tayangan aslinya adalah keputusan yang tepat untuk mengangkat ritme emosi penonton. Banyak juga di antara kita yang pada jaman itu tidak dapat menyaksikan momen bersejarah itu. Di sisi lain, penambahan peran antagonis di film (yang sebenarnya tidak ada di buku) yaitu Sumohadi, pengusaha yang menyuap Habibie dalam tender IPTN dirasa kurang perlu. Namun saya memahami bahwa penonton Indonesia selalu menginginkan adanya antagonis yang menzhalimi pemeran utama.

Nobar HIPMI Habibie-Ainun
Like Father Like Son?

Secara subyektif, karena saya adalah pengidola Habibie sejak SD bahkan dijuluki Habibie kecil waktu masih di SD, film ini tidak memuaskan saya terhadap profil dan karakter Habibie (dan Ainun). Perlu bentuk tayangan serial untuk menceritakan lebih dalam kisah hidup Habibie-Ainun dan dengan sentuhan non-komersial karena detil-detil sisi teknologi dan kajian sosio-politik, yang melatarbelakangi kisah hidup ini mungkin tidak populer di kalangan penonton Indonesia.

Tidak kecewa saya mengidolakan Habibie sejak kecil. Segala bentuk kritik atas kelemahan beliau hanya semakin menyadarkan saya bahwa beliau adalah manusia yang kelebihannya jauh lebih banyak dan bisa diapresiasi dan dipelajari daripada kelemahannya yang sedikit itu serta semakin layak diidolakan karena kemanusiawiannya itu.

One comment: On Habibie & Ainun: Antara Romantisme, Idealisme, dan Nasionalisme

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: