Nobody Walks in A Race

Dari dulu saya suka persaingan atau kompetisi. Waktu SD, saya suka bersaing dengan teman-teman untuk merebut ranking nomer satu di kelas. Atau bahkan sekedar bersaing dalam hal adu cepat menjawab pertanyaan guru IPS (yang waktu itu sering sekali memberikan pertanyaan pengetahuan umum) atau bahkan bersaing ketika olah raga lari mengelilingi kompleks sekolah. Atau bahkan lagi, dalam hal bermain benteng-bentengan atau kelereng. Semuanya saya lakukan dengan serius seperti dalam suatu kompetisi sungguhan. Ada perasaan dan motivasi untuk selalu ingin menang atau untuk tidak kalah melawan lawan yang lebih jago.

Finish Line

Hal itu berlanjut terus. Sering saya ikut lomba, mulai dari yang saya merasa kompeten di dalamnya sampai yang sekedar ingin mengukur kemampuan diri sampai sejauh mana. Di SD saya seringnya ikut lomba cerdas cermat, pelajar teladan, sampai lomba baca Al-quran tingkat SD, yang saya pun tahu lawan-lawannya adalah anak-anak MadrasahIbtidaiyah, yang kemungkinan kecil saya menang. Waktu SMP, saya malah pernah ikut lomba baca puisi di sekolah, entah kerasukan apa saat itu. Hasilnya tentu saja saya kalah,bahkan untuk mengucapkan salam saja belepotan dan ditertawakan penonton, hehehe.Persaingan ranking 1 di SMP waktu itu sulit sekali, saya hanya mampu 1 kali meraihnya ketika kelas 3 cawu 2. Selainnya, tenggelam di bawah sahabat saya sendiri.

Ketika SMA, hasrat berkompetisi sedikit menurun, karena waktu itu ingin merasakan “kebebasan” (yang akhirnya sedikit kebablasan). Tapi saya pernah mendaftar ikut lomba matematika ipa di Surabaya secara pribadi, meski lewat jalur sekolah, alhasil dengan biaya sendiri.

Pun ketika kuliah, hasrat untuk berkompetisi saat itu sangat membara. Saya sempat mengikuti kompetisi presentasi paper tingkat mahasiswa jurusan teknik geologi se-Indonesia, dan meraih juara 2 berturut 2 tahun. Ada juga lomba serupa dengan skala lebih besar yang akhirnya kalah sebelum berkompetisi, hehe (waktu itu tidak mengukur kemampuan dan keterbatasan diri, asal daftar aja!). Saya sering ikut tes masuk kerja perusahaan untuk sekedar ikut dan feeling nothing to lose padahal belum lulus, karenaingin merasakan hawa persaingan. Beberapa kali saya juga ikut tes beasiswa danpertukaran pelajar, dan tentu hasilnya adalah gagal. Waktu 2 tahun tinggal di asrama pembinaan, kompetitor saya adalah 19 orang mahasiswa dengan berbagai kelebihannya di organisasi dan akademik. Mereka lapar dan haus akan pengembangan diri. Dan secara resmi, kita berdua puluh mahasiswa yang tinggal di asrama ini diberikan raport per 6 bulan yang menilai aktivitas akademik, organisasi, prestasi (yang terukur, seperti lomba,dll) bahkan sampai luas jaringan (kartu nama) kita dan jumlah buku yang kita baca. Dengan arus seperti ini, saya dengan sangat sukarela hanyut menikmati pusaran kompetisi ini bersama 19 rekan asrama saya.

Sebenarnya, apa yang saya cari dari sebuah kompetisi adalah perasaan tegang dan motivasi untuk mencapai peak performance yang kadang kita sendiri belum tentu tahu kapasitas kita. Contoh, kita tidak akan pernah tahu kalau kita bisa berlari cepat dan melompat setinggi pagar tetangga kalau tidak ketika dikejar anjing. Nah, anjing ini ibarat kompetitor kita. Seringkali seorang atlet lari melebihi catatan waktu terbaiknya justru ketika di arena lomba, bukan ketika latihan individual. Saya pernah baca, hormon adrenalin yang sering digunakan (seperti saat kita di dalam suatu lomba) mampu meningkatkan kinerja otak yang akhirnya berhubungan dengan IQ.

Satu lagi, dengan kompetisi, kita jadi punya motivasi lebih untuk melipatgandakan kemampuan terbaik kita. Lihat La Liga Spanyol, Barcelona ataupun Real Madrid tidak akan seperkasa sekarang kalau mereka tidak bekompetisi satu sama lain. Messi tidak akan sefantastis dengan rekor-rekornya sekarang kalau tidak ada Christiano Ronaldo yang juga bergelimang dengan rekor baru. Contoh lain, Facebook akan terus menyempurnakan dirinya dengan mengamati perkembangan kompetitornya. Dirasa konsep “circle” milik Google Plus itu suatu kelebihan, Facebook pun mengadaptasikannya, menyempurnakannya, dan memasukkan fitur yang berkonsep sama dengan itu. Pun ketika melihat konsep mention di Twitter, MarkZuckenberg pun memasukkannya ke Facebooknya. Bisa dibilang, dengan adanya kompetitor seperti Twitter dan Google Plus, Facebook bergerak menyempurnakan dirinya. Melihat kompetitor lebih kuat, tentu kita akan berjuang dan berlatih untuk bisa minimal tidak kalah dengannya.

Namun, level tertinggi dalam suatu kompetisi adalah melawan diri kita sendiri. Di situ esensi perbaikan diri kita. Tujuan dari berkompetisi melawan diri kita sendiri adalah untuk melawan atau melebihi kemampuan kita yang kemarin. Ketika saya ikut lomba presentasi paper yang pertama, badan saya terasa gemetar, keringat dingin keluar, dansaya harus mendengar suara ibu di telepon dulu untuk bisa menenangkan hati saat itu.Suara ibu yang memotivasi saya untuk tetap stay calm and confident. Hasilnya juara 2. Setahun kemudian di lomba yang sama, saya bertekad bahwa target saya simpel saja, presentasi sebaik-baiknya tanpa ada rasa gugup yang berlebihan seperti setahun sebelumnya. Ujung-ujungnya kembali dapat juara 2.

Nabi Muhammad, yang Allah SWT sendiri dan malaikat bersholawat kepadanya, pernah bersabda yang redaksinya kurang lebih, “serugi-ruginya manusia adalah yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin.”

Jadi, sekarang kita tidak harus butuh orang lain dalam menyalurkan hasrat berkompetisi.Kompetitor abadi kita adalah diri kita yang kemarin. Terdengar klise memang ungkapan “hari ini harus lebih baik dari kemarin”, tapi memang itu esensi “berkompetisi dengan diri kita yang kemarin”. Dalam berkompetisi seperti ini, kita tidak perlu bersenggolan dengan orang lain bahkan sampai merugikan orang lain, betul?

Tapi, untuk tetap mengakselerasikan diri, tetap saya memposisikan beberapa rekan dan sahabat saya sebagai kompetitor untuk memotivasi saya untuk minimal tidak kalah dengan mereka. Dalam hal ini saya harus mendongakkan kepala ke atas, melihat teman-teman saya yang sukses dengan karirnya, bisnisnya, yang mampu sholat malam setiap hari, yang jejaring sosialnya luas, dll. Dalam bahasa ibu saya ke saya dulu, “kalau si Fulan saja bisa, kenapa Gayuh tidak bisa, padahal makannya sama-sama nasi”. Simpel,tapi itulah cara ibu saya memotivasi anaknya untuk selalu bertarung.

Ataupun, jika lingkungan yang sekarang dirasakan kurang atmosfer kompetisinya, pindah ke lingkungan lain yang atmosfer kompetisinya lebih berasa positif. Daripada habis waktu berlatih sendiri, mending langsung saja join the race! Nobody walks in a race, then run and reach the finish line. Feel the race, the sweat, and the glory. The glory is only in the finish line, and celebrate it with your competitors since everybody has beaten himself.

 

 

Diketik pada 18 April 2012, di dalam pesawat GA609 UPG-CKG

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: