My Memorable Sad Ending Football Matches

Menjadi penikmat (sekaligus pemain, yg skill-less sayangnya) sepakbola tentu mengalami pahit manisnya dalam menyaksikan sekaligus menjadi penggemar sebuah tim atau negara. Saya sudah “menyukai” permainan ini sejak kelas 5 SD atau tahun 1993, dimana waktu itu teman-teman seumuran sedang menggandrungi Doraemon, Ksatria Baja Hitam, sampai serial MacGyver dan Knightrider. “Menyukai” dalam artian menonton, mengikuti beritanya di media massa, dan hafal (bukan menyengaja menghafal) nama-nama pemain, warna kaos tim, dll.  Kalau sekedar menonton, itu sudah satu tahun sebelumnya, yaitu ketika Euro 1992, ketika itu di TV (waktu itu cuma TVRI) cuma menampilkan Liga Jerman (itupun hilite-nya setiap sabtu sore). So, waktu itu tim jagoan saya Bayern Munchen sepaket dengan timnas Jerman. Ketika Jerman dikalahkan Denmark di final Euro 1992 Swedia, saya masih belum merasakan sedih karena hanya sebatas mengenal.

Namun, seiring dengan seringnya membaca media massa, tim jagoan saya pun berubah yaitu AC Milan dan Timnas Italia (lagi-lagi sepaket negara-klub!). Waktu itu ayah berlangganan koran Kompas, dan sering membeli tabloid Bola ketika mengantar ibu ke pasar di hari minggu, serta pernah ada liputan AC Milan di majalah kesayangan saya waktu SD, Bobo (siapa ga kenal majalah ini?). Waktu itu (seingat saya) belum ada yang menayangkan Liga Italia di TV. Tapi TVRI punya hilite-nya setiap sabtu sore dan minggu siang, plus tayangan Champions League. Jadi, saya “resmi” menjadi Milanisti sejak 1993.

Berikut lima pertandingan yang berakhir sad ending bagi saya, dengan alasan-alasan pribadi tentunya, dari sekian banyak pertandingan yang telah saya tonton.

1. AC Milan vs Marseille 0-1, Final Champions League 1993

Entah pertandingan AC Milan mana yang saya tonton pertama kali, namun yang paling berkesan di awal justru ketika kalah 0-1 melawan Marseille. Proses golnya pun masih membekas, yaitu dari cornerkick Basile Boli lalu disundul Abedi Pele, dan gol (apa terbalik ya pemainnya, pokoknya keduanya berkulit hitam). Saya lupa siapa saja pemain AC Milan di pertandingan itu, tapi yang saya ingat ada nama Marco van Basten (kalau tidak salah, ini salah satu pertandingan terakhirnya sebelum cedera panjang dan pensiun dini, CMIIW) dan Jan Pierre Papin. Berikut cuplikan pertandingan tersebut:


Pertandingan ini saya tonton bersama bapak di rumah, setelah sehari sebelumnya saya berulang tahun yang ke-10.  Menjadi berkesan karena justru karena kekalahan ini, saya jadi malah suka AC Milan. Besoknya ketika di sekolah, teman-teman sibuk bercerita tentang film semalam, saya tidak punya teman untuk bercerita tentang pertandingan semalam .

2.  AC Milan vs Liverpool 3-3 (2-3 pen), Final Champions League 2005

Ini salah satu pertandingan teraneh yang pernah saya tonton. Ketika itu masih kuliah dan tinggal di asrama PPSDMS Nurul Fikri. Di first half, Milan sudah unggul 3-0 atas Liverpool, dan saya anggap pertandingan sudah berakhir. Ketika half time, saya tinggal sholat dengan perasaan tenang karena sudah yakin juara. Pun dengan teman-teman seasrama yang mayoritas Milanisti atau minimal mendukung AC Milan. Bahkan saya yakin Paolo “il capitano” Maldini pasti menjadi salah satu pemain terbaik minimal se-Eropa karena dia yang mencetak gol pertama di match itu (kalau tidak salah rekor gol tercepat di Final UCL, CMIIW). Balik nonton, pertandingan sudah jalan beberapa menit dan tidak lama skor menjadi imbang 3-3. Ketika dilanjutkan ke adu penalti, feeling sudah mengatakan AC Milan bakal kalah, meski kipernya waktu itu adalah spesialis penalti, Nelson Dida. Benar dugaan saya.

Begitu Shevchenko gagal mengeksekusi penalti terakhir, teman-teman saya pun langsung menghunjami sms ucapan selamat ulang tahun plus ejekan (biasa, guyonan sesama football mania, nothing serious) ke saya. Ya, hari itu saya (lagi-lagi) berulang tahun (ke-22) bertepatan dengan final UCL (dan lagi-lagi kalahCrying).

3. Italia vs Brazil 0-0 (2-3), Final World Cup 1994

World Cup 1994 AS adalah piala dunia pertama saya yang saya ikuti dari awal sampai akhir. Masih ingat saat itu saya menyaksikan Diego Maradona yang dikalahkan Nigeria, Klinsman dan Voeller (mantan favorit saya) ditaklukkan Bulgaria dengan Stoichkov-nya, Roger Milla (38 tahun saat itu, CMIIW) yang masih sempat memeragakan tarian andalannya meski dibantai Rusia 6-1, dan Italia (jagoan saya) yang terseok-seok di awal grup bisa lolos ke final menantang Brazil dengan duo Romario-Bebeto.

Pertandingan ditayangkan dini hari, namun saat itu adalah masa liburan sekolah. Tidak heran saya menjagokan Italia, karena saat itu kerangka timnas Italia adalah pemain AC Milan . Nama-nama Baresi, Maldini, Tasotti, Evani, Albertini, Donadoni, dan Massaro menghiasi tim inti Italia saat itu, meski saya heran kenapa Arrigo Sacchi (eks pelatih AC Milan juga) tidak memanggil kiper Sebastiano Rossi yang waktu itu gawangnya paling sedikit kebobolan di Serie A (pun di CL), malah memilih Gianluca Pagliuca.

Italy vs Brazil
Formasi Brazil vs Italia di Final World Cup 1994

Pertandingan didominasi Brazil dengan jendral lapangan tengahnya Dunga (kapten). Namun Italia berhasil menahannya dengan sesekali mencuri peluang counter attack (Italia banget ya?) melalui Roberto Baggio yang waktu itu sedang tune in. Drama penalti pun tak terelakkan karena tiada gol tercipta. Sedihnya yang gagal adalah Franco il capitano Baresi gagal mengeksekusi penalti, pun juga R. Baggio. Empat dari lima penendang penalti Italia adalah pemain AC Milan, dan dua gagal plus R. Baggio yang musim berikutnya bermain di AC Milan. Sampai sekarang, wajah tertunduk Baresi dan Baggio masih terbayang di kepala saya, melebihi bayangan mereka sedang mengangkat tropi .

 4. AC Milan vs Ajax 0-1, Final Champions League 1995

 Waktu itu, hanya juara liga negara yang berhak bertanding di CL, berbeda dengan sekarang yang bisa menyertakan sampai 4 klub dari 1 negara. Tidak heran beberapa kali final CL dihiasi nama-nama klub dari liga non Italia-Inggris-Spanyol. Enam tahun sebelum 1995, tercatat nama-nama Steau Bucharest, Benfica, Sampdoria, Marseille, sampai Red Star Belgrade pernah mencicipi seremoni final Champions League. Pun di tahun 1995 ini, Ajax malah berstatus unggulan dibandingkan AC Milan sebenarnya. Di fasa grup, Ajax pernah mengalahkan AC Milan. Dan keduanya pun bertemu lagi di final.

Saya masih ingat, waktu itu Ajax dihuni pemain-pemain muda binaan sekolahnya, seperti Clarence Seedorf (masih main sampai sekarang!), duo de Boer, trio yang nantinya ke AC Milan: Kluivert, Edgar Davids, dan Reiziger. Mereka dipandu oleh senior Danny Blind (sosoknya saya perhatikan mirip Franco Baresi) dan Frank Rijkaard (mantan pemain AC Milan). Pertandingan berjalan keras dan seimbang. Namun van Gaal (termasuk pelatih muda berbakat saat itu) jeli memasukkan Kluivert (menggantikan Litmanen, CMIIW) dan dari kakinya gol tercipta di bagian akhir babak kedua.

Rupanya, 4-4-2 ala Capello kali ini tidak bisa mengulang memori setahun sebelumnya ketika mengalahkan 4-3-3 total football yang sebelumnya berwujudkan Barcelona (dengan Johan Cruyff-nya bermaterikan Romario-Stoichkov-Guardiola-Koeman) dan sekarang berwujud Ajax (trio striker Litmanen-Overmars-Finidi George).

5. Italia vs Prancis 1-2, Final Euro 2000

Pemain cadangan dan staff timnasItalia sudah berangkulan di pinggir lapangan, bersiap melakukan selebrasi kemenangan begitu pertandingan memasuki injury time babak kedua. Namun sebuah gol dari Sylvain Wiltord beberapa detik menjelang bubar benar-benar membubarkan  barisan pemain dan staff tersebut. Italia unggul terlebih dahulu via gol Delvecchio (punggawa AS Roma) dan berusaha bertahan mati-matian menghadapi gempuran Prancis yang diunggulkan dan dikomandoi oleh Zinedine Zidane. Kiper Toldo masih menunjukkan skillnya yang luar biasa mengamankan gawangnya selama 93 menit, seperti halnya di semifinal ketika mengalahkan Belanda dalam suatu drama bermain 10 orang plus dihadiahi 1 kartu merah dan 2 penalti yang gagal.

Otomatis mental bertanding Italia saat itu pudar, resiprok dengan Prancis justru menjadi panas bak mesin diesel. Menjelang akhir babak 1 extra time, sebuah umpan dari sayap kiri Prancis, diselesaikan dengan tendangan voli oleh David Trezeguet (yang langsung dikontrak Juventus pasca turnamen ini!). Kalah jagoan saya waktu itu, Italia. Masih menyesakkan dada, karena kemenangan sudah terlihat di pelupuk mata.

Sebenarnya masih ada beberapa pertandingan yang ber-sad ending bagi saya, seperti kalahnya Italia vs Korea Selatan di perempat final World Cup 2002 (pertandingan terakhir Paolo Maldini untuk timnas dan bapaknya yang waktu itu melatih Italia, dan sang wasit jelas memihak Korsel karena faktor tuan rumah) dan kekalahan AC Milan 0-4 melawan Deportivo la Coruna di UCL 2004 (padahal leg 1 sudah menang 4-1 dan berstatus juara bertahan).

Untuk domestik, kekalahan yang masih terngiang di kepala saya adalah kalahnya timnas Indonesia melawan Malaysia 1-3 di first leg final Piala AFF 2010 (kalah 1 kali dalam 1 turnamen, dan tidak menjadi juara) dan kalahnya Indonesia melawan Singapura 0-1 di semifinal Tiger Cup 1998 (sebelum menjadi AFF Cup seperti sekarang) padahal lawan itu sudah “dipilih” oleh timnas sendiri ketika Mursyid Effendi melakukan gol bunuh diri disengaja supaya terhindar bertemu Vietnam di semifinal . Dan lagi, ketika itu materi timnas Indonesia dominan dari Persebaya, klub yang saya dukung saat itu, plus pelatihnya, Rusdy Bahalwan, juga dari Persebaya.

Di ajang Liga Indonesia, dua kekalahan yang masih teringat adalah kekalahan Petrokimia Gresik (saya mendukung tentunya sebagai sesama Arek Jawa Timur) melawan Persib Bandung di final LI pertama (waktu itu Liga Dunhill namanya) dan kekalahan Persebaya melawan PSIS di final Liga Indonesia dengan gol tunggal Tugiyo yang pertandingannya diungsikan ke Manado oleh PSSI yang ketakutan akan Bonek!

Menjadi penggemar sepak bola, kalah menang itu biasa, bumbu suka duka dalam mendukung sebuah tim. Toh kita hanyalah penikmat, bukan ambil bagian dari klub atau timnas tersebut. Just enjoy it, it’s just a game!

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: