When One Teaches, Two Learn

Pada 11-12 Juli 2011 yang lalu, site tempat saya bertugas mendapat kunjungan dari 55 orang terdiri dari 49 mahasiswa Teknik Geologi Universitas Soedirman (Unsoed) dan sisanya dosen serta tamu dari PT Indika. Yang menjadi spesial di kita (saya dan teman-teman di site) adalah ini adalah kali pertama kunjungan berjumlah besar. Sebelumnya kita sering menerima kunjungan tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, tapi tidak sebanyak 50 an orang.

Acara bertajuk Ekskursi dan Site Visit ini diprakarsai oleh ANTAM, MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia atau SEG-nya Indonesia), dan Teknik Geologi Unsoed, dengan salah satu sponsor dari PT Indika Energy. Oleh karena baru pertama kalinya itu, persiapan pun luar biasa sibuk. Mulai dari mempersiapkan ijin untuk masuk ke area pertambangan PT. Cibaliung Sumber Daya, persiapan lokasi dan materi ekskursi geologi yang ideal, persiapan logistik, dan tentunya persiapan akomodasi karena mess Antam-Cibaliung hanya berkapasitas 40 orang, termasuk tamu maksimal 10 orang. Tentu saya tidak akan curhat tentang jungkir baliknya persiapan itu di sini, karena bukan itu inti tulisan ini.

Saya pribadi merasakan perasaan gembira dan bersemangat menyambut adik-adik (ciyee, berasa tua!! :D) mahasiswa ke sini. Ketika mereka datang dengan berwajah lelah dan kusut setelah menempuh lebih dari 20 jam perjalanan (Purwokerto-Cibaliung), saya justru melihat semangat yang terpancar dari mata  dan gesture mereka dalam mengikuti rangkaian acara setelahnya.

AMUIAntam-mgei-unsoed-indika @ Cibaliung
Kegiatan ekskursi lapangan di Cibeber dan Open Pit Cikoneng, Cibaliung


Dalam rangkaian acara tersebut, saya diamanahkan menjadi danlap sekaligus mentor untuk membimbing selama di lapangan. Pertama, ketika menyusun Excursion Guide berupa 2 lembar berisi review geologi singkat area Cibaliung dan sekitarnya. Tidak mudah merangkum setumpuk informasi (geologi) ke dalam selembar (lembar berikutnya berisi gambar-gambar saja) kertas dan tentunya dengan menimbang obyek pembacanya, yaitu mahasiswa (geologi). Setelah membuka beberapa published paper dan report, tersusunlah 1 lembar itu. Menariknya, justru saya banyak mendapatkan serpihan informasi-informasi baru dari membaca ulang tadi. Padahal paper dan report tersebut sudah saya baca sejak awal bertugas di site ini. Jadi, memang berbeda antara membaca paper dan report tersebut ketika awal saya ditugaskan di site (September 2010) dan sekarang (Juli 2011). Pelajaran pertama yang saya petik adalah bahwa sebuah buku atau sumber informasi akan memberikan informasi yang berbeda sesuai dengan level pemahaman kita pada saat itu. Itulah mengapa di dalam Islam, muslim diperintahkan untuk membaca dan mengkhatamkan Al-Quran secara periodik dan terus-menerus. 

Pelajaran pertama yang saya petik adalah bahwa sebuah buku atau sumber informasi akan memberikan informasi yang berbeda sesuai dengan level pemahaman kita pada saat itu.

Lalu berikutnya, ketika bertindak sebagai travel guide (dalam arti yang sebenarnya, yaitu pembimbing jalan yang biasanya bertugas di bis-bis pariwisata untuk menjelaskan daerah yang dikunjungi). Awalnya saya bingung harus berbicara selama 1 jam (rute Mess-lokasi ekskursi) untuk menceritakan kondisi geologi ataupun non-geologi daerah Cibaliung. Dengan melihat obyek yaitu mahasiswa geologi, tentunya materi geologi akan cepat diserap dan tidak perlu berputar-putar menjelaskan teorinya, dan lagi ringkasannya sudah saya tuangkan di Excursion Guide. Untuk mengulur waktu supaya 1 jam perjalanan menjadi produktif, saya menggunakan taktik berdiskusi. Jadi bukan satu arah yaitu saya yang menjelaskan panjang lebar. Beberapa kali saya pancing dengan pertanyaan atau beberapa informasi saya tahan tapi saya singgung sedikit supaya ada yang bertanya. Alhasil sukses, beberapa pertanyaan cerdas meluncur dari para mahasiswa maupun dosen. Jika ada pertanyaan yang saya tidak mempunyai ilmu di sana, seperti pertanyaan teknis penambangan dan tentang Community Development, tentunya hanya saya jawab sepengetahuan saya tetapi saya menjanjikan mereka akan mendapatkan jawabannya pada forum setelahnya. Tak terasa waktu 1 jam berlalu, bis sampai di tujuan ekskursi.

Antam-mgei-unsoed-indika @ CibaliungAntam-mgei-unsoed-indika @ Cibaliung

Aktivitas belajar mengajar di Core Shed Mess ANTAM-Cibaliung

Ketika terjadi diskusi ilmiah dengan mahasiswa, baik di lapangan (saya menyebutnya “sekolah pinggir sungai” karena geologist umumnya berhenti dan melakukan pengamatan di batuan yang tersingkap di dinding-dinding sungai) maupun di Core Shed & Storage (gudang penyimpanan inti bor) ataupun diskusi aftershow , saya melihat antusiasme akademis (saya mengistilahkannya demikian :)) terpancar dari para mahasiswa. Hal ini yang membuat saya bernostalgia beberapa tahun ke belakang, di saat saya masih kuliah. Saya serasa melihat cermin diri saya yang saat itu haus akan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari proses pengembangan diri.

Saya serasa melihat cermin diri saya yang saat itu haus akan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari proses pengembangan diri.

Hasrat dan naluri seperti itu yang saya inginkan terevitalisasi di diri saya. Bisa dikatakan, saat itu merupakan saat-saat terindah dalam hidup. Sontak saya teringat salah satu cita-cita saya adalah menjadi pengajar, entah itu guru atau dosen. Cita-cita itu muncul ketika masih tingkat 3 kuliah dan menjadi asisten pengajar laboratorium. Waktu itu saya menemukan kenikmatan dalam membagi ilmu (sharing knowledge) ke rekan-rekan angkatan yang lebih muda. Pun ketika menjadi mentor di kuliah agama dan acara penerimaan mahasiswa baru (kampus dan himpunan). Teringat pula cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

Dari sekian puluh mahasiswa, saya mencoba mencari “duplikat” diri saya di antara mereka. Saya pun mencoba mengamati (secara umum saja tentunya) sisi psikologi mahasiswa-mahasiswa tersebut. Fyi, saya menggunakan kuadran psikologi Florence Littauer yang sederhana dalam membagi manusia, yaitu Koleris, sanguinis, plegmatis, dan melankolis. Saya mencoba “membaca” karakter seperti apa yang disukai pengajar, yang haus akan ilmu, yang haus akan networking (berkenalan), yang berbakat “mengurus” teman-temannya, yang dijadikan pemimpin oleh teman-temannya, yang berbakat menjadi pusat perhatian, atau yang sekedar ambil bagian dari acara tanpa target tertentu.

Jadi sesungguhnya, pada acara ini sesungguhnya bukan hanya mahasiswa saja yang belajar, saya dan teman-teman di site juga belajar banyak hal, baik akademis/ilmiah maupun non akademis. Di acara penutupan, saya diberikan waktu berbicara di depan forum, dengan mengemukakan apa yang saya pribadi pelajari dari rangkaian acara ini yaitu “When one teaches, two learn”.

5 comments: On When One Teaches, Two Learn

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: