AC Milan 2010/2011 : Badai Cedera Di Lini Tengah Yang Menyegarkan

AC Milan
AC Milan

Masih teringat pertandingan Real Madrid vs AC Milan di Estadio Bernabeu ketika dua gol Oezil dan Ronaldo membenamkan Milan malam itu. Di lapangan kita melihat pasukan lini tengah Milan bermaterikan Seedorf, Pirlo, Gattuso. Mereka adalah nama-nama jadul yang membawa Milan menjuarai UCL 2006/2007 bahkan UCL 2003/2004. Tidak mengherankan saat itu Oezil, Ronaldo, Di Maria, dan sederet pasukan muda El Galacticos mendominasi “pasukan tua” Milan.

Sebenarnya, dari musim ke musim Milan selalu berupaya untuk menyegarkan lini tengahnya. Tercatat nama-nama Johann Vogel, Emerson, Yohann Gourcuff, Flamini, dan masih ada beberapa. Namun nama-nama itu selalu tenggelam di bawah kuartet Pirlo-Seedorf-Gattuso-Ambrosini. Di musim 2010/2011 ini, Milan mencatatkan nama Kevin Prince Boateng dari Genoa. Dua pertandingan awal di Serie A menunjukkan Allegri, pelatih Milan, masih mempercayai kuartet tersebut di tim inti.

Namun, badai cedera beruntun di akhir Oktober ini yang memaksa Milan untuk menggusur patron kuartet midfielder tadi. Ketika kuartet tersebut dilanda cedera, di sinilah titik balik kebangkitan Milan musim ini. Milan hanya sekali kalah (ketika melawan AS Roma) di Serie A dan Copa Italia sejak awal November hingga akhir Januari 2011. Terhitung ada sebelas nama mengawal posisi centrocampista Milan hingga Januari 2011.

Flamini dan Boateng menjadi awal penyegaran di lini sentral Milan, ketika Gattuso, Pirlo, dan Ambrosini bergantian cedera di awal Oktober hingga Januari 2011. Hasilnya? Lini tengah Milan lebih bervariasi dan bertenaga berkat suntikan dua “box to box midfielder” ini. Demi menunjang ketajaman tridente Ibra-Pato-Robinho/Ronaldinho, Allegri tak segan untuk memainkan tiga gelandang angkut air. Kadang tiga gelandang plus seorang trequartista untuk menopang duo striker.

Boateng pun tidak canggung dimainkan di posisi belakang dua striker di pekan 15 dan 16. Terbukti dua gol Boateng di dua pertandingan tersebut. Januari 2011, ketika Boateng dan Flamini pun masuk ke ruang perawatan cedera, dua bocah primavera Milan pun turut mewarnai lini tengah Milan, yaitu Rodney Strasser dan Alexander Merkel. Keduanya pun sudah turut menyumbangkan gol. Strasser menjadi pahlawan dengan gol tunggalnya ke gawang Cagliari di laga perdana tahun 2011. Alhasil, dari delapan midfielder, tujuh (selain Gattuso) sudah mencatatkan namanya sebagai pencetak gol Milan musim ini.

Di Januari, menyusul Strasser dan Seedorf yang cedera. Allegri pun berkreatif dengan memplot Tiago Silva di central devensive midfielder. Hasilnya? Tiga kemenangan berturut atas Cesena, Sampdoria, dan Catania. Saya pun teringat akan sosok Desailly di medio 90-an yang tangguh di lini tengah Milan. Saya pun menunggu Pirlo pulih dan duet dengan Silva di lini tengah, yang akan membawa saya bernostalgia dengan duo Desailly-Albertini di era keemasan Fabio Capello. Yang satu kuat di fisik dan stamina serta antisipasi dan tackling sempurna, satunya bervisi tajam dengan passing akurat.

Duo Desailly-Albertini ketika membawa Milan menjuarai Champions Cup 1994/1995

Di masa transfer tengah musim, manajemen Milan pun tanggap. Dua nama dilabuhkan untuk mengisi barisan centrocampista Milan mengingat Milan hingga saat ini masih aktif di tiga kompetisi (capolista di Serie A, semifinal Coppa Italy, dan fase knockout UCL), yaitu Urby Emmanuelson dan Mark van Bommel. Keduanya bahkan langsung menjalani debut meski belum genap seminggu menginjakkan kaki di Milan, ketika Milan mengalahkan Sampdoria di Coppa Italy. Urby diboyong untuk mengisi kekosongan central (left) midfield dan sudah lama Milan tidak mempunyai gelandang berkaki kidal sejak Serginho pergi. Bommel dikontrak jangka pendek (enam bulan), nantinya diplot di devensive midfielder, bergantian dengan Pirlo, Gattuso, dan Silva.

Tidak ada lagi untouchable player di AC Milan musim ini seperti musim-musim sebelumnya. Ditambah Allegri adalah orang yang percaya pada performa pemain di latihan dan pertandingan. Buktinya, Ronaldinho tersingkir dari tim utama akibat dinilai lalai dalam menjaga kondisi fisik di luar lapangan. Termasuk pula Seedorf, yang sempat tersingkir di awal musim dan sempat menjadi flop of the match di beberapa match awal tahun, belum tentu mendapat jatah regularnya ketika kembali dari cedera nantinya. Sepuluh midfielder (plus Silva berarti sebelas) memperebutkan jatah tiga centrocampista. Komposisi lini tengah Milan ditilik dari umur: 5 orang di atas 30 tahun, 3 orang berusia 20-an, 2 dan orang U-20.

Dengan lini tengah yang kokoh dan kreatif, imbas di lini depan adalah kenyamanan, variasi dan kreasi serangan untuk  duo atau tridente Ibrahimovic, Robinho, Cassano, dan Pato sambil menunggu pulihnya Inzaghi, sang supersub.

4 comments: On AC Milan 2010/2011 : Badai Cedera Di Lini Tengah Yang Menyegarkan

  • hehehe.. inget jaman itu pengganti FR yeee manteb juga
    jadi transisinya pas banget kalau inget komposisi sekarang

    • Betul! Desailly dibeli setelah dia juara Champion Cup (Marseille) di musim sebelumnya (ngalahin Milan -___-” ). Dia pemain pertama yang bisa juara 2x CC/UCL berturut di klub berbeda.

  • Wah, bola mania, gak mudheng.. 🙂

  • ikutan komeng ah ^_^

    artikel bagus om gupernur 😀
    bikin aja lanjutannya
    “AC Milan 2010/2011 : Badai Cedera Di Lini Tengah Yang Menyegarkan Part II”

    TS waktu leg 1 lawan spurs kurg mantep maennya.
    ngarep van bommel, tp syg bgt doi gk bs maen di UCL.
    klo dia bs maen, di UCL psti beda ceritanya T_T.

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: