Pencitraan, Salahkah? (Terkait Era Jejaring Sosial)

Media Jejaring Sosial
Media Jejaring Sosial

Ketika mendengar kata “pencitraan”, pikiran saya langsung melayang pada satu sosok, yaitu Presiden kita, Pak Beye. Sejak 2004, sesaat setelah Pemilu yang mengantar Pak Beye menduduki tahta RI 1, kata-kata itu mulai hangat dibicarakan dan lakonnya ya tentu Pak Beye. Tenang, tulisan ini tidak akan jatuh ke ranah politik yang saya sendiri sudah mulai jenuh membicarakannya saat sekarang.

Di era social networking sekarang ini, “pencitraan” tumbuh subur dengan pupuk bernama facebook, twitter, foursquare, plurk, flickr, koprol, dll sampai ke level tertinggi suatu soc-net yaitu blogging.

Blogging, saya sebut sebagai level tertinggi suatu social networking di dunia internet, sementara facebook, twitter, dan sejenisnya merupakan jenis “microblogging” atau penyederhanaan dari “ngeblog” atau mencurahkan opini, imajinasi, dan kritik melalui dunia internet.


Dari anak SD hingga kakek-nenek, dari tukang cukur sampai presiden, pun sudah merasakan manfaat soc-net ini. Cukup dengan “update status” maka aktivitas, pikiran, curhat, dan gambar seseorang terpampang di “papan pengumuman” yang bernama internet dimana siapa saja bisa membacanya. Tentu ini sarana yang praktis untuk pencitraan atau ABG sekarang menyebutnya “narsis”.

Dengan pencitraan yang pas, tentunya dengan tambahan bumbu racikan sendiri, jadilah peristiwa penculikan gara-gara facebook. Cuma dengan modal foto dan profil yang terpampang di facebook, plus beberapa kali chatting, dengan mudah seseorang tertipu dan berujung pada penculikan bahkan pemerkosaan.

Dalam ruang kehidupan, pencitraan positif tentu mutlak diperlukan, tentu harus berujung dengan kapasitas pribadinya. Sebenarnya, dengan kapasitas pribadi yang excellence (entah kenapa saya suka istilah ini wekks) seseorang akan tercitrakan positif di orang lain. Jadi tidak perlu repot-repot dengan “politik pencitraan” dan sebagainya (cukup sampai sini ranah politiknya!) Nah, di dunia maya atau internet, tulisan dan gambarlah yang berbicara tentang kapasitas seseorang. Maka sekarang orang berlomba-lomba mengupdate status dan mengunggah gambar sebagus-bagusnya dan sebanyak-banyaknya di jejaring sosialnya.

Sampai-sampai, hanya sekedar “ngantuk” atau “sakit perut” pun masih harus dituliskan di status facebook. (please don’t do that ever, friends! it’s absolutely annoying!) wkwkwk

Jadi kalau Megawati Soekarnoputri selalu meributkan tentang “pencitraan”, tentunya salah kaprah dan salah zaman. Sekarang memang era pencitraan. wekks

http://www.google.com/url?sa=t&source=web&cd=2&ved=0CBYQFjAB&url=http%3A%2F%2Fen.wikipedia.org%2Fwiki%2FExcellent&rct=j&q=excellent%20wiki&ei=ZY–TLKTK4q8vgOj7_Qp&usg=AFQjCNFhKqd027BkXM-mDgYRaLwhvdQYPQ&cad=rja

2 comments: On Pencitraan, Salahkah? (Terkait Era Jejaring Sosial)

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: