Cerita Dari Perbatasan Indonesia-Papua Nugini (Bagian 2)

Profil Pemuda Perbatasan


Sesuai dengan janji saya di post sebelumnya, saya tuliskan bagian kedua dari pengalaman dan pandangan saya selama dinas ke Oksibil, Papua kemarin. Cool

Peta Papua dan Lokasi Oksibil
Peta Papua dan Lokasi Oksibil
P8080606
Peta Administrasi Oksibil

Namanya Alex Emos. Tinggal di sebuah desa bernama Ok Pasik (Ok berarti air atau sungai dalam bahasa setempat), yang berketinggian di atas 2500 meter di Kab. Pegunungan Bintang, Papua. Hanya berjarak lebih kurang 15 km dari perbatasan Papua Nugini (PNG). Umurnya 22 tahun, asli lahir di bumi Indonesia. Ketika saya pertama kali berkenalan, saya kaget ternyata dia fasih berbahasa inggris dan malah tidak bisa berbahasa indonesia. Rasa penasaran membuat saya menginterview dia sedikit demi sedikit dari hari ke hari, kebetulan dia menjadi asisten saya di lapangan.

DSCF1012 (2)

Kota Oksibil, ibukota Kab. Pegunungan Bintang

Usut punya usut, dia menyelesaikan 6 grade ‘primary school’ selama 6 tahun di PNG (selevel SD namun berjenjang 8 tahun). Menariknya, bahasa yang digunakan di sekolah itu adalah english, tidak ada bahasa pisin (bahasa asli PNG)! Agak mengherankan bahwa pemerintah PNG mendirikan sekolah di sebuah kawasan pegunungan (2000-3500 m dpl) dengan bahasa pengantar english. Apa memang sekolah itu ‘khusus’ didirikan untuk warga Indonesia perbatasan?

DSCF1425
Alex dan Ronny, dari Kampung Ok Bon

Sejalan dengan Alex, kakaknya, yang bernama Ronny, punya ambisi dan cita-cita yang sangat tinggi untuk ukuran warga sana yaitu menempuh studi hingga universitas. Ronny, kakak Alex yang diadopsi Ayah Alex ketika masih kecil, malah sudah menyelesaikan High School (grade 9 dan 10), semuanya di PNG. Tak heran, englishnya paling bagus di antara yang lain. Umurnya 27 tahun. Dia ikut bekerja dengan kami (baca: Antam) demi mengumpulkan uang untuk kuliah nantinya. Tahun kemarin dia sudah lolos ujian masuk National High School (selevel SMU namun cuma 2 tahun), namun karena keterbatasan dana, dia tidak lanjut mendaftarkan dirinya. Sebelum bekerja bersama kami, mereka bekerja di PNG. Pernah menjadi tukang kayu, tukang las, dsb.

Untuk bersekolah di Tabubil, kota terdekat di PNG, mereka harus membayar cukup mahal. Primary School harus ditebus dengan 250 Kina setahun. Lalu untuk High School, setahunnya 1600 Kina. National High School di harga 2600 Kina, dan universitas 5000-6000 Kina. Sebagai catatan, 1 Kina sama dengan Rp.3000,- dan di desa mereka, mata uang ini yang lebih banyak beredar dan digunakan, bukan rupiah.

Keluarga besar mereka rupanya berkultur pendidikan. Dua di antara anggota keluarga yang sukses adalah seorang pilot maskapai penerbangan komersial dan seorang pengusaha bisnis pariwisata di Bali. Kesuksesan keduanya ditempuh melalui jalur pendidikan. Inilah yang mendorong anggota keluarga yang lain untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

P9030808
Keluarga besar Desa Ok Pasik (Chesom, Timothy, Chales, Alex, Assou, and Mr. X)

Keduanya tidak bersekolah di bumi Indonesia karena memang tidak ada sekolah di desanya, Okbon. Bukan karena alasan nasionalisme dan sebagainya. Sesuatu yang saya salut kepada mereka adalah semangat mereka untuk menuntut ilmu yang berkobar, tidak peduli dengan umur mereka yang sudah berkepala dua. Mengingat juga mereka berasal dari sebuah kampung di pedalaman.

17 comments: On Cerita Dari Perbatasan Indonesia-Papua Nugini (Bagian 2)

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: