Cerita Dari Perbatasan Indonesia-Papua Nugini (Bagian 1)

Beberapa saat lalu, saya ditugaskan kantor untuk dinas (baca eksplorasi) di Oksibil, Kab. Peg. Bintang. Sebuah daerah di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Perjalanan dari Jakarta menuju Jayapura ditempuh dalam waktu 7 jam. Lalu dari bandara Sentani menuju Oksibil, area eksplorasi, ditempuh dengan helikopter selama 1,5 jam ke arah selatan (lihat peta). Sentani sendiri merupakan ibukota Kab. Jayapura. Kota Jayapura ditempuh dalam waktu 1 jam perjalanan darat dari Sentani. Kota Sentani tampak dikelilingi perbukitan dan pegunungan. Ada pula Danau Sentani di sebelah selatan bandara, namun tampaknya saya belum sempat berkunjung ke sana kali ini.

Peta Papua dan Lokasi Oksibil
Peta Papua dan Lokasi Oksibil

11102010618 DSC01756

Foto-foto yang diambil dari Bandara Sentani, yang tampak dikelilingi perbukitan.

11102010620  DSC01865
Foto-foto Danau Sentani, diambil dari helikopter dan pesawat.

Area eksplorasi berbatasan langsung dengan PNG di sebelah timurnya. Perjalanan menggunakan helikopter sangat memanjakan mata. Danau Sentani, untaian perbukitan dan pegunungan, hutan, dan sungai sangat indah dipandang dari ketinggian yang tidak terlalu tinggi. Pegunungannya sendiri bukan produk dari aktivitas vulkanik, tetapi terlihat jelas garis-garis strata khas batuan sedimen, berupa batugamping dan klastik berumur 140 juta (Kapur) sampai 25 juta tahun lalu (Miosen), yang terlipat dan teranjakkan secara kuat hingga setinggi 2500-3000 m dpl.

DSC01850  DSC01847
Perjalanan dari Sentani menuju Kota Oksibil dan area eksplorasi

Kata penduduk setempat, kurang lebih 40 km dari perbatasan tersebut, ada industri pertambangan emas-tembaga, disebut Ok Tedi.

Sebagai catatan, di sini, nama-nama tempat banyak yang diawali kata “ok” yang artinya air atau sungai atau danau. Seperti halnya di Jawa Barat yang memakai kata “ci”, atau di Jawa “Banyu” dan “Kali”, serta di Jambi “Batang” (di Amerika pun sama, konon nama “California” diambil karena bersebelahan dengan “Kalimalang” )

Memang, secara geologi di Papua terbentang ‘sabuk emas-tembaga’ yang memanjang barat-timur. Di PNG sendiri telah berbaris raksasa-raksasa mining industries mulai dari BHP, Rio Tinto, dll (peta). Daerah tersebut dulunya merupakan area eksplorasi Ingold, sebuah anak perusahaan Vale, raksasa pertambangan asal Kanada. Diharapkan nantinya, kandungan logam emas dan tembaganya dapat diekstrak melalui sebuah industri pertambangan level worldclass seperti tetangga sebelah barat, PT  Freeport, dan tetangga sebelah timur, BHP, Ok Tedi, oleh tangan dan pikiran putra-putra Indonesia sendiri. keren

Mining Industries in PNG
Industri Pertambangan di PNG

Penduduk di area kerja saya, Oksibil, rata-rata penduduk asli Papua, dengan berbagai macam suku dan klan. Kadang, dengan jarak hanya 5 km, kita bisa jumpai 2 klan yang berbeda dengan bahasa yang berbeda. Atau berbahasa sama, namun aksen berbeda. Uniknya, rata-rata mereka fasih berbahasa Inggris. Itu disebabkan, mereka bersekolah bukan di Indonesia, melainkan di Tabubil, sebuah kota PNG di dekat perbatasan. Dari kampung mereka, jarak sekolah Indonesia terdekat adalah tiga hari berjalan kaki, sedangkan Tabubil hanya berjarak satu hari berjalan kaki. Bahasa pengantar di sekolah adalah English, bukan bahasa asli PNG yaitu Pisin dan Hirimotu (sebenarnya, Pisin sendiri mirip Bahasa Inggris dalam banyak katanya). Rupanya Pemerintah PNG jauh lebih peduli warganya yang di perbatasan daripada Pemerintah RI. malu

DSC01764 DSC01769

Setibanya di Lokasi

Sempat terjadi konflik dengan pihak yang mengatasnamakan puluhan suku/klan di area eksplorasi. Mereka menolak kedatangan tim ini. Namun, itu semua ditengarai hanya ulah beberapa oknum yang mengatasnamakan keseluruhan suku-klan di sana. Dicurigai pula (mudah-mudahan TIDAK BENAR), mereka terprovokasi oleh pihak luar, entah itu perusahaan lain ataupun negara lain yang tidak menginginkan RI menambang area tersebut. Namun, masalah ini sementara bisa diatasi karena lebih banyak suku-klan yang mendukung keberadaan kami disini karena mereka merasa nyaman dengan kedatangan kami dan bekerja dengan kami. Saya sendiri selalu mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka. Selain itu, kita sering menceritakan hal-hal tentang Indonesia kepada mereka supaya wawasan mereka tentang Indonesia terbuka. Semua itu supaya mereka bisa merasa nyaman untuk ‘menjadi warga negara Indonesia’ dan nyaman bekerja dengan kita sekarang maupun nantinya.

Pada dasarnya mereka sangat baik dan ramah. Suka belajar hal-hal baru. Jauh dari bayangan semula saya sebelum berangkat ke sana, yaitu sebuah suku terasing yang berpakaian ala kadarnya, primitif, tertutup dengan hal-hal baru, dan bodoh. Setiap pagi, kita berlomba untuk lebih dahulu menyapa ‘good morning’. Jika menginginkan sesuatu, mereka meminta ke kita dengan santun. Mereka pun senang belajar hal-hal baru. Ketika di lapangan, para geologist termasuk saya dengan senang hati mengajarkan bagaimana mengoperasikan GPS, pengenalan geologi dasar tentang batuan dan mineral, ilmu kompas dan peta, dll. Mereka pun dapat dengan cepat memahami dengan kepolosan mereka.

Saya sendiri juga belajar banyak dari mereka. Mereka seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, yaitu suka bermusyawarah. Pada malam hari, mereka sering duduk melingkar untuk membahas suatu hal. Sangat demokratis, setiap orang berhak menyampaikan pendapat, dan ditampung oleh sang pimpinan rapat. Saya sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena menggunakan bahasa asli mereka. Tapi yang saya lihat, hampir tidak ada emosi atau bantah-bantahan dalam setiap rapat mereka. Mereka pun sangat religius, mayoritas Kristen dan beberapa Advent. Setiap pagi saya lihat mereka berdoa bersama sebelum berangkat kerja. Tak lupa juga setiap minggu mereka melakukan misa di camp, dipimpin oleh seorang sesepuh di antara mereka.

DSCF1428 DSC01794

Hewan khas Indonesia Timur, Kanguru dan Kuskus.

Permasalahan kadang terjadi dalam hal perbatasan. Di sana, tiap suku-klan punya batas wilayah masing-masing. Kadang kalau kita meriset area tertentu, harus lapor ke kepala suku/klan dan terkadang disertai konsekuensi keterlibatan penduduk dari suku/klan tersebut. Ada juga suku tertentu yang melarang kita untuk sekedar melewati teritori mereka yang berkonsekuensi kita menempuh jalan yang lebih jauh untuk mencapai target kita.

DSC01790 DSCF1394

Suasana Kerja di Lapangan

Keseluruhan, masalah-masalah sosial sejauh ini bisa tertangani dengan baik dengan jalan pendekatan-pendekatan sosial, kekeluargaan, dan personal. PT Ingold dulunya pernah diusir oleh warga karena ‘kaku’ dalam hal seperti ini dan konon karena menamakan salah satu area prospek mereka sebagai ‘Anon Mitiki’ atau ‘anjing hitam’ yang menyebabkan warga sekitar tersinggung dan marah lalu mengusirnya. Mungkin (juga) kata tersebut merunjuk pada ore (bijih) target yang memang berwarna hitam, karena didominasi mineral magnetit. Penamaan area prospek seperti itu juga dijumpai di Freeport, yaitu Kucing Liar di Grassberg.

Tentu, sebagai perusahaan milik negara, kita tidak hanya bermisi komersial, namun juga misi CSR  (Corporate Social Responsibility) sebagai pioneer masyarakat yang tertinggal di pedalaman. Hal ini sesuai misi perusahaan kami. Untuk itu, tidak seperti perusahaan swasta lain, masalah CSR selalu mendapat porsi lebih untuk dikedepankan berdampingan dengan sisi bisnisnya. Karena selain sebagai perusahaan negara, Antam harus bertanggung jawab kepada stake holder mereka tentang aspek bisnis dan komersialnya mengingat Antam adalah perusahaan yang terbuka di pasar saham.

Jadi, jika Ingold dahulu menganggap daerah ini kurang menarik dari sisi ekonomis, belum tentu Antam menilai serupa karena pertimbangan-pertimbangan lain yang telah disebutkan di atas.

DSC01823 DSC01828

Pulaaannngg!!

Tak terasa sudah tiga minggu di sana. Ada panggilan dari kantor Jakarta untuk segera pulang. Mudah-mudahan saya dikirim lagi untuk dinas ke sana, mengingat banyak hal yang bisa saya pelajari, baik dari sisi keilmuan geologi dan pertambangan, maupun dari sisi-sisi lain seperti kearifan lokal, budaya, psikologi, dan sosial.

Tunggu saja sambungan dari tulisan ini. wekks

4 comments: On Cerita Dari Perbatasan Indonesia-Papua Nugini (Bagian 1)

  • Pingback: Cerita Dari Perbatasan Indonesia-Papua Nugini (Bagian 2) | Gayuh is Geopreneur™ ()

  • Pingback: Notable Papers on Porphyry Copper Deposit | Gayuh Nugroho Dwi Putranto ()

  • Menarik! Sejak ada kawan pindah ke Tabubil, saya baru nyadar kalau Pegunungan Bintang itu ternyata bukan hanya nama kabupaten di Papuanya Indonesia tapi memang nama pegunungan (seperti Jayawijaya dan Sudirman) yang kebetulan barisannya melintasi Papuanya Indonesia sampai ke Papua Niugini.

    Kaget baca caption foto kawan, “Tabubil, Star Mountains”… ternyata kalau dipikir-pikir, Tabubil dan Ok Sibil sama-sama ending in -bil… terus sungai besar di Tabubil (yang kebetulan juga menjadi nama tambangnya) namanya Ok Tedi. Kebetulan dalam rumpun bahasa Trans-Papua ada keluarga bahasa-bahasa Ok yang penuturnya tersebar di seputaran perbatasan Papuanya Indonesia dan PNG. Kata kawan yang tinggal di sana, Tabubil-Oksibil jaraknya sekitar 4 hari perjalanan, jalan kaki… artinya cukup dekat untuk wilayah satu suku. Saya kira menarik juga kalau benar orang Tabubil dan orang Oksibil ternyata bisa saling komunikasi pakai satu bahasa daerah, cuma orang Tabubilnya gak bisa bahasa Indonesia dan orang Oksibilnya gak bisa Tok Pisin…

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: