Sekilas Keterkaitan Geologi dan Kemiskinan di Jawa Timur

Kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi konsumsi dasar dan meningkatkan kualitas hidupnya. Kemiskinan terkait dengan sistem sosial , sistem ilmu dan teknologi, dan sistem alam.

Sistem sosial meliputi pola pikir masyarakat dalam berwawasan luas ke depan guna memperoleh peluang untuk hidup lebih baik serta sistem nilai yang dianut untuk menunjang apresiasi terhadap kerja keras dan persaingan sehat. Sistem ilmu dan teknologi mencangkup akses masyarakat terhadap teknologi untuk memberikan nilai tambah pada kehidupannya. Sedangkan sistem alam adalah daya dukung alam terhadap kehidupan manusia yang meliputi kesuburan, keterdapatan air, bentang alam, energi, sumber daya mineral, dan bencana alam.

Gelung-gelung keterkaitan sistem alam/geologi dengan kemiskinan dapat dilihat pada bagan 1.

Gelung-gelung keterkaitan antara kemiskinan SDA (geologi), IPTEK, dan kemiskinan

Bagan 1: Gelung-gelung keterkaitan antara kemiskinan SDA (geologi), IPTEK, dan kemiskinan
(Sampurno, 1993)

Dalam tulisan ini, penulis membatasi pada kajian pola hubungan antara sistem alam khususnya kondisi geologi dan dengan distribusi kemiskinan serta penyertaan aspek geologi sebagai bagian dari solusinya, dengan spesifikasi masalah di Provinsi Jawa Timur.

Peta Geologi dan Kemiskinan Jawa Timur

peta fisiografis jawa timur gayuh.putranto.net

Peta Geologi Jawa Timur

peta distribusi kemiskinan jawa timur http://gayuh.putranto.net

Peta distribusi kemiskinan Jawa Timur


Peta kemiskinan Jawa Timur diperoleh dari publikasi ‘Analisis Indikator Makro Propinsi Jawa Timur 2004’ yang dirilis oleh BPS dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang kemudian diplot pada sebuah peta (Gambar 3). Sedangkan Peta geologi Jawa Timur disadur dari buku ‘The Geology of Indonesia’ yang diterbitkan pada 1949 oleh geologiwan Belanda RW. van Bemmelen (Gambar 2).

Di dalam peta tersebut, Jawa Timur dibagi secara bentang fisiografis menjadi enam zona yang membentang barat-timur. Berikut dibahas keterkaitan antara kondisi geologi dengan kemiskinan pada enam zona fisiografis tersebut.

1. antiklinorium Rembang (Zona Rembang),

Zona ini meliputi pantai utara Jawa yang membentang dari Tuban ke arah timur melalui Lamongan, Gresik, dan hampir keseluruhan Pulau Madura. Merupakan daerah dataran yang berundulasi dengan jajaran perbukitan yang berarah barat-timur dan berselingan dengan dataran aluvial. Lebar rata-rata zona ini adalah 50 km dengan puncak tertinggi 515 m (Gading) dan 491 (Tungangan). Litologi karbonat mendominasi zona ini dan tampak sebagai tinggian terumbu karang purba di beberapa tempat dari Tuban hingga Gresik.

Aksesibilitas cukup mudah apalagi dilewati oleh jalur lintas utara/pantura. Karakter tanah keras pada batu gampingnya dan lunak pada dataran aluvialnya. Potensi pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat ada pada bidang perikanan, pertambakan dan industri garam di daerah pesisir, industri kapur, pariwisata gua-gua kapur, olah raga panjat tebing, penggalian batu kapur, batu pasir kuarsa (Formasi Ngrayong) dan industri pengolahannya, serta pertanian lahan kering. Pembangunan pelabuhan dan pusat-pusat perikanan di daerah pesisir perlu juga mempertimbangkan aspek geologi guna keoptimalan kegunaannya kelak.

Dari peta kemiskinan, tampak bahwa kemiskinan di zona ini berkisar pada angka 15-30% atau sedang, kecuali Gresik (8,81%) dan Sampang (39,33%). Potensi migas pada zona ini, termasuk juga di Pulau Madura sangat besar. Beberapa perusahaan migas beroperasi di zona ini. Untuk itu perlu ditingkatkan perolehan pemda-pemda untuk kesejahteraan masyarakatnya.

2. zona depresi Randublatung,

Zona Randublatung berupa zona yang datar yang diapit oleh dua zona perbukitan (Zona Rembang dan Zona Kendeng) yang membentang dari Cepu, Dander, Ngimbang, Wonokromo, dan Surabaya. Karakter tanahnya lunak karena sebagian besarnya ditutupi oleh batu lempung, aksesibilitas mudah, adanya aliran Bengawan Solo memungkinkan untuk berperan dalam irigasi persawahan. Untuk itu, potensi pertanian perlu diperhatikan untuk menjadi prioritas pembangunan. Di beberapa titik, adanya bukit-bukit terisolir batu gamping seperti di Dander, Bojonegoro, dapat digunakan untuk industri oleh masyarakat setempat  untuk meningkatkan penghasilannya.

Dataran yang rata sangat cocok untuk kawasan perumahan dan pemerintahan yang nantinya akan terbentuk sarana-sarana ekonomi masyarakat dengan sendirinya.

Di bidang industri migas, zona ini sudah menjadi primadona sejak lama. Pengoptimalan bagi hasil kepada pemerintah daerah setempat dapat digunakan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pada zona fisiografis ini, catatan presentase kemiskinan menunjukkan angka sedang (15-30%) sampai rendah (Gresik dan Surabaya). Di Surabaya sendiri, sebagai ibukota provinsi, masalah kemiskinan lebih dikarenakan faktor urbanisasi.

3. antiklinorium Kendeng (Zona Kendeng),

Merupakan zona perbukitan yang membentang dari Kabupaten Bojonegoro bagian selatan, Jombang, Mojokerto, dan berakhir di dataran alluvial Sungai Berantas. Jajaran perbukitan tersebut memberikan arah kelurusan barat-timur dan tersusun oleh sedimen laut berumur Tersier.  Di Ngawi, zona ini terpotong oleh Bengawan Solo membentuk depresi lokal.

Merupakan tantangan baru bagi pengembangan eksploitasi migas seiring dengan ditemukannya beberapa sumur pada Zona Kendeng ini seperti daerah Wunut, Mojokerto dan Tanggulangin, Sidoarjo. Adanya industri migas ini diharapkan dapat memberikan pendapatan lebih pada penduduk sekitar pada khususnya dan bagi Pemerintah Daerah setempat pada khususnya.

Potensi pengembangan wilayahnya ada pada pertanian lahan kering, kehutanan, industri kapur, dan pariwisata. Pembangunan bendung irigasi dapat diprioritaskan pada zona ini mengingat di sebelah utaranya adalah Zona Randublatung yang sangat datar dan potensial untuk area persawahan.

Peta distribusi kemiskinan menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di zona ini sedang (15-30%), kecuali pada ujung timur (Sidoarjo) dimana muara aliran Sungai Berantas yang bercabang dua menjadi Sungai Surabaya/Kali Mas dan Sungai Porong. Daerah ini dulunya merupakan pusat pelabuhan kerajaan Majapahit sehingga sudah merupakan sarana ekonomi bagi masyarakat.

4. Zona pusat depresi Jawa (Zona Solo, subzona Ngawi)

Zona depresi Jawa merupakan sebuah depresi lipatan sinklin yang berbatasan di utara dengan Zona Kendeng. Morfologinya datar dengan sedikit undulasi. Aksesibilitas baik. Cocok untuk pertanian khususnya lahan kering. Aliran sungai dari jajaran gunung api di bagian selatannya dapat dibendung di sini, guna irigasi dan keperluan lain-lain.

Selain itu, zona ini sendiri terkenal di kalangan ilmuwan lokal dan mancanegara sebagai pusat peradaban  kuno dengan ditemukannya situs-situs arkeologi berskala dunia seperti di Sangiran, Trinil, Ngandong, dan Perning. Termasuk pula keterkaitan situs kerajaan Majapahit (Trowulan, Mojokerto) dengan kajian geologinya. Potensi ini bisa dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kawasan wisata yang menarik dan memberikan manfaat lebih kepada masyarakat sekitar.

5. Gunung api kuarter, dan

Zona ini meliputi area Gunung Wilis di sebelah barat Magetan, Gunung WIlis di sebelah timur Ponorogo, Gunung Arjuno, Gunung Bromo dan Gunung Semeru, Gunung Argopuro, dan Gunung Raung di Banyuwangi. Termasuk di antaranya adalah dataran intramontane atau di antara gunung-gunung seperti Dataran Kediri, Dataran Blitar dan Dataran Malang.

Kondisi topografi yang tinggi memungkinkan untuk mendapatkan curah hujan yang cukup tinggi, iklim yang sejuk, tanah hasil pelapukan endapan vulkanik yang sifatnya subur, dan menyerap air. Potensi bencana yang mengancam adalah letusan gunung api, gempa vulkanik, dan longsor pada lereng-lerengnya.

Potensi yang harus dikembangkan adalah perkebunan, pariwisata alam, kehutanan terutama pada daerah puncak gunung, konservasi alam, dan penambangan golongan pasir, batu, dan tras. Dan didukung oleh pembukaan jalan dari titik-titik tersebut dengan sentra-sentra ekonomi seperti pasar yang biasanya berada pada batas lekuk lereng yang berbeda.

Catatan distribusi kemiskinan pada daerah ini sangat buruk. Kantong-kantong kemiskinan banyak terdapat di Kabupaten Probolinggo dan Bondowoso yang keduanya memiliki angka kemiskinan di atas 30%. Diharapkan, telaah potensi di atas dapat dijadikan pertimbangan arah pembangunan ke depannya. Kontrasnya, pada Dataran Kediri, Malang, dan Blitar, tingkat kemiskinan rendah (10-15%).

6. Pegunungan Selatan

Merupakan daerah pegunungan dengan lembah-lembah terjal di bagian selatan Jawa Timur, membentang dari Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang selatan, dan Jember. Aksesibilitas sukar karena keadaan morfologinya yang kasar. Rawan bencana seperti longsor, gempa bumi, dan tsunami di pantai landai.

Banyak kantong-kantong miskin ada di daerah ini. Potensi pengembangan terdapat pada perkebunan, pertanian lahan kering, penambangan logam dan mineral (emas, tembaga, zeolit, bentonit) serta di lokasi-lokasi tertentu memungkinkan penambangan batugamping dan andesit, pariwisata berupa arung jeram dan gua-gua kapur. Pembangunan bendungan untuk berbagai keperluan potensial untuk dibangun.

Perusahaan saya sekarang, PT Antam Tbk, sudah berkali-kali menyusuri zona ini untuk eksplorasi mineral emas dan tembaga, namun sepertinya tidak menemukan cadangan yang signifikan. Tiga daerah sudah diriset, yaitu Blitar, Pacitan, dan Malang Selatan.


Solusi Melalui Pendekatan Geologi

Dari gelung sebab akibat (Bagan 1), maka kondisi alam/geologi dari lingkungan hidup masyarakat berperan dalam sistem penyebab kemiskinan yang rendahnya energi fisik dan pikir (IPTEK) dan sistem budaya tidak produktif. Kondisi geologi yang tidak bersahabat meliputi kurangnya sumber daya alam strategis, tidak subur, sukar air, banyak gangguan bencana alam, serta letaknya yang sukar dijangkau atau terisolasi.

Maka dari segi kendala alam tesebut adalah sangat penting untuk kalau mampu dan pelan-pelan mengubahnya sehingga bersifat mendukung untuk menaikkan daya dukungnya terhadap kehidupan.

Peran geologi di sini dapat diejawantahkan dalam bentuk pengadaan air bersih untuk penduduk baik untuk aktivitas sehari-hari sampai dengan pembangunan bendung dan bendungan di lokasi yang tepat untuk kepentingan yang lebih besar semisal irigasi, perikanan, dan bahkan PLTA. Ilmu geologi dapat juga dipraktekkan untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam baik golongan A, B, maupun C yang didukung teknologi tepat guna dan berwawasan lingkungan berdasarkan data geologi yang tepat.

Aplikasi ilmu geologi dapat pula digunakan untuk mendukung program pengentasan kemiskinan melalui peningkatan potensi lokal seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan pengolahannya yang semuanya itu didukung oleh data-data lokal termasuk data geologi. Seperti pada pemilihan lahan yang subur, lokasi pertambakan, lokasi industri dan buangan limbahnya, dll. Dan kesemua ini harus didukung oleh pembukaan jalan untuk daerah terisolir yang menghubungkan antar desa, kecamatan, kota, dan provinsi.

Industri pariwisata dapat digalakkan pada daerah yang kurang bersahabat ataupun terisolir karena kandungan kemurnian alam yang masih belum terjamah tangan-tangan manusia. Hal ini dapat menjadi nilai tambah bagi daerah-daerah yang terisolir seperti halnya Pacitan,

Segala upaya tersebut diharapkan dapat menggerakkan sentuhan-sentuhan terhadap sumber daya alam sekitarnya yang kurang bersahabat menjadi hal yang dapat memberi nilai tambah yang lebih besar yang berujung pada entasnya kemiskinan.

Daftar Pustaka

  • Van Bemmelen, R. W., 1949. The Geology of Indonesia. Martinus Nyhof, The Haque.
  • Sampurno, 1993. Kondisi Geologi dan Kemiskinan Telaah Jawa Barat; Harian Pikiran Rakyat, Bandung

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: