Catatan 14 hari di Kalimantan Timur : Provinsi Yang Salah urus! (Bagian 1)

Disalin dari blogku sebelumnya (22 Februari 2009)

Kaya Tapi Tidak Mampu Mencukupi Hidupnya Sendiri

 

View Kota Balikpapan di malam hari

Sebenarnya ini bukan untuk yang pertama kalinya saya ke Kalimantan. Sebelumnya sudah dua kali saya ke Balikpapan, untuk berlibur dan berlebaran. Yang pertama berlibur semester ganjil waktu tingkat tiga kuliah ke rumah saudara. Lalu yang kedua berlebaran di Balikpapan karena saat itu ayah dirawat di rumah sakit yang pas momentumnya dengan lebaran.

Kali ini tujuan saya ke Kalimantan (lagi-lagi ke Kalimantan Timur) adalah dalam rangka mencari nafkah alias bekerja. Saya diterima bekerja di sebuah kontraktor tambang swasta yang salah satu area garapannya adalah di Batukajang, Kabupaten Paser, yang letaknya dari Balikpapan kurang lebih 3 jam perjalanan darat termasuk menyeberangi sungai menggunakan speed boat perusahaan.

Dua hari pertama di Balikpapan, saya sempat menikmati pemandangan malam kota Balikpapan. Berbeda dengan tiga tahun sebelumnya, kali ini Balikpapan malam diselimuti kegelapan. Tidak ada cahaya lampu-lampu kota. Belum lagi pemadaman bergilir yang benar-benar terasa disini, beda dengan pemadaman bergilir di Jawa yang paling seminggu sekali, itupun tidak setiap bulan.

Sepertinya, sesuka-suka orang PLN untuk mematikan listrik. Bahkan saya pernah jengkel gara-gara ketika sedang di warnet di siang hari di hari minggu di sebuah kota namanya Tanah Grogot, yang jauhnya 1½ jam perjalanan dari mess, tiba-tiba listrik padam. Padahal saat itu adalah saat pertama saya menyentuh bandwidth internet setelah tiba di kompleks tambang Kideco di Kabupaten Paser! Gondok rasanya saat itu!

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya diperoleh jawaban bahwa itu adalah upaya untuk penghematan. Tidak jelas apakah ada hubungannya dengan kelangkaan BBM dan batubara untuk pembangkit-pembangkit listrik yang betebaran di daerah Kaltim utara. Kalau iya, maka sangat naif untuk sebuah provinsi yang dari utara hingga ke selatannya sangat petroliferous dan kaya batubara!!! Deretan oil company membariskan ribuan rig-rig minyaknya di sepanjang daratan, pantai, dan lepas pantai Kaltim, mulai dari Total, Chevron, Vico, Medco, Pertamina, dll. Belum lagi potensi batubaranya. Mulai dari perusahaan raksasa KPC, Kideco, Indominco, dll yang tiap tahunnya memproduksi puluhan juta kubik ton batubara hingga perusahaan tambang rakyat yang bermodalkan pacul dan sekop.

Sebenarnya tidak ada alasan bagi Kaltim untuk sampai kekurangan sumber energi (listrik). Kalaupun ada alasannya, apalagi kalau bukan SALAH URUS! Ibaratnya, orang kaya yang berpenyakit gula darah tinggi, yang tidak bisa (tidak boleh) makan nasi, makanan pokoknya.

Kesan yang kedua adalah tentang penyelenggaraan PON di Balikpapan dan Samarinda kemarin. Tampak di Balikpapan bangunan-bangunan megah sisa PON kemarin. Yang ada di benak saya adalah, PON adalah sebuah proyek mercusuar Pemda. Sama seperti proyek GANEFO-nya Bung Karno di tahun 63. Seakan-akan sudah tidak ada kebutuhan primer rakyatnya yang belum terpenuhi, hingga sampai hati menggunakan uang rakyat untuk mengadakan pesta olah raga tingkat nasional. Seakan-akan tidak ada lagi prioritas ekonomi selain mengadakan PON yang tentu melibatkan uang yang tidak sedikit. Belum lagi fakta (yang saya baca dari media-media jauh sebelum saya ke Kaltim saat ini) bahwa sepanjang pra-PON, Pemda Kaltim mentransfer atlit-atlit nasional untuk berlatih disini dan nantinya membela panji-panji Kaltim. Tentu ini memakan duit yang tidak kalah sedikit dibanding dengan membangun sarana dan prasarana, karena kita tahu gaji para atlit profesional sangat besar, belum termasuk pelatih beserta stafnya, yang terkadang merupakan orang asing yang dibayar dan diberi fasilitas mahal selama disini.

Hasilnya, memang tidak mengecewakan. Kaltim masuk posisi 4 besar (CMIIW). So what? Perlukah rakyat Kaltim titel itu? Titel itu hanya membanggakan pejabat teras Pemda Kaltim saja, itupun paling sesaat!!

Dan satu lagi yang saya khawatirkan, yaitu perawatan bangunan-bangunan PON tadi. Sepertinya kita sudah madfum bahwa ciri bangsa ini adalah mudah dan senang untuk membangun yang baru namun sulit sekali untuk merawatnya. Adapun nasib bangunan-bangunan tadi, kita lihat saja minimal tiga tahun ke depan .

3 comments: On Catatan 14 hari di Kalimantan Timur : Provinsi Yang Salah urus! (Bagian 1)

  • nimrot parasian hutagalung

    hahahaaa…
    saya org kaltim, balikpapan mas.
    thanks lho reviewnya ats kaltim.
    btw, masih tinggal di kaltim smp skrg (21 mei 2010)?
    selamat menikmati mati lampu tuh mas 😛

  • Saya sudah tidak di Kaltim lagi.

  • Dear Pak gayuh,
    tulisan sungguh mengugah dan terus berpikir mengepa demikian, akan tetapi negara indonesia dari dulu sampai sekarang selalu begitu, pada negara indonesia paling kaya, karena semua ada pak.

    slm

    Mangoloi Silalahi

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: