Menelaah 7 faktor keterpurukan Milan 3 tahun terakhir

Aib Milan Derby di awal musim 2009-2010
Aib Milan Derby di awal musim 2009-2010

Menengok terseoknya AC Milan di awal musim 2009-2010 ini, bayangan saya terbawa ke musim 1996-1997. Waktu itu di bawah pelatih “baru” Washington Tabarez sebelum akhirnya digantikan Arigo Sacchi, Milan finish di urutan 11 L. Ada kemiripan dengan nasib saat ini, waktu itu Milan sempat dipermalukan di kandang sendiri oleh Juventus dengan skor 1-6, sedangkan Milan di awal musim ini dipermak tetangga empat gol tanpa balas.

Setidaknya penulis menemukan enam faktor penyebab ambruknya prestasi Milan setidaknya 2 tahun terakhir, yang dimulai dari gagalnya menembus posisi 4 besar di Serie A sehingga tidak lolos ke Champions League musim 2008-2009. Efek domino dari kegagalan lolos ke UCL, keuangan Milan bermasalah dan itu yang merembet sampai sekarang hingga penjualan Kaka ke Madrid pun belum mampu menyelesaikan masalah finansial itu.

1. Ronaldinho adalah pembelian gagal, menggantungkan asa ke Ronaldinho adalah kebodohan.

Menjual Kaka dan menggantungkan asa ke pundak Ronaldinho adalah suatu kesalahan. Ronaldinho datang ke Milan sebagai seorang pesakitan. Janji-janji yang diucapkan Ronaldinho di awal musim tidak mampu diwujudkannya sendiri. Jangankan untuk menjadi as di tim, untuk berlari 90 menit saja dia tidak mampu. Jadi lupakan liukan dribble Ronaldinho untuk musim ini, namun mulai biasakanlah melihat Ronaldinho protes ke arah wasit untuk meminta pelanggaran ketika dia mulai gampang terjatuh.

2. Kebijakan pembelian pemain “second” atau “mantan bintang” (Ronaldinho, Huntelaar)

Ketika klub-klub worldclass bersaing untuk memperoleh pemain muda potensial, AC Milan justru menyibukkan diri merekrut “mantan bintang” dari klub-klub tadi, dengan harapan tim medis AC Milan yang konon terbaik di dunia itu mampu mem-tuneup pemain-pemain “second” tersebut. Deretan pemain second yang sempat berduyun-duyun ke Milan diantaranya Ronaldo, Emerson, Christian Vieri, Favalli, Cafu, dll. Satu diantara nama-nama tersebut yang tergolong “sukses” adalah David Beckham. Di Milan, Beckham sukses meraih tempat di tim utama dan mampu menyumbangkan beberapa assist dan mendongkrak penampilan Milan di beberapa laga terakhir.

Musim ini, satu lagi pembelian bekas dilakukan, yaitu Klaas Jan Huntelaar, yang tidak mendapat tempat inti di Madrid musim sebelumnya. Sebelumnya, sempat digadang-gadangkan membeli Luis Fabiano yang sedang onfire karena menjadi topskor di Kejuaraan Konfederasi Antar Benua. Milan akhirnya menjatuhkan pilihannya ke KJH, dan sampai tulisan ini published, dia belum mencetak gol!

3. Low Motivated

Tengok permainan tim Milan mulai musim 2008-2009 hingga sekarang. Anda akan menjumpai permainan tim yang monoton, lambat, dan tanpa motivasi.  Lupakan Kaka yang mampu “seorang diri” merobek-robek pertahanan MU seorang diri  atau ketika final Piala Toyota 2007. Musim ini, tidak ada lagi sosok yang mau “berkeringat seorang diri” itu. Kalau menyimak beberapa laga awal musim, sosok itu ada di kiper Storari. Penampilan apiknya yang menyebabkan Milan tidak sampai kebobolan banyak selain di Milan derby.

Performances dari Gattuso, Ambrosini, Ronaldinho, Zambrotta, dan Seedorf di awal musim sudah menunjukkan kalau mereka sudah tidak lagi menikmati permainan sepakbola. Barisan tengah Milan seakan-akan sudah macet kreativitas membongkar pertahanan tim lawan. Itulah mengapa di awal musim ini Milan mengalami krisis gol. Barisan gol getter Milan tidak mendapat suplai bola dari para midfieldernya.

Tidak heran jika terjadi penyakit low motivated, jajaran pemain Milan tidaklah terlalu banyak berubah tiap musimnya. Dari tahun 2002 hingga 2009, nama Pirlo-Gattuso-Seedorf-Ambrosini masih menghuni tim ini lapangan tengah! Perubahan hanya ada di attacking midfieldnya, yaitu dari Rui Costa ke Kaka dan sekarang ke Ronaldinho. Formasi yang sama, susunan tim yang sama selama 7 tahun, pastilah menyebabkan kejenuhan di antara mereka (apalagi para penonton yang pasti jauh lebih bosan!).

4. Regenerasi yang macet

Pasca era kuartet bek legendaries Baresi-Costacurta-Tasotti-Maldini plus duo Albertini-Donadoni, Milan tidak mampu memproduksi bibit potensial dari rahim tim akademisnya. Pemain asli didikan AC Milan terakhir yang masih eksis adalah Massimo Ambrosini dan Abbiati. Pemain muda yang eksis di AC Milan adalah hasil scouting luar Italia, itupun beberapa tidak sukses seperti duet Uruguay Viudez dan Cardaccio. Nyaris tidak ada kontribusi tim primavera untuk tim utama AC Milan mulai akhir 90-an hingga sekarang.

Harapan untuk itu ada di kepelatihan Leonardo. Storari dan Abate mulai mengakrabi tim ini AC Milan musim ini. Sebuah langkah awal yang bagus, setidaknya sebagai landasan kerangka tim di musim mendatang.

5. Tidak memberikan waktu yang cukup untuk Pato.

Beda dengan CR7 di MU. Pato, sejak kedatangannya, sudah diagung-agungkan sebagai The Next Shevchenko ataupun tumpuan as Milan. Sedangkan CR7 tidaklah langsung diberi beban berat sejak kedatangannya. Bahkan, pernah Sir Alex memberikan waktu cuti khusus di tengah musim untuk CR7 untuk sekedar mengistirahatkan fisik dan mentalnya. Itupun CR7 juga dididik di tengah lingkungan akademi MU yang sudah terbukti melahirkan bintang-bintang besar, lain dengan Milan yang ternyata terbukti akademi sepakbolanya mandul.

6. Nepotisme di tengah profesionalisme industri sepakbola Eropa

Di saat MU mendidik seorang CR7, Barcelona mengembangkan potensi Lionel Messi, Abramovic menguras dompetnya untuk membangun The New Chelsea, Madrid terus membariskan pemain termahal di dunia, di satu sisi Milan malah membuang pundi liranya untuk memelihara saudara para pemain intinya untuk dibina di tim juniornya dan terbukti mereka tidak seperti kakak-kakaknya. Sebut saja Digao (adik Kaka) dan Chedric Seedorf yang malah sudah berusia 26 tahun masih belum mampu untuk sekedar memanaskan bangku cadangan Milan.

Belum lagi, atas nama kekeluargaan, Milan masih saja memelihara barisan lokomotif tuanya, sampai masa pensiunnya. Tidak heran, banyak pemain yang sudah kepala 3 mendambakan masuk Milan. Berita terakhir, Luca Toni menyatakan ketertarikannya menghabiskan karir di Milan. Hal ini juga yang menyebabkan young guns Milan kesulitan berkembang karena jatah mereka diambil “ayah-ayah” mereka.

7. Leadership pasca Maldini : Ambrosini bukan pemain inti

Meski hal ini bukan penyebab terbesar, namun sedikit member pengaruh baik di lapangan atau di ruang ganti. Ambrosini yang diplot untuk menjadi kapten tim nyatanya musim ini tergeser posisinya oleh Flamini. Otomatis, ban kapten tidak “permanen” di lengan satu orang.

Hanya ada satu solusi untuk penyakit kronis Milan saat ini, yaitu MEMBELI TIM BARU KESELURUHAN! Bukan membangun seperti Arsenal atau membeli dan membangun tim seperti Barcelona dan Inter yang di samping membeli superstar, mereka mampu melahirkan superstar dari rahim sendiri.  Dan dari mana asal rekening untuk itu semua? Apa menunggu Berlusconi menjual Milan ke taipan Timur Tengah? Penulis tidak berharap banyak, karena menurut saya Serie A tidaklah menjual seperti Liga Inggris bahkan Liga Spanyol.

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: