SELAMAT DATANG DI ABAD CHINA

Tidak diragukan lagi, dalam beberapa masa ke depan dunia ini akan memasuki Abad China, dimana China akan tampil sebagai raksasa ekonomi dan secara otomatis akan menjadi adikuasa (entah tunggal atau jamak nantinya) menggantikan peranan AS sekarang ini. Pertumbuhan ekonomi China yang sangat luar biasa lah yang mengatrol China untuk memperoleh kedudukan itu. Kekuatan ekonomi itu pula yang menarik gerbong negara-negara lain nantinya dalam suatu pertumbuhan regional. Kekuatan ekonomi itu pula yang akan menyeret milyaran dollar modal, ribuan pemodal dan industriawan memasuki negeri Tirai Bambu. Secara umum, tidak ada hambatan fundamental bagi China untuk terus tumbuh dalam jangka pendek ini. Segala aral yang datangnya dari AS (yang paling iri terhadap China) hanya akan membukakan pintu keluar lainnya yang malah akan mengembangkan China dalam suatu status quo yang membebaskan China dari ketergantungan pada dunia yang mengalami kekacauan ini. Contoh kasus misalnya, ketika AS masih sibuk mengkritisi catatancatatan kelam HAM di China dan melakukan embargo, China malah asyik bermesraan dengan negara-negara Eropa maju untuk bersama-sama memainkan kartu kerja sama ekonomi meliputi ekspor impor, pembangunan puluhan PLTN, pengembangan software bebas, hingga militer! Bukannya tidak sengaja, negara-negara Eropa Barat seperti Prancis, Inggris, dan Jerman, menilai China adalah mitra yang lebih berkomitmen terhadap stabilitas dunia daripada AS yang semakin sering melanggar norma-norma internasional dengan kekerasannya. Semuanya itu malah memuluskan jalan China menuju adikuasa kelak.
Saya cukupkan sampai sini pembahasan tentang apa dan mengapa Abad China (silakan baca China Inc.–nya Ted Fishman). Disini saya hanya akan memfokuskan pada “what do/should/can we do”. Kata “we” disini saya maksudkan untuk generasi muda yang kelak akan mengambil alih generasi sebelumnya untuk mengarungi kejamnya dunia dan yang seharusnya paling difokuskan pada abad mendatang di China. Perhatian mereka sekarang sekarang dialihkan secara cerdas oleh hiburan dan berita tentang pengadilan para selebriti dan kecanduan akan tayangan-tayangan reality show di tv.

Saatnya Belajar Bahasa China

Kenikmatan kue China tentu harus turut kita nikmati dan berperan di dalamnya, bukan sekedar melihat dari kejauhan. Untuk itu, modal dasarnya adalah penguasaan bahasa China.
Jika beberapa abad silam termasuk sekarang ini adalah abad Inggris (abad XVII s/d awal abad XX) dan Abad Amerika (medio abad XX s/d sekarang) dimana penggunaan bahasa Inggris adalah hal yang mutlak, maka dalam hitungan beberapa tahun mendatang, tentu bahasa China adalah sebuah keniscayaan bagi semua kalangan, terutama generasi muda sekarang yang kelak akan memegang peranan, baik itu sebagai (pinjam klasifikasi Kiyosaki) pengusaha (B), pegawai (E), pemilik modal (I), ataupun pekerja lepas (S).
Apalagi, dalam jangka panjang China akan menghadapi persoalan ketidakseimbangan demografi, yaitu banyak penduduk usia lanjut dan semakin sedikit usia produktif (Michael Witt, Kompas 20 Okt 2007). Ini terjadi karena pembatasan jumlah anak yang dilakukan Pemerintah China dalam rangka mengontrol populasinya. Di lain pihak, ribuan korporasi multinasional menuntut peningkatan nilai tambah dan kualifikasi dari sumber daya manusia terus menerus dan kuantitas kebutuhan itu terus melonjak seiring terus masuknya investasi asing ke dalam China. Sektor ekonomi China juga akan semakin haus akan masuknya modal-modal asing. Posisi kuat China (adikuasa) nantinya akan menjadikan kebergantungan negara-negara lain terhadapnya, seperti kebergantungan negara-negara dunia saat ini terhadap AS (termasuk Indonesia), baik secara ekonomi maupun politik.
Dalam sektor privat, seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa nantinya akan terjadi aliran modal industri masuk ke negeri China. Tidak kita sebagai pengusaha-pengusaha nantinya tidak tertarik untuk juga ikut mengalirkan modal ke negeri dengan biaya buruh yang sangat murah itu ditambah urusan birokrasi yang super lancar tanpa hambatan?
Atau yang tertarik di kuadran E, sangat tepat jika skill bahasa China mulai dibina dari sekarang, sebelum ribuan korporat nantinya ikut terseret magnet China dan memindahkan usahanya ke negeri China. Atau korporat anda ikut memainkan peranan dengan korporat-korporat China.
Pun di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Memang tahapan China sekarang adalah sebagai pembajak. Tapi ingat, Jepang dulunya berangkat sebagai bangsa pembajak (pasca PD I) sebelum sekarang menjadi bangsa paling maju di bidang teknologi di dunia dan ratusan hak paten di bidang teknologi diterbitkan setiap harinya. Sangat tidak mustahil, China pun melangkah melalui jejak yang sama dengan Jepang. Bahkan, data dari Organization for Economic Development and Trade telah mencatat bahwa sejak 2004 China adalah eksportir terbesar barang teknologi tinggi di dunia.
Kembali ke bahasa China, FYI, bahasa China sendiri memiliki tiga tingkatan, yaitu China klasik, China modern, dan China pers. Cina klasik merupakan tata bahasa baku yang biasa terdapat dalam buku, puisi, dan karya-karya sastra lainnya. Bahasa Cina klasik memiliki tingkatan lebih tinggi. Sementara, Cina Pers merupakan perpaduan antara tata bahasa yang digunakan dalam Cina Klasik, dan Cina Modern. Bahasa Cina Pers dapat ditemui dalam surat kabar, maupun majalah berbahasa Cina. Sedangkan Cina Modern merupakan bahasa percakapan sehari-hari yang terus mengalami perkembangan dari satu generasi ke generasi lainnya.
Meski manfaatnya sangat kaya, namun mempelajari bahasa China tidaklah mudah. Selain harus memahami susunan kata, intonasi, grammar, juga penulisan huruf-hurufnya yang “njelimet” itu.
So, have you been ready for learning Chinese?

One comment: On SELAMAT DATANG DI ABAD CHINA

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: