Menelusuri Jejak Gempa ke Semburan Lumpur

Dalam waktu enam bulan, muncul fenomena baru di bumi Indonesia. Semburan Lumpur namanya. Setelah kejadian menghebohkan di Sidoarjo, sekarang muncul hal yang kurang lebih serupa di Barito dan Bojonegoro. Satu lagi sebenarnya, yaitu fenomena gas panas di Majalengka.
Dengan mengesampingkan Barito, tiga titik (Sidoarjo, Bojonegoro, dan Majalengka) berada dalam satu garis lurus barat-timur. Dalam geologi, ketiganya terhubung di dalam modern back arc atau berada di belakang barisan busur vulkanik resen.
Penulis menduga, berbagai peristiwa itu bermuasal dari aktivitas tektonik yang tecermin dari rentetan gempa berskala kecil sampai besar yang dimulai dari gempa Aceh (Desember 2004) sampai gempa Yogya. Rentetan gempa yang mengakibatkan bergerak masuknya lempeng Hindia-Australia ke bawah lempeng Asia ini mengaktivasi aktivitas vulkanisme mulai dari Sumatera sampai dengan Jawa (untuk sementara ini) beberapa waktu lalu.
Rentetan gempa ini juga mereaktivasi rekahan-rekahan yang telah ada (frictional sliding). Berdasarkan Sibson, 1982, terbukti nyata bahwa migrasi fluida secara luas berasosiasi dengan region patahan aktif.
Atau dibalik.
Aktivitas vulkanisme ini memanaskan air-air bawah permukaan yang berada di dalam pori-pori tubuh batuan, sehingga menaikkan tekanan porinya. Akibatnya, kekuatan batuan berkurang dan pecah (terekahkan).
Kedua mekanisme ini, menjadi jalan bagi air (panas) itu keluar ke permukaan dengan tekanan tinggi dari dalam bumi.
Contoh yang menarik adalah gempa di California pada 1952 yaitu pergerakan sesar naik mengiri. Gempa tersebut diikuti oleh efusi 107 m3 air di sekitar jejak patahan lebih dari periode 2 bulan selama fasa aftershock (masa setelah tegasan), dimana sebagian besar pelepasan air tersebut juga mengeluarkan batuan batolit kristalin dari hanging wall sesar tersebut.

CMIIW

Gayuh N. Dwi Putranto
Selasa, 28 Nopember 2006, 21.49

Silakan berkomentar :

Sliding Sidebar

Geosphere

%d bloggers like this: